Sebab Kelak Segalanya Menjadi Penting

2 Sep 2010 In: Inspirasi, Kultum

thefather(Catatan Ramadhan 1431H #9)

Panas terik. Badai pasir gurun sahara tanah Persia masih menyisakan kepulan debu yang membutakan mata.

Dua orang lelaki terseok, merangkak, beringsut setapak demi setapak. Jauh Barat. Jauh Timur. Yang terlihat hanyalah hamparan pasir kerontang hampir tanpa tepi. Kedua orang itu nyaris bagai dua titik hitam dalam lautan kelabu. Bibir keduanya seperti pohon meranggas, pecah-pecah, dan belepotan pasir. Tenggorokan kering dan tersekat. Tetes air terakhir dari bekal yang dibawa telah habis. Bahkan botolnya telah tertinggal berpuluh langkah di belakang.

Laki-laki yang lebih besar diantaranya kini jatuh di atas lutut, kemudian rebah tertelungkup. Kedua kakinya seperti terbenam ke dalam pasir hingga perut. Dadanya sesak. Nafasnya tersengal, satu demi satu. Ia tak berdaya lagi untuk melangkah.

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 80 times

Seorang Malaikat di Lantai 16

27 Aug 2010 In: Inspirasi, Suri-Tauladan

(Catatan Ramadhan 1431H #8)

Ceramah shubuh pagi ini telah usai. Jamaah bergegas membubarkan diri. Saya pun turun dari lantai dua, mencari-cari sandal saya, mengenakannya, dan melangkah pergi.

Orang-orang semburat. Ada yang mengarah ke gang sempit samping masjid. Ada yang menyusuri jalan kampung lebih ke dalam lagi. Ada pula yang berjalan ke arah jalan raya Jendral S. Parman Cempaka Putih. Dan sudah berkali shubuh saya datang ke masjid ini, kiranya hanya saya sendiri sajalah yang datang dari lingkungan apartemen elit itu dan masuk ke masjid kampung ini.

Saya tersentak. Buru-buru membaca berkali istighfar. Betapa hanya dalam sekejap bersit kesombongan itu muncul seperti kilat di hati ini. Plass!! Sedetik saja. Tetapi syetan telah memanfaatkannya begitu rupa.

Saya pun menghentikan langkah. Sejenak tertegun. Menunduk dalam-dalam. Betapa rapuhnya diri ini! Betapa benteng yang telah saya bangun dalam 15 hari selama ramadhan ini runtuh hanya dalam sekali tepuk tangan syetan. Roboh dalam sekali tiupan syetan dalam dada ini.

Dengan gontai saya melanjutkan langkah. Menuju pintu gerbang samping apartemen yang dibuka sejak sahur. Dan … saya sekelebat melihat sosok seorang jamaah shubuh yang juga melewati pintu itu dalam jarak lima belas langkah di depan saya.

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 478 times

Pelajaran Sabar Nomer Empat

26 Aug 2010 In: Inspirasi, Suri-Tauladan

ceramah(Catatan Ramadhan 1431H #7)

Setelah makan sahur penuh kolesterol — setidaknya demikianlah komentar istri tercinta saat membangunkan saya via telepon begitu mengetahui saya menyebut “bebek goreng” yang saya siapkan sejak semalam sebagai menu sahur — saya keluar dari sangkar raksasa bernama apartemen ini untuk menuju masjid kampung yang terletak persis di sampingnya. Shalat shubuh berjamaah seperti mendapatkan dorongan energi ekstra yang luar biasa pada bulan ramadhan begini meski harus menembus jalan yang cukup jauh dan gelap di kota bernama Jakarta ini. Tetapi itu semua tak sebanding seinchi pun dengan Abdullah bin Umi Maktum, yang sekalipun buta, jauh rumahnya, serta tak memiliki penuntun rela tertatih-tatih menuju masjid begitu mendengar adzan.

Setelah shalat, sekitar jam 5 pagi, tampil seorang mubaligh mengisi kuliah shubuh. Tetapi tidak seperti penceramah hari-hari kemarin, mubaligh kali ini tampak terlalu banyak mengulang kata-kata, banyak menceritakan pengalaman dirinya sendiri, dan tutur kata serta cara penyampaian yang kurang menarik. Setidaknya begitulah penilaian saya.

Saya coba bertahan barang sebentar, siapa tahu hanya pembukaannya saja yang kurang menarik. Tetapi lima menit, sepuluh menit berlalu, namun belum ada pembicaraannya yang bisa menarik minat saya. Ibaratnya cerpen begitu, pembukaan ceramah beliau tidak “eye catching”. Padahal, menurut saya, ceramah — sebagaimana cerpen — itu seperti pacuan kuda. Start dan endingnya adalah bagian yang paling menentukan.

