Penghujung 1994.

Saya dan Pak Khoirul Huda sedang ada di Batam. Memberi training aplikasi Market Share Analysis di Sempati Air Kantor Cabang Batam (kini maskapai penerbangan itu tinggal nama). Training sudah selesai. Jadwal pulang ke Jawa masih tersisa satu dua hari. Tidak ada pengisian acara kali ini yang lebih menarik ketimbang keliling kota. Apalagi ini adalah kedatangan kami pertama kali di kota “Singapura” Indonesia ini.

Sedan Proton Wira produksi Malaysia sudah kami sewa dari tempat persewaan mobil. Hanya berbekal KTP dan sejumlah biaya sewa yang cukup murah.

“Lho, kok cuma memberi jaminan KTP?” tanya saya heran.

“Ya. Gampang, kan?” Guide kami, temannya Pak Khoirul, menimpali. “Emang siapa yang mau bawa kabur mobil ini keluar dari Batam? Ke manapun kita bawa kabur sedan ini, selama masih di Batam, pasti akan dapat ditemukan.”

Kami manggut-manggut. Benar juga. Kabarnya pungutan pajak barang keluar Batam cukup mahal. Seseorang pasti berpikir ribuan kali untuk membawa barang, seperti sedan, keluar Batam.

“Ayo kita berangkat!” seru guide kami. “Hari semakin siang.”

Tiba-tiba Pak Khoirul memegangi perutnya dengan kedua tangannya. Sementara bibirnya seperti menahan perih yang tak tertahankan. “Perutku sakit sekali,” katanya sambil meringis. “Aku nggak kuat kalau ikut keliling.”

Wah, tidak enak jadinya kalau beliau tidak ikut serta. Aku memutar otak mencari jalan keluar. Ya, ada yang perlu aku coba. Belajar dari seorang teman.

“Mana tangan kiri sampean, Pak,” pinta saya pada Pak Khoirul setelah masuk mobil. Sedan itu kini mengarah ke tengah kota. Saya segera memijat daerah diantara ibu jari dan jari telunjuknya. Juga daerah sekitarnya. Pak Khoirul berkali-kali mengaduh ketika pijatan saya mengeras di tempat tersebut.

“Kalau dipijat sakit, itulah tanda organ di tempat itu juga sakit, Pak,” kata saya menirukan “teori” pijat yang saya terima. “Daerah yang saya pijat ini berhubungan dengan lambung.” Sambil berkata demikian sebenarnya dalam hati saya tidak juga yakin dengan teori itu. 

Mobil terus melaju di jalan-jalan kota Batam. Saya terus memijit. Sesekali Pak Khoirul mengaduh. Tetapi tak berapa lama kemudian, beliau buka suara sambil keheranan — tetapi nadanya senang. “Sekarang rasa sakitnya sudah hilang! Bagaimana bisa?”

Alhamdulillah. Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Akhirnya sedan melaju ke luar kota. Empat penjuru Batam sempat kami kunjungi hari itu dan Pak Khoirul tidak tampak meringis karena ulah perutnya.

***

Kami bertiga (saya, ibu, dan Nia, adik saya paling kecil) hari itu berangkat ke Solo naik bis umum. Ponorogo - Solo bisa memakan waktu 3-4 jam perjalanan. Sudah menjadi langganan ibuku jika naik angkutan umum seperti bis ini, begitu duduk di kursi, langsung mual-mual. Ketika bis berjalan, beliau sudah siap tak plastik untuk tempat muntah. 

Uniknya, untuk menguranginya beliau sering memakai kaca mata. Kaca mata apa saja.

Tetapi kali ini, saya coba terapkan ilmu pijat itu. Ibu saya suruh melepas kaca mata mainannya. Tangan kiri beliau, pada daerah antara ibu jari dan telunjuk, serta sekitarnya, saya pijat-pijat sejak duduk di kursi. Lalu saya ajak ngobrol sepanjang perjalanan. Madiun, Ngawi, Sragen terlampaui. Tidak nampak beliau mual atau meringis menahan sakit perut. Juga tidak pucat.

