Kemarin Sabtu, 27 September 2008, saya nonton Film Laskar Pelangi (LP) bersama keluarga di Studio Twenty-One Royal Plaza Surabaya pukul 12.00 WIB. Lumayan, dapat 7 seat @ Rp. 20.000,- hasil nitip ngantri teman kantor saya, April (makasih ya?), sejak pagi.

Dilahirkan oleh tangan-tangan dingin di dunia perfilman Indonesia, seperti Mira Lesmana dengan Miles Productions-nya dan Riri Riza yang kebagian sutradara, saya sangat berharap mendapatkan tontonan yang disamping mengasyikkan juga sarat dengan hikmah yang bisa dipetik setelah orang melihat film ini. Penulis skenarionya pun Salman Aristo, yang juga penulis skenario film AAC. Setelah AAC, saya berharap LP menjadi tonggak berikut bangkitnya perfilman Indonesia dengan hadirnya film-film yang lebih berkualitas dan mendidik. 

Film ini diadaptasi dari novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang meledak di pasaran dan dibaca serta kemudian mengubah banyak orang.

Adegan dibuka dengan suasana hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah Gantong Belitung.  Suasana menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.

Hari itu, Harun (Jeffry Yanuar), seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke-10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.

Lima tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke-10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Diantara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.

Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kehilangan sosok yang mereka cintai. Pak Harfan, Sang Kepala Sekolah. Lintang, Sang Juara Kelas. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?

Film ini dipenuhi kisah tentang tantangan kalangan pinggiran, kisah penuh haru tentang perjuangan hidup menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia.**

***

Penonton yang sudah membaca novelnya, seperti saya, pasti akan membuka kembali ingatan jalinan cerita di novelnya untuk kemudian membandingkan dengan filmnya.

Setelah selesai melihat film berdurasi sekitar dua jam ini, ada empat hal yang menggelitik saya.

Pertama, soal tokoh. Ada tokoh-tokoh “baru” yang dihadirkan di dalam film ini yang tidak ada di novelnya. Ada Pak Mahmud (Tora Sudiro), guru di SD PN Timah. Lalu Pak Bakrie (Teuku Rifnu Wikana), guru di sekolah SD Muhammadiyah Gantong selain Bu Muslimah. Pak Zulkarnaen (Slamet Raharjo), yang begitu peduli pada SD reyot itu. Dan tokoh-tokoh (kurang sentral) lainnya, seperti Bu Harfan (Jajang C. Noor). Ada Mathias Muchus, ayah Ikal. Rieke “Oneng” yang menjadi ibu Ikal. Alex Komang yang ayah Lintang. Sampai-sampai istri saya bilang, ini film “bertabur bintang.” Yang hebatnya mereka semua “rela” berperan meski hanya minim dalam film ini.

Adanya tokoh “baru” pasti membuat plot berubah. Dari sini saya sudah tidak berharap jalinan cerita film ini sama dengan di novelnya.

Kedua, plot jelas berubah. Mengadaptasi novel setebal +534 halaman ke dalam bentuk visual bergerak berdurasi 2 jam memang tidak mudah. Pasti ada yang dikorbankan. Plot salah satunya. Mungkin ada yang terpotong, di-shoot sekilas untuk memenuhi rasa “masuk akal” jalinan cerita, menyisipkan plot baru, atau bahkan ada adegan yang tidak ditampilkan sama sekali. Salah satu yang tidak ditampilkan, dan sebenarnya saya harapkan bakal ada di dalam film ini, adalah ketika Bu Muslimah tetap datang ke sekolah berpayung daun pisang saat hujan mengguyur deras. Kelas bocor. Tetapi anak-anak LP masih setia menunggu di kelas itu. Adegan inilah yang menjadi sebab Andrea menulis novelnya untuk didedikasikan pada pahlawannya itu.

Banyak adegan yang juga diambil sepotong-sepotong. Kelihatannya Riri Riza tak ingin meninggalkan semua, juga jelas tak bisa mengakomodasi semua. Tentang hilangnya Flo, pertemuan dengan Tuk Bayan Tula (yang wajahnya tak pernah diperlihatkan), pertemuan Ikal dengan A Ling. Saya yakin pilihannya ini justru membuat penonton bingung. Apalagi jika mereka belum pernah membaca novel itu sebelumnya. 