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 177 times

Mereka Berbuka Puasa di Gereja

25 Aug 2010 In: Inspirasi

(Catatan Ramadhan 1431H #6)

Ratusan warga mengantri berdesakan di balik pintu gerbang itu. Tua-muda, laki-perempuan. Bahkan mbah-mbah. Juga anak-anak.

Lalu, ketika waktunya tiba, pintu gerbang itu pun dibuka. Mereka pun berhamburan, berdesakan, berhimbitan, dan berlarian ke arah pembagian ta’jil buka puasa itu berlangsung. Tak sedikit anak-anak kecil terjepit di antara jeruji pintu gerbang, meringis, menahan gencetan tubuh-tubuh lain yang lebih besar dari mereka. Meski kemudian tawa riang tersungging di bibir setelah melewati pintu gerbang itu menuju antrian panjang.

Ya. Mereka mendapatkan ta’jil buka puasa dari gereja Santo Paulus di sebuah tempat di Nganjuk. Menu buka puasa gratis: nasi bungkus.

Saya tak bisa melupakan wajah-wajah itu, meski dari layar kaca. Antrian berdesakan itu. Senyum-senyum itu setelah menerima pembagian nasi bungkus. Ya, benar. Toleransi beragama. Saya tahu. Berbagi. Saling menghormati. Saling membantu sesama. Atas nama kemanusiaan. It’s OK. Tak ada yang salah.

Hanya saya merenung.

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 204 times

Tiga Persamaan Puasa dan Sabar

19 Aug 2010 In: Kultum

istiqlal(Catatan Ramadhan 1431H #5)

Saya merayakan HUT ke-65 RI kali ini di Masjid Istiqlal, Jakarta. Bukan upacara bendera, melainkan mengikuti shalat tarawih di masjid bersejarah itu, 17 Agustus kemarin. Bagaimanapun saya sudah bolak-balik ke Jakarta, tetapi belum sekalipun menapakkan kaki di masjid yang diklaim terbesar se-Asia Tenggara itu. Bukan termasuk dosa besar sih, tetapi kurang afdhol kiranya jika tidak menyempatkan diri bershalat di masjid ini. Setidaknya sekali seumur hidup.

Inilah salah satu masjid yang petugasnya tampak formal (pakai nametag segala), berjas berdasi, berjubah, dan para imam shalatnya hafizh Al-Qur’an. Selesai shalat Isya’, sebelum tarawih, didahului dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qori’ah pemenang musabaqah tilawatil Quran (MTQ) tingkat internasional serta taushiyah (siraman ruhani).

Uniknya pula, tarawih di masjid ini dilakukan dalam dua kloter. Kloter pertama 8 rakaat plus witir 3 rakaat. Setelah itu, tarawih dilanjutkan untuk kloter kedua dengan imam shalat berbeda, untuk menggenapi 23 rakaat. Jamaah bebas memilih mau mengikuti kloter kedua atau pulang setelah witir.

Dan inilah oleh-oleh dari perayaan HUT ke-65 RI versi saya itu. Semoga termasuk ballighu ‘anni walau ayah. Sampaikan apa-apa dariku meski hanya seayat, kata Nabi saw.

Semoga bermanfaat.

***

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 821 times

Hadiah Terindah Untuk Ibu Ima

18 Aug 2010 In: Aceminda, Inspirasi, Keluarga Asmara

uncle dan ibu ima(Catatan Ramadhan 1431H #4)

Siapakah orang yang paling romantis di dunia?

Buat saya, orang yang paling romantis dan benar-benar saya kenal dalam arti pernah berjumpa dengannya adalah laki-laki itu. Umurnya tak lagi muda. Tak kurang dari 64-65 tahun. Rambutnya sudah memutih. Bersebelas cucu. Tetapi begitu pertama kali tahu bagaimana ia menyambut istrinya di telepon, saya seketika menobatkannya sebagai laki-laki paling romantis di dunia yang pernah saya kenal.

Ya. Laki-laki itu adalah Uncle M. Uncle Manshor H. Sukaemi.

“Halo, sayang! Bagaimana kabarmu siang ini?” begitulah mula pertama saya mendengarnya menerima telepon dari Ibu Ima, istri tercintanya, nun jauh di Singapura sana. “Kamu sedang ada dimana saat ini, sayang?”

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 270 times

Harga Mahal Sebuah Pilihan

14 Aug 2010 In: Kultum, Suri-Tauladan

muallaf(Catatan Ramadhan 1431H #3)

Jam satu siang.

Jum’atan baru saja usai. Segelas jus guava dan buku “Nights in Rodanthe” karya Nicholas Spark –masih dalam bungkus plastik– di tangan. Teman duduk perjalanan pulang ini.

