Buku apakah yang paling saya tunggu terbitnya sekarang ini? Maryamah Karpov punya Andrea Hirata? Hmmm… sorry, bukan! Atau Hexalogi terusan trilogi Supernova Dewi “Dee” Lestari? Bukan juga! Menyerah? Ketahuilah, buku yang paling saya tunggu sekarang ini adalah: “Memoar Ayahku”!

“Memoar Ayahku” bukanlah judul buku itu. Tetapi, buku itu memang benar-benar memoar Ayah saya!

Ceritanya bermula pada silaturahmi lebaran kemarin, di ruang tamu rumah orang tua saya, di Ponorogo. Di sinilah saya dilahirkan, dibesarkan, dan kemudian mudik setiap lebaran.

Seperti biasa, Ayah saya selalu punya simpanan cerita untuk dibicarakan. Di dalam memori otaknya seperti tersimpan kantong ajaib Doraemon yang tidak pernah habis stok kisahnya. Ada saja yang diomongkan. Bahkan cerita-cerita masa mudanya dulu masih bisa diceritakannya dengan sangat detil. Salah satu kisahnya yang kemudian menjadi favorit saya — karena diceritakan berulang kali pada saya, adalah tentang sapi yang mengamuk di kandang rumahnya suatu kali. (Saya ingin menceritakannya pada posting yang lain. Tunggu saja. InsyaAllah.)

Beliau kali ini bercerita bahwa sejak kecil suka membawa catatan dan alat tulis setiap kali jum’atan atau menghadiri pengajian. Kebiasaan itu bahkan dimulainya sejak kecil, sebelum menikah dengan ibu saya, untuk mencatat hal-hal tentang agama yang sangat penting untuk diketahuinya. Beliau menyadari sebagai orang yang dilahirkan dari keluarga biasa, bodo (jawa: bodoh), jauh dari didikan agama, juga lingkungan yang tidak mendukung, kesempatan mendapatkan pendidikan agama sangatlah minim. Beliau kemudian belajar dengan caranya sendiri itu: dengan mendengar dan mencatat.

Tetapi cerita tentang itu saya sudah tahu sejak lama, karena pernah diceritakan beliau berbilang kali. Tetapi saya surprised ketika kemudian beliau mengaku sudah menulis tentang berbagai peristiwa sejarah hidupnya, senang dan susahnya, tawa dan tangisnya, sejak lama. “Sakiki wis bek sak buku,” katanya. Sekarang, pada usia ke-65 tahun ini, tulisan beliau sudah bek (jawa: penuh) satu buku! Ha?

Saya setengah tidak percaya. Tetapi beliau meyakinkan saya kalau tulisan itu bakal dibukanya suatu saat. Ketika waktunya dirasa tepat. Saya yakin, buku itu bakal menjadi buku memoar paling menguras air mata saya, sekaligus tawa mengenang masa-masa lalu kami sekeluarga. Saya sudah bisa membayangkan isinya meski mungkin hanya sebagiannya. Karena, saya menjadi bagian dari cerita pada memoar itu. 

Jadi, inilah buku yang paling saya tunggu tanggal launching-nya. Meski mungkin ia tidak akan pernah dicetak siapa-siapa, melainkan hanya satu buku saja, yang kertasnya sudah coklat usang dimakan usia, tetapi ia asli tulisan tangan Ayah saya.

***

Keterangan.
Gambar: istimewa, jepretan kamera saat Ayah saya (kiri, berpakaian beskap ala Madura) mendampingi saya menuju tempat acara ijab-qabul pernikahan saya, 9 Juli 2000, di Bangkalan.

Bookmark and Share