Perubahan plot atau tambahan plot baru juga tak terhindarkan. Yang paling membuat saya agak sewot adalah ditukarnya hadiah A Ling kepada Ikal. Padahal hadiah buku Seandainya Mereka Bisa Bicara itulah yang telah memperkenalkan Ikal pada kekuatan mimpi dan keinginannya untuk mencari sebuah tempat yang disebut di buku itu: Edensor. Edensor sendiri kemudian menjadi judul buku tetraloginya ketiga dengan judul sama. Ini menunjukkan betapa pentingnya tempat itu dalam jalinan utuh cerita Andrea. Jika ini justru ditukar dengan sekedar “kotak kaleng bergambar Eiffel”, di satu sisi mengorbankan misi mulia novel (akan kekuatan mimpi, cita-cita) dan mendegradasikan simbol “suci” sebuah “buku” sebagai pembangun peradaban menjadi hanya sebuah “kaleng”, juga di sisi lain, menutup peluang sekuel Laskar Pelangi dibuat, khususnya untuk episode Edensor; kecuali plotnya akan terombak besar-besaran.

Plot yang juga diubah, dan perlu saya sorot di sini, adalah berubahnya posisi sekolah PN Timah yang di dalam novel tampak jelas pada posisi berseberangan dalam pandangan Andrea, menjadi seolah tidak ada apa-apa dengannya. Ini kentara pada saat cerdas cermat dimana Pak Mahmud yang guru PN Timah malah mendukung SD Muhammadiyah untuk mengoreksi “kesalahan” juri. Padahal jelas pada novelnya, Sang Drs dari PN Timahlah yang ngotot “menyerang” Ikal dkk. Apakah ini karena PN Timah menjadi salah satu sponsor pembuatan film ini? He he

Ketiga, dan ini sangat penting, yakni tentang karakterisasi pemain. Banyaknya pemain yang terlibat menjadikan karakter masing-masing tokoh tidak tergali dengan baik. Yang paling kentara tentu saja Bu Muslimah, Pak Harfan, Ikal, Lintang, Mahar. Yang lain, seperti Harun, Syahdan, Kucai, Trapani, A Kiong, Borek, Sahara, Flo tidak tereksplor dengan baik. Mereka lantas seperti penggenap saja. Padahal karakter masing-masing anak LP sangat mendominasi jalinan cerita pada novelnya. 

Keempat, muara dari itu semua, timbul pertanyaan sebenarnya yang ingin diangkat oleh film ini apa sih? Tokoh Ikal sepertinya tidak menjadi sentral cerita ini. Padahal, di tangan dialah cerita ini mengalir dan berfokus. Justru bergeser pada perjuangan Pak Harfan dan Bu Muslimah dalam mempertahankan SD reyot itu, perjuangan anak pesisir bernama Lintang yang kalau ke sekolah harus mengayuh sepeda dan melewati buaya. Ikal hanya kebagian kisah cintanya yang amat singkat dengan A Ling. Kalaupun ada yang menunjukkan cita-cita, hanyalah kaleng bergambar Eiffel, yang akhirnya membuat Ikal sekolah hingga ke Sorbonne.

Karena itu, keajaiban mimpi, marjinalisasi masyarakat kaum pesisir, dan ironi pendidikan sebagaimana disampaikan Riri Riza, menurut saya kurang dipenuhi film ini.

***

Namun, lepas dari itu semua, dari sisi teknis sinematografi, film ini layak mendapat apreasiasi. Seting Belitung yang eksotik, pengambilan adegan-adegan yang apik, mampu menampilkan hasil gambar yang menawan. Ditambah dengan tokoh-tokoh Laskar Pelangi yang asli anak-anak Belitung menjadikan adegan mereka natural, termasuk dalam bertutur.

Secara garis besar film LP patut ditonton; bahkan wajib, di tengah kondisi perfilman nasional kita yang didominasi film berbau mistik dan komedi ngocol bin porno.

 

Bagi Anda yang belum menonton film apik ini bisa melihat previewnya di youtube.com di atas.

Selamat menonton. Semoga setelah ini akan muncul film-film dalam negeri yang semakin berkualitas, menginspirasi dan mendidik.

***

Keterangan.
Poster dan (**) sinopsis diambil dari blog www.laskarpelangithemovie.blogspot.com.

Bookmark and Share