When the children cry,
let them know we try/
’cause when the children fight,
let them know ain’t right/
When the children pray,
let them know the way/
’cause when the children sing,
then they knew world begin
~ When the Children Cry, White Lion

 

Membaca opini Jawa Pos hari ini, Jum’at, 17 Oktober 2008, tentang Membangun Hospitality Intelligence, tulisan Audifax Prasetya dari SMART Center for Human Research & Psychological Development Surabaya, mengingatkan saya pada posting sebelumnya tentang sudut pandang (POV). Bahwa diperlukan lebih dari sekedar sikap arif untuk memandang keberbedaan orang lain. Atau dalam bahasa Audifax, kemampuan memahami diri sejati dan memahami atau mengakui keliyanan (other), sesuatu atau seseorang di luar dirinya. Inilah yang ia sebut sebagai hospitality intelligence.

Dalam hospitality intelligence, individu hanya “menyapa dan tersenyum” serta merasakan apa yang berbeda antara dirinya dan liyan, namun tidak berusaha meletakkan perbedaan itu dalam konstruksi dunianya sendiri. Artinya, tidak menjadikan orang lain sebagai alter-ego-nya, yang jika tidak mau (atau tidak bisa) lantas seketika dianggap musuh.

Saya sepakat dengannya dan juga sependapat jika sikap ini hendaknya dikembangkan semenjak usia anak-anak. Audifax memberi ancar-ancar di bawah 12 tahun. Lebih dini lebih baik.

Namun dalam tataran praktis bagaimana mengajarkan hospitality intelligence, saya kok agak kurang sependapat. Ia mengatakan, cara mengembangkannya misalnya dengan tak semata mengajarkan benar-salah kepada anak menurut paradigma berpikir tertentu. Dalam hal perbedaan pemikiran sih OK. That’s no problem. Tetapi Audifax menghendaki sampai pada tataran yang amat fundamental. Dalam berdoa misalnya. Doa hendaknya diajarkan kepada anak-anak sebagai sebuah ketulusan keinginan dan bukan persoalan siapa paling benar menurut ajaran agamanya. Ia lalu mencontohkan apa yang diajarkan di sebuah sekolah di Jimbaran, yang mengajak muridnya yang plural merasakan atau bahkan mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya dari umat yang berbeda. Tujuannya bukan untuk memahami atau membandingkan, tetapi merasakan keberadaan antara.

Menurut pendapat saya, ada keberbedaan yang tidak bisa dipertukarkan atau dicampuradukkan oleh dan dengan orang lain. Katakanlah hal-hal yang fundamental seperti keyakinan beragama. Karena keyakinan beragama adalah urusan benar dan salah. Agama saya adalah yang benar, itu adalah doktrin yang menurut saya harus ditanamkan. Itulah mengapa berdasar Al-Qur’an, muslim meyakini bahwa sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah swt. adalah Islam. 

Karena itu, hospitality intelligence menjadi kurang tepat, menurut saya, jika hal-hal yang terlarang bagi suatu umat dipercampurkan dengan umat lain, semata-mata untuk menghormati keliyanan mereka. Justru hospitality intelligence harus didudukkan pada porsinya, bahwa ada sesuatu pada diri orang lain yang harus kita pahami sebagai sebuah keberbedaan yang tidak bisa diusik, apalagi dicampuri. Asal itu tidak destruktif dan mengancam liyan seharusnya tidak menjadi masalah. 

Saya bisa memaklumi Audifax, karena beliau membuka wacana ini dengan mengambil contoh kasus Bom Bali. Dari berbagai komentar dan wawancara dengan Imam Samudra maupun Amrozi memang menjadikan Islam ini sepertinya ‘menakutkan.’ Tetapi itu tidak bisa lantas menjadi justifikasi bahwa untuk menghindarkan bangsa ini ke depan dari aksi-aksi semacam itu, hospitality intelligence dikembangkan dengan tanpa batas.

Di dalam keberbedaan boleh jadi ada kesamaan-kesamaannya. Tetapi bagaimanapun, yang pasti di dalam keberbedaan adalah perbedaan itu sendiri. Maksud saya, pastilah tetap ada yang berbeda. Bukankah demikian adanya? 

***

Keterangan.
Gambar amrozi didapat dari adhiyan318.files.wordpress.com. Dan kelihatannya banyak gambar semacam ini di internet.
keliyanan=dari kata liyan, wong liya, orang lain (jawa)

Bookmark and Share