Alhamdulillah, hingga bis tiba di terminal Tirtonadi Solo, ibu sehat-sehat saja. Tidak mual, tidak muntah. Tas plastik yang disiapkan masih utuh. Begitu bis berhenti dan penumpang turun, Nia, adikku yang duduk di samping ibu langsung … byorrr! Justru dia yang mabuk dan lepas dari pengamatanku.

***

Hari ini saya mendapatkan email dari ibu Ita Rachmat, salah seorang pengurus Komite Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Tentang kesehatan, yang sering kita abaikan. Salah satunya, yang menarik buat saya, adalah sebuah gambar telapak tangan. Di telapak itu digambarkan organ-organ tubuh manusia yang letaknya tertata menyebar. Letak-letak organ itu menggambarkan lokasi atau zona refleksi di telapak tangan.

Prof. Hembing menulis dalam bukunya “10 Menit Menuju Sehat dengan Terapi Refleksi Telapak Tangan” (Gramedia, Jakarta, April 2002) yang saya pinjam dari ibunya anak-anak, bahwa sebenarnya zona refleksi itu terdapat di seluruh tubuh. Tetapi lazimnya terdapat di kaki dan tangan, terutama pada telapaknya. Zona refleksi ini merupakan titik-titik pusat urat syaraf, dimana titik-titik itu berkaitan erat dengan organ-organ tubuh tertentu (hal 3).

Apabila daerah itu dipijat, sirkulasi darah pada organ yang bersangkutan akan menjadi lancar. Jika sirkulasi darah lancar, tubuh pun akan lebih sehat. 

Saya pun memerhatikan gambar dari Ibu Ita itu. Setiap organ digambarkan bukan sebagai bulatan-bulatan seperti pada kebanyakan gambar zona refleksi telapak tangan yang biasa saya temui, melainkan gambar organ sesungguhnya. Tentu hal ini lebih mempermudah untuk menghapalkannya. Saya lantas memerhatikan posisi zona lambung (stomach). Dan posisinya pas dengan titik pijat yang selama ini saya lakukan untuk kasus sakit perut (mual, muntah, melilit, sebah [jw], dsb).  Kalau pada buku Prof. Hembing di atas, posisi lambung agak ke tengah, di bawah jari tengah dan telunjuk. 

Gambar telapak ini lantas mengingatkan saya pada dua kejadian di atas. Dan juga pengalaman terapi yang tak terhitung lagi berapa kali telah saya lakukan pada istri dan anak-anak saya untuk kasus perut mereka yang bermasalah. Dan hasilnya, Alhamdulillah, sering berhasil menyembuhkan sakitnya dengan cara sesimple itu.

Melihat gambar itu ada satu kesimpulan: jika diperhatikan tata letak organ di telapak tangan ternyata hampir persis dengan tata letak organ itu yang sebenarnya pada tubuh. Mata-telinga di bagian atas. Jantung-liver-paru ada di tengah. Dan di bawah ada usus-urinary-organ-organ bawah tubuh manusia lainnya. Hal yang sama juga saya dapati pada zona refleksi di telapak kaki. Juga, dalam bidang ilmu yang lain, tata letak organ yang ditunjukkan melalui ilmu Iridologi juga menunjukkan tata letak yang teratur itu.

Maha besar Allah yang telah menciptakan makhluknya ini dengan begitu sempurnanya. Bahkan untuk mengatasi problem di badannya, Allah sudah melengkapinya dengan zona refleksi yang bisa dipijat, lengkap dengan tata letak zona refleksi setiap organ yang subhanallah susunannya. Sesuai dengan aslinya, sehingga mudah dihapal.

Benarlah adanya jika IA telah menciptakan manusia ini dengan bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim, Q.S. At-Tin: 4). Hanya saja, kita, manusialah yang tidak pandai bersyukur.

***

Bookmark and Share