Ahad kemarin, 12 Oktober, saya berkesempatan mengikuti silaturahmi keluarga besar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan IIDI (Ikatan Istri Dokter Indonesia) Cabang Surabaya di FK Unair. Cuman sayangnya tidak ada ISDI (Ikatan Suami Dokter Indonesia), sehingga kehadiran saya sebenarnya bisa dibilang ilegal. He he he. Mungkin karena ISDI sudah dipakai oleh organisasi yang lain, sehingga para suami dari dokter tidak bisa mendirikan organisasi itu (just kidding!)

Beruntung acara silaturahmi ini selain menghadirkan Cak Kartolo cs dengan jula-julinya, juga menghadirkan Pak Agus Mustofa, penulis buku Tasawuf Modern yang sering mendatangkan pro dan kontra di masyarakat. Betapa tidak? Judulnya saja sudah mengundang perdebatan karena keluar dari pakem pemahaman keagamaan yang selama ini mungkin telah kita terima (taken for granted). Misalnya: Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Ternyata Adam Dilahirkan, Tidak ada Azab Kubur?, dan sebagainya.

***

Pak Agus pagi itu membicarakan tentang 3 unsur manusia kaitannya dengan puasa. Beliau mengatakan, ketiga unsur penyusun sosok manusia adalah: badan, jiwa, dan ruh. Badan adalah lapisan diri kita yang bersifat material. Karenanya ia terlihat, berotot, berdaging, berdarah, bertulang, punya struktur biologis. Sedangkan jiwa merupakan sesuatu yang abstrak, tak terlihat, tak terdengar, tak teraba, dan bahkan tak bisa digambarkan.

Tidak seperti Ibnu Qayyim yang menyamakan antara jiwa dan ruh (dalam bukunya terjemahan Indonesia berjudul Roh), Pak Agus membedakannya. Kata ‘jiwa’ dalam al-Qur’an diwakili dengan kata ‘an-nafs‘, meskipun juga bisa diartikan ‘diri’. Setidaknya ada 31 kali  ’an-nafs‘ yang berarti ‘jiwa’ disebut di dalam al-Qur’an. Pada QS. Az-Zumar: 42 misalnya Allah berfirman, yang artinya:

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.

Dari ayat ini, kata beliau, jiwa adalah ’sesuatu’ yang bisa ada dan tidak ada, bisa keluar dan masuk pada seorang manusia ketika dia masih hidup. Jiwa bersifat energial. Dari ayat lain, QS. An-Nahl: 78, Al-A’raf: 172, Yusuf: 22, diperoleh informasi bahwa jiwa itu sesuatu di dalam diri kita yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan kualitas seiring dengan perkembangan kedewasaan kita. Lebih tegas Allah berfirman di dalam QS. Asy-Syam: 7-10,

dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. 

Di sini ditegaskan oleh Allah bahwa jiwa mengalami penyempurnaan. Dalam masa penyempurnaan itu, jiwa diberikan kemampuan menangkap ilmu dan hikmah, mana jalan takwa dan mana jalan yang fasik. Jiwa bisa mengarah kepada kebaikan atau keburukan. Istilah dalam ayat tersebut: manusia bisa membersihkan jiwanya (man zakkaaha) sehingga beruntung atau mengotorinya (man dassaaha) sehingga merugi.

Dengan dua komponen unsur ini ternyata manusia belumlah cukup. Karena keduanya adalah benda ‘mati.’ Itulah mengapa Allah menghadirkan ruh. Dari informasi yang sedikit tentang ruh di dalam al-Qur’an, salah satunya ruh digambarkan sebagai sesuatu yang menyebabkan munculnya kehidupan pada benda-benda yang mati, sekaligus ‘menularkan’ sifat-sifat ketuhanan kepadanya. Dalam QS. As-Sajdah:9 Allah berfirman, yang artinya:

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Dalam bahasa yang hampir sama, Allah berfirman pula dalam QS. Al-Hijr: 29, yang artinya:

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

Kata ganti ‘Ku’ dalam kalimat ‘min ruuhiy‘ menunjukkan betapa dekatnya ruh itu dengan Allah swt. Tidak seperti jiwa yang bisa memilih kebaikan atau keburukan, ruh bersifat selalu baik dan berkualitas tinggi. Dialah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan dalam komponen penyusun manusia. Karena itulah, manusia bisa melihat, mendengar, berkasih sayang, sabar, dan sebagaimana sifat-sifat Tuhan. Karena itu, jiwalah sosok yang nanti akan bertanggungjawab atas segala perbuatan manusia, bukan ruh.

Jika digambarkan sebagai lapisan, maka ruh itu dibungkus oleh jiwa yang energial dan badan yang material. Jiwa dan badan karenanya menjadi penghalang (hijab) bagi ruh. Seorang yang tidak bisa membuka hijab material dan energial ini tidak akan bisa memunculkan sifat-sifat ketuhanan yang dimiliki ruh. 

Nah, itulah mengapa Allah mensyariatkan puasa di bulan ramadhan. Puasa pada hakikatnya adalah upaya membuka hijab material dan energial itu dengan cara mengharamkan yang halal, tidak saja pada tataran material seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri, tetapi juga energial (jiwa) seperti bersabar, suka berderma, suka menolong, jujur, tidak menggunjing, dan sebagainya. Itulah mengapa Rasulullah menyatakan sia-sia puasa seseorang kalau hanya mendapat lapar dan dahaganya saja; karena yang terbuka hanyalah hijab material. Sedangkan hijab jiwanya tidak, sehingga sifat-sifat ketuhanan dari ruh kurang maksimal terpancarkan. 

Oleh karena itu, jika sekian kali kita telah berpuasa tetapi perilaku kita tidak pernah berubah, barangkali memang hijab badan dan jiwa kita kurang maksimal bisa terbuka sehingga sifat-sifat ketuhanan kita (sebagai representasi dari ruh) tidak bebas dan memancar dari diri kita. Jika ini yang terjadi, tidak selayaknya kita meneriakkan pekik kemenangan di akhir ramadhan, tidak sepantasnya kita mengaku dan merasa telah kembali kepada fitrah kesucian, karena sifat-sifat ketuhanan kita masih terbelenggu hijab jiwa atau malah badan kita. 

Jika ini yang terjadi, perubahan perilaku individu dan pada gilirannya perubahan kualitas bangsa tidak akan pernah terjadi menuju yang lebih baik.

***

Keterangan.
Foto pak Agus Mustofa didapat dari website www.padmapress.com.
Referensi lebih lanjut, baca buku Agus Mustofa berjudul “Menyelam ke Samudera Jiwa & Ruh“, PADMA Press, Sidoarjo, 2005.

Bookmark and Share