Mulai kali ini, saya akan mencoba menyampaikan saripati artikel menarik di majalah Al-Mu’tashim yang saya gawangi. Majalah dzikir dan pikir tersebut terbit setiap bulan. Tentu tidak semuanya, melainkan hanya satu-dua artikel yang menurut hemat saya perlu di-share kepada Anda semua.

Untuk kali ini, saya memulainya dengan saripati dari kolom Khutbah Jum’at edisi Oktober 2008 yang diasuh oleh guru saya, abina Ust. Ihya Ulumiddin, khadim ma’had Nurul Haromain, Pujon, Malang. 

Idul Fitri, tulis beliau, telah dimaknai secara salah kaprah oleh banyak orang. Jika merujuk makna asli dalam bahasa Arab, Fitri atau al-Fithri (huruf _tho’_ bukan _ta’_) bermakna makan dan minum. Di kalangan pondok pesantren, untuk menyebut makan pagi alias sarapan digunakan al-futhur atau cukup futhur. Sedangkan ‘id memang bermakna kembali. Sehingga ‘idul fithri seharusnya dimaknai ‘kembali makan dan minum‘ sebagaimana sebelum puasa ramadhan.

Sementara di masyarakat kita, ‘idul fithri sering dimaknai ‘kembali kepada kesucian’. Bahwa setelah kita purna berpuasa selama sebulan penuh, dosa-dosa kita habis terkikis, suci tak bernoda, seperti bayi-bayi yang baru dilahirkan ibunya. Padahal, bahasa Arab tidak pernah mengartikan al-fithri sebagai kesucian. Kecuali jika yang dimaksudkan adalah al-fithroh, yang memang bermakna ’suci’ atau ‘kesucian.’ Rupanya di sinilah letak kesalahkaprahan itu. Apalagi ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, fitri diartikan sebagai ‘berhubungan dengan fitrah (sifat asal)’ yang tidak lain adalah suci atau kesucian. Nampaknya ada campur aduk antara fithri dan fithroh. Coba cek ke KBBI Daring

Dengan demikian, jika yang dimaksud adalah kembali ke kesucian, maka mestinya kita berucap ‘Selamat Idul Fitroh’ dan bukan ‘Selamat Idul Fitri’ :).

Ust. Ihya lalu mengajak kita meninjau makna di atas dari sisi ilmu tasawuf. Secara tasawuf, kita seyogyanya tidak membangga-banggakan amal ibadah setelah melakukannya. Pada dasarnya, ibadah itu adalah wujud ketundukan, ketawadhuan, dan kerendahan diri kita kepada Allah swt. Karena itu, kita hanya layak berharap kiranya amal ibadah kita diterima-Nya. Bukan seolah membanggakan diri bahwa kita telah kembali kepada kesucian. Bahwa segala dosa-dosa vertikal kita selama puasa telah dilebur habis dan ketika silaturahmi saat lebaran, dosa-dosa horisontal kita dihapuskan dengan saling meminta maaf. Habis.

Padahal amal ibadah kita diterima atau tidak tergantung pada Allah. Bukankah ketika berbuka kita diajarkan berdoa, … watsabatal ajru, insyaAllah. Dan semoga tetap pahala ini, kalau Allah menghendaki. Juga ketika bersilaturahmi kita dianjurkan berucap, taqobbalallohu minna waminkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kami (selama ramadhan) dan juga amal ibadah Anda. Semuanya berupa pengharapan. Bahkan para sahabat mengucapkan doa ini selama hampir setahun, karena takut jangan-jangan puasa selama sebulan kemarin tidak diterima oleh Allah swt. 

Sungguh berbeda memang keadaan di Makkah-Madinah dengan Indonesia ini. Ketika Ramadhan datang, mereka begitu bergembira. Semarak sebulan penuh. Semalam suntuk ramai dengan aktivitas. Tetapi begitu 1 Syawal, langsung sepi sekali. Sunyi. Tak ada kunjung-mengunjungi. Tidak ada silaturahmi. Suasananya susah. Sedih. Karena harus berpisah dengan ramadhan yang telah pergi.

Di Indonesia? Begitu lebaran tiba, kita bergembira ria. Baju baru. Mobil baru. Antri mudik dimana-mana. Kunjung-mengunjungi sanak-saudara. Dan kita mendengung-dengungkan ‘kembali kepada kesucian.’ Padahal yang sebenarnya terjadi, kita kembali kepada hari-hari biasa. Kita kembali makan dan minum seperti sebelum ramadhan. Dan ramadhan yang penuh maghfirah telah pergi. Harusnya kita sedih.

***

Apakah acara maaf-maafan, halal bihalal, istihlal atau apapun namanya, baik langsung atau via SMS atau media lainnya yang kita lakukan dalam bulan Syawal karenanya menjadi salah?

Ya tentu tidak. Tetapi meminta maaf tidak harus menunggu lebaran tiba, bukan? Bisa kapan saja, dan utamanya segera begitu melakukan kesalahan. Lagi pula maaf-maafan di saat lebaran kita ini biasanya berhenti pada tataran simbolik saja. Pokoknya mohon maaf lahir batin. Padahal hakekatnya meminta maaf tentu dengan menyebutkan kesalahannya apa, sehingga mendapatkan halal dari yang bersangkutan. Masalahnya jika kesalahan adami itu tidak clear di dunia, ia akan dipertanyakan di akhirat kelak dan boleh jadi mengancam tabungan pahala kebaikan kita sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits.

Karena itu, Ust. Ihya menghimbau agar kita ber-husnuzhzhon ketika meminta maaf dan memberikan maaf, meski via SMS sekalipun, yakni dilambari dengan hati yang tulus ikhlas. Siapa tahu Allah benar-benar meniupkan rahmat-Nya sehingga orang menerima dan memberikan maafnya secara tulus ikhlas atas kesalahan-kesalahan kita dan hilanglah hak-hak adami yang kita langgar.

Bukankah sia-sia jika kita menulis ratusan SMS selamat berlebaran, tetapi itu semua hanya simbolik saja seperti layaknya sebuah permainan? Na’udzubillahi min dzalik!

***

Keterangan.
Gambar didapat dari blog: hendrairawan.blogspot.com
dilambari: didasari, dilandasi, diniati (jawa)

Bagi Anda yang ingin mendapatkan
atau berlangganan majalah
Al-Mu’tashim, media dzikir dan pikir,
bisa menghubungi saya via email
atau SMS ke 08123009840.
Bookmark and Share