rumah berbagi para pencari hikmah
Judul Buku: Pengantin Dunia Akhirat
Penulis: Ahmad Syarifuddin
Penerbit: Tiga Satu Tiga, Sukoharjo
Terbit: Sya’ban 1429 H / Agustus 2008
Tebal: +280 hal; 20,5 cm
Telah begitu banyak buku tentang pernikahan ditulis dan dibukukan. Sebut saja: Indahnya Pernikahan Dini, Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Agar Cinta Bersemi Indah, Disebabkan Oleh Cinta Kupercayakan Rumahku Padamu, Memasuki Pernikahan Agung, Mencapai Pernikahan Barakah, Saatnya Untuk Menikah. Itu semua karya Fauzil Adhim saja. Belum karya penulis-penulis lain, seperti: 150 Masalah Nikah dan Keluarga (KH. Miftah Faridl), 40 Cara Mencapai Keluarga Bahagia (Muhammad Al-Munajjid), Istri Salehah (Prof. Mutawalli Asy-sya’rawi), Sekuntum Cinta untuk Istriku (Komaruddin Ibnu Hikam), Sulitnya Berumah Tangga (Muhammad Utsman Khasyt), Apa Bahayanya Menikah dengan Wanita Non Muslim (Abdul Mutho’al al-Jabry), Menjadi Kepala Rumah Tangga yang Sukses (Dr. Hussein Syahatah), Seorang Ibu Sebuah Dunia Berjuta Cinta (Amatullah Shafiyyah), Bisikan Malam Pengantin (Abdul Ghalib Isa), Istri Rasulullah Contoh dan Teladan (Amru Yusuf), Keluarga Muslim dan Tantangannya (Hussein Muhammad Yusuf), Nabi, Suami Teladan (Nasy’at al-Masri), Jika Suami Istri Berselisih: Bagaimana Mengatasinya (Dr. Shaleh Ghanim), Memilih Jodoh & Tata Cara Meminang dalam Islam (Hussein M. Yusuf), Kisah-Kisah Teladan untuk Keluarga (Dr. Mulyanto). Dan masih banyak lagi, termasuk yang berbahasa gaul dan remaja.
Namun demikian, kenyataan tersebut tidak menyurutkan para penulis melahirkan karya tentang pernikahan. Seorang diantaranya adalah Ahmad Syarifuddin yang telah dikenal sebagai penulis banyak buku religi seperti: Mendidik Anak Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Quran (best seller), Menuju Puasa Sehat Fisik Psikis, Bershalawat Niscaya Selamat, Rahasia Tangan Kanan, dan lainnya. Santri Ma’had Nurul Haramain Malang yang sekarang tinggal di Solo ini kini menulis: Pengantin Dunia Akhirat (PDA).
Tidak seperti buku-buku tentang pernikahan yang lain, Ust. Ahmad saya lihat fokus pada upaya beliau menekankan penjelasan bukunya pada tafsir atas QS. Az-Zukhruf: 70-71, bahwa para suami akan masuk surga bersama-sama dengan istri (istri)-nya yang kini menjadi pasangan pengantin di dunia.
Allah berfirman:
|
“Dan masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri kamu, kamu akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan tiada tara.”
Ayat ini memberikan gambaran bahwa jelas-jelas ada pasangan suami istri di dunia ini yang kelak akan bersama-sama kembali di dalam surga. Jadi, pertautan hati dan kebersamaan suami istri itu tidak saja berlangsung semasa di dunia, melainkan hingga ke akhirat yang kekal abadi (hal 12). Dimana kebersamaan ini tidak bisa dikalahkan dengan kebersamaan dengan bidadari sebagaimana telah dijanjikan. Inilah “kebahagiaan tiada tara” itu.
Karena itu, perpisahan suami istri di akhirat kelak (suami di surga, istri di neraka atau sebaliknya) digambarkan Al-Qur’an sebagai kerugian yang nyata (khusranul mubin). Mereka saling berpisah dan tidak pernah bertemu lagi selamanya (hal 16) sebagaimana pendapat Ibnu Katsir atas ayat QS. Az-Zumar: 15.
Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri sendiri dan keluarganya pada Hari Kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
Keinginan berumah tangga secara kekal jelas diungkapkan oleh para sahabat. Abu Bakar ra. misalnya berpesan kepada Asma’, putrinya, yang menjadi istri dari sahabat Zubair bin Awwam. “Wahai puteriku, bersabarlah (atas perangai kasar suamimu), karena jika seorang wanita memiliki suami yang shaleh, kemudian suaminya mati dan dia tidak menikah setelah itu, maka Allah akan menyatukan keduanya di surga.”
Demikian juga sahabat Abu Darda’, Umar bin Khattab, Salma binti Jabir, Ummu Salamah, Hudzaifah, Imran bin Haththan, dan sebagainya. Tetapi tentunya keinginan atau harapan untuk berkumpul kembali di surga itu dibarengi dengan mujahadah dan perjuangan keras untuk mencapainya.
Bagaimana rumah tangga di dunia bisa lestari hingga ke akhirat? Bagaimana agar pasangan pengantin dunia langgeng hingga ke akhirat? Hal inilah yang mendorong Ust. Ahmad menulis bukunya yang kesekian ini.
