rumah berbagi para pencari hikmah
Ketika surfing untuk menulis bookografi untuk buku saya “Merah di Jenin”, saya menemukan teman nyentrik ini. Hadi Soesanto. Ia pun salah satu penulis di Merah di Jenin tersebut. Saya bertemu darat dengannya pertama kali dulu saat Silaturahmi Nasional (SILNAS) FLP pertama di Jakarta. Waktu itu ia sudah menjadi mahasiswa matematika di Universiteit Twente (UT) Belanda dan kebetulan ada jadwal pulang ke tanah air. Mampirlah dia ke acara silaturahmi organisasi penulis terbesar di tanah air itu.
Orangnya — tak seperti bidang yang digelutinya, matematika—ternyata luwes dan humoris. Mungkin matematika telah mengajarinya sedemikian rupa bahwa ada yang lebih baik ketimbang menjadi “killer”. Apalagi ia suka bersastra dan sering mengutip pendapat Sofia Vasilyevna Kovalevskaya (1850-1891), matematikawan plus penyair Rusia perumus teorema Cauchy-Kovalevsky, bahwa “It is impossible to be a mathematician without being a poet in soul.” Ditambah dengan rambut jegraknya –yang kaku ke depan seperti bulu landak – justru semakin menghilangkan kesan kekakuannya dan menambah sisi-sisi humorisnya. (Tapi kini rambutnya sudah disisir menyamping kelihatannya ~red)
Surfing itu menghasilkan link ke liputan Koran Tempo dengan ahli matematika itu. Pertama dari blog Mas Pramudya, presiden Republog Indonesia, lantas tersambung ke blogger-blogger lain serta diskusi di milis-milis. Membaca liputan wawancara itu menjadikan saya (baru) tahu bahwa setelah lulus PhD dari Universiteit Twente, Belanda, di bawah umur 30 tahun, Dr. Hadi Soesanto, M.Sc, Ph.D melanjutkan studi postdoctoralnya ke Massachusetts University, Amherts, di Amerika. Ia mendapat kesempatan sebagai visiting assistant professorship di sana selama 3 tahun. Sekarang dia mengajar di University of Nottingham, Inggris.
Yang menarik, sejak SD ternyata ia memang sudah suka dengan angka-angka. Ia suka mengamati bagaimana angka-angka bisa dimainkan dengan operasi-operasi yang saling berhubungan. Di SMP, ia mulai menyadari bahwa dasar dari fenomena alam di sekitar kita bisa dirumuskan melalui matematika. Ketika sesuatu sudah dituliskan ke dalam persamaan dan rumus, maka sesuatu itu berada di tangan kita yang bisa kita main-mainkan. Begitu simpulnya.
Dan puncak pencerahannya terjadi ketika Pak Mudji Raharto, ahli astronomi ITB, berceramah tentang bagaimana alam ini sebenarnya bisa dirumuskan dalam formulasi matematika. Dan saat itulah ia berkesimpulan, “Tuhan pastilah ahli matematika!” Sejak itulah ia melihat dunia ini seperti tersusun dari angka-angka.
Ketika ditanya tentang hubungan matematika dengan sastra, ia menjawab, bahwa hubungan keduanya sangatlah dekat. Untuk bisa menikmati keindahan matematika, tidak saja diperlukan logika, tetapi juga perasaan, seperti seni. Bahkan Einstein berkata, “Pure mathematics is, in its way, the poetry of logical ideas.”
Sehingga kurang lebih matematikawan pada dasarnya adalah penyair juga. Einstein, Sofia Kovalevskaya, serta Karl Weierstrass — yang berkata, “It is true that a mathematician who is not also something of a poet will never be a perfect mathematician.” — adalah contoh sedikit dari orang-orang hebat itu.
Namun, ia sangat menyayangkan terjauhkannya anak-anak muda dari dunia sains saat ini. Mereka terlalu banyak dijejali tayangan infotainment, seakan menjadi artis adalah satu-satunya cara terkenal dan sukses. Padahal, dunia sains yang sunyi itu juga menawarkan gaya selebritasnya sendiri. Buku A Beautiful Mind salah satunya. Karangan Sylvia Nasar ini melambungkan nama matematikawan John Nash Jr.
Setelah Agus Purwanto dengan Ayat-Ayat Semestanya, Hadi Soesanto dengan matematikanya adalah fenomena orang-orang yang menekuni dan mumpuni dalam bidang sains yang harusnya mendapatkan perhatian lebih besar. Juga menjadi teladan. Karena sains adalah kunci peradaban dunia.
***
Gambar diambil dari MP mas Hadi di http//rasahgelo.multiply.com
pramudyaputrautama
September 12th, 2008 at 9:05 am
Dear Mas Bachtiar, thx udah maen ke blog saya, thx juga info sumber tulisan tersebut. Saya dapet tulisan tersebut dari milis angkatan SMA saya jadi saya kurang tahu sumber aslinya.
salam kenal dan matur nuwun
[Reply]
admin
September 12th, 2008 at 9:15 am
#mas pramudya:
Salam kenal juga mas. Thx juga sudah maen ke weblog sederhana saya. Saya browsing dapat pertama dari blog penjenengan. Lantas saya refer ke Koran Tempo, dan memang ada artikel wawancara tersebut.
Kebetulan pernah ketemu Hadi di Jakarta beberapa tahun lalu. Setelah itu, lama nggak kontak. Seingat saya, bersama Kang Abik, saya diajak ke walimahan beliau di Surabaya. Tapi sudah lupa kapan.
Bahtiar
[Reply]
Nurudin
September 17th, 2008 at 11:51 am
” Setelah Agus Purwanto dengan Ayat-Ayat Semestanya, Hadi Soesanto dengan matematikanya ”
maka giliran Bahtiar Hs dengan Jejak Jejak Surga Sang Nabi nya. hehehe………
[Reply]