Jakarta seperti terbakar di tiap sudutnya siang itu. Saya harus mengejar pesawat jam tiga sore lewat seperempat take-off dari Soekarno-Hatta. Dua jam dari kawasan Kuningan ke bandara internasional itu sekarang terasa telah membuat terburu. Tak lagi cukup satu jam seperti dulu. Ibarat penyakit, kemacetan Jakarta sudah naik ke stadium yang lebih akut dan celakanya nyaris tanpa terapi.

Setelah agak susah mendapatkan taksi kosong, akhirnya saya mendapatkan sebuah Blue Bird. Taksi langganan. Saya membuka pintu, menaruh tas di jok belakang, duduk, lalu menyebut tujuan. Anak muda, sopir taksi itu, mengangguk sopan. Rasuna Said, Casablanca, dan Sudirman tampak mulai macet. Maklum, hari Jumat. Hari orang-orang pulang kampung, meninggalkan pikuk Jakarta untuk sementara, seperti saya.

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 560 times

Kamar Berjarak Sejauh Bintang

12 Aug 2010 In: Kultum

melihat bintang(Catatan Ramadhan 1431H #2)

Suatu hari di tahun 1609, Galileo mengarahkan teleskopnya pertama kali ke langit. Ketika melihat bulan, ia dapat melihat permukaan benda langit itu yang dipenuhi kawah-kawah. Ketika melihat planet Jupiter, ia melihat benda langit berbentuk bulat dan dikelilingi 4 buah bulan. Namun ketika mengarahkan teleskopnya ke bintang-gemintang, astronom kelahiran Pisa (Toscana, Italia) itu tidak dapat melihat bagaimana bentuknya. Ia hanya bisa melihat titik-titik cahaya, sama seperti bila ia lihat dengan mata telanjang. Hanya bedanya, bintang itu terlihat lebih terang dan jumlahnya lebih banyak saat menggunakan teleskop.

Melihat kenyataan itulah, Galileo lalu menyimpulkan bahwa bintang merupakan benda langit yang sangat jauh tanpa bisa menyebutkan berapa jaraknya.

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 422 times

Sebab Nikmat Itu Juga Dihisab

11 Aug 2010 In: Kultum

(Catatan Ramadhan 1431H #1)

Pada suatu siang (atau malam hari) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahnya. Beliau lalu berpapasan dengan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a., yang juga keluar rumah pada saat itu. Beliau lalu bertanya, “Apa yang menyebabkan kalian berdua keluar dari rumah pada saat-saat seperti ini?”

Abu Bakar dan Umar menjawab, “Rasa lapar, wahai Rasulullah!”

Beliau bersabda, “Adapun aku, demi diriku yang ada di tangan-Nya, juga benar-benar keluar seperti yang menyebabkan kalian berdua keluar.” Lalu pintanya kepada kedua sahabat itu, “Sekarang bangkitlah!”

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 420 times

Gundul, Bekam, dan Ramadhan

9 Aug 2010 In: Breaking News, Inspirasi

selamat berpuasaMenyambut datangnya ramadhan dengan hal-hal yang terlalu biasa rasanya sudah saya lakukan hampir sepanjang hidup ini. Karena itu, pada ramadhan 1431 H kali ini, saya melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda dari biasanya. Mungkin buat sebagian Anda hal ini begitu lumrah dan tidak tampak luar biasa. Tak apalah. Tapi buat saya sungguh luar biasa.

Saya gundul 1/2 cm! Ini terhitung gundul saya yang kedua (setidaknya sepengetahuan saya). Kalau gundul yang pertama karena terpaksa dalam rangkaian Bakti Kampus (OPSPEK) pada 1990 bertahun lalu, maka kali ini dengan sepenuh kesadaran. Bahkan tidak hanya itu, saya juga membotaki puncak kepala saya berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 3cm.

Read the rest of this entry »

Bookmark and Share
Viewed by visitors for: 216 times

Bahtiar HS

Engineer, pembaca, penulis, pencinta ilmu. Suami dari seorang istri dan Ayah dari 6 orang malaikat kecil.


Jajak Pendapat

Sorry, there are no polls available at the moment.

Ikuti posting terbaru

Tulis email Anda:

delivered by FeedBurner

Hari ini

Kalender Posting

September 2010
M T W T F S S
« Aug    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Bahtiar Bergerak


Internet Sehat

Blog Bahtiar

Flickr Bahtiar

39_sitou38_sicakep337_sicakep236_sicakep35_naskun34_beer33_anker32_kbgapi31_anker

Statistics

Sejak 17 Sep 2008

Chatting