rumah berbagi para pencari hikmah
Judul posting ini mungkin tidak tepat benar. Tetapi, bukankah untuk mengusik perhatian Anda, kita kadang perlu membuat ledakan kembang api di tengah malam buta?
Ini semua bermula dari istri saya yang kini tengah keranjingan dengan perkembangan yang kian pesat dari nanoteknologi. Nanoteknologi mencakup pengembangan teknologi dalam skala nanometer, biasanya 0,1 sampai dengan 100 nm. Satu nanometer sama dengan sepersemilyar meter (10-9). Untuk membayangkan besarnya ukuran ini, taruhlah ukuran diameter rambut kita adalah 50 mikrometer (dimana 1 mikrometer = seperseribu milimeter). Sehingga satu nanometer kira-kira sama dengan diameter rambut kita setelah dibelah 50.000 kali! Jauh lebih kecil dari jembatan shirathal mustaqim, jika benar jembatan itu menurut cerita nenek-kakek kita seperti rambut dibelah tujuh.
Kiranya sudah jamak kita tahu bahwa untuk mengetahui penyakit atau something wrong dalam tubuh kita bisa dilakukan dengan banyak hal. Yang paling kita kenal barangkali adalah cek faeses dan urin — kabarnya yang pertama kali mahasiswa kedokteran lakukan di lab kampus adalah memeriksa faeses dan urinnya sendiri. Dari hasil pemeriksaan lab ini bisa diketahui berbagai indikator yang mengarah pada kondisi kesehatan tubuh kita.
Di samping itu kita kenal pemeriksaan terhadap berbagai hal di tubuh kita (darah, kulit, sperma, dsb) untuk mengetahui “sesuatu” yang terjadi di tubuh kita. Juga kita kenal banyak metode diagnostik lain. Diagnosa melalui telapak tangan misalnya. Kita bisa melihat apakah seseorang itu mengalami alergi, permasalahan di ginjal, jantung, usus (organ pencernaan), kolesterol, dan sebagainya hanya dengan melihat tanda-tanda di telapak tangannya. Saya, jelek-jelek begini, bisa sedikit-sedikit mengetahui seorang perempuan itu mengalami permasalahan hormonal atau tidak hanya dengan