***
Dimulai dengan membahas tradisi pernikahan yang dikaitkan antara orientasi dunia dan akhirat, buku PDA dalam bab ini boleh dibilang masih sama dengan buku-buku pernikahan lainnya. Bab kedualah yang kemudian menjadi inti dari buku ini, dengan judul yang sama dengan judul bukunya. Puncak bab kedua adalah subbab mengenai “Menggapai Kebersamaan Kembali di Surga” sebagai penjelasan dari fokus di atas. Karena sudah dipersatukan kembali, maka tidak ada lagi klasifikasi antara suami dan istri, tidak ada jarak, tidak ada perbedaan derajat (level) surga diantara keduanya. Bersama-sama dalam arti yang utuh. Satu kelas. Satu level. Satu derajat. Mungkin istilah orang Jawa “swarga nunut” menemukan maknanya di sini.
Bahkan kebersamaan itu tidak hanya suami istri, tetapi juga anak keturunannya. Said bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa jika seorang masuk surga, ia akan menanyakan tentang orang tuanya dan anak keturunannya. Ketika disampaikan bahwa mereka tidak pada derajat yang sama dengannya, maka orang tersebut meminta dipersatukan. Allah kemudian memerintahkan untuk menyertakan mereka dengan orang itu. (HR. Thabarani) (hal 211).
Buku ini ditutup dengan berbagai kisah pengantin dunia akhirat sepanjang zaman yang patut dicontoh, yang ini kelihatannya menjadi ciri khas Ust. Ahmad dalam berbagai bukunya.
Nah, bagi Anda yang ingin menjadi pengantin dunia akhirat, pas kiranya jika membaca buku ini. Semoga kita bisa mengambil ibrah darinya.
***
Nurudin
October 9th, 2008 at 11:45 am
Alhamdulillah, beruntung pak Bahtiar menampilkan buku ini, jadi salah satu impian saya ternyata bukanlah mengada-ada. Saya ingin menjadi penganti dunia akhirat Pak! saya daftar dari sekarang. =))
[Reply]
eagle
October 28th, 2008 at 2:00 pm
Apakah masuk surga bisa rombongan? rasa-rasanya tidak deh, karena masing2 harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan di bumi ini. Saya rasa yang ada adalah bekas suami dan bekas istri karena belum tentu ke 2nya bisa mencapai tingkat yang sama di surga. tnx
[Reply]
bahtiarhs
October 28th, 2008 at 2:42 pm
@eagle: ya, saya sepakat bahwa masing2 akan mempertanggungjawabkan apa yang tlah dilakukan di dunia. Dan mereka mendapat ganjaran sesuai dengan amalnya. Tetapi ketika suami dan istri masuk surga, entah surga level mana masing2, redaksi ayat ini menyebut “kamu dan istri-istrimu” masuklah ke dalam surga.
Setidaknya demikianlah pendapat penulis buku ini, tanpa menafikan adanya perbedaan penafsiran lain. Makasih tanggapannya. Wallahu a’lam.
[Reply]
mary
February 2nd, 2009 at 1:20 pm
Apakah klo kita dibangkitkan di akhirat kelak dalam usia kita saat meninggal dunia?dan kita saling mengenal di sana?
[Reply]
bahtiarhs Reply:
March 30th, 2009 at 9:10 am
Menurut yang pernah saya baca, semoga tidak salah, dalam sebuah hadits panjang riyawat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra dikatakan: ”
“… Setelah itu bumi akan terbelah. Lalu muncullah kamu sekalian dari perut bumi itu dan aku (Rasulullah saw.) adalah yang pertama kali muncul. Ketika itu kamu sekalian keluar dalam keadaan muda belia seperti berumur tigapuluh tahun dan pembicaraan kamu pada hari itu dalam bahasa Suryani. Kamu bergegas menuju kepada Tuhanmu dengan berbondong-bondong mengikuti suara yang menyeru, dan orang-orang kafir akan berkata: ‘Inilah hari yang penuh kesulitan (yaitu hari kebangkitan)’. Dan Kami (Allah) mengumpulkan mereka, tiada seorangpun yang Kami tinggalkan. …” (HR. Bukhari dan Muslim)
Wallahu a’lam.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
March 30th, 2009 at 3:30 pm
Apakah kita saling mengenal nanti di akhirat? Ya, tentu saja. Bukankah Allah telah berfirman dalam Q.S. Ar-Ra’d: 23,
“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;”
Bapak, isteri, anak, cucu adalah orang-orang yang kita kenal di dunia, bukan?
[Reply]
Wulan
March 29th, 2009 at 4:43 pm
Sy percaya bahwa kekuatan cinta,doa suami istri kepada ALLAH akan mempersatukan mereka kembali,itu juga yang memotivasi sy agar trus berdoa spy bs di satukan lagi dgn almarhum suami
[Reply]
bahtiarhs Reply:
March 30th, 2009 at 3:34 pm
Tiada lain saya berdoa, semoga Anda termasuk isteri yang shalihah, Mbak Wulan, yang akan bersama-sama dengan suami Anda kelak di syurga-Nya. Amin.
[Reply]
bimo hs
August 7th, 2009 at 3:03 pm
apa kabar Pak Bahtiar
baca tulisan ini jadi inget kotbah di radio jaman sma, tentang anak yang protes ke malaikat tidak akan masuk surga sebelum orang tuanya masuk bersama dia, hmm mungkin kasusnya sama dengan suami menunggu istri ato sebaliknya.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
August 11th, 2009 at 11:23 am
alhamdulillah, sehat selalu mas bimo. ilustrasinya pas banget. mkn begitu juga dengan suami istri. btw, kapan undangannya neh?
[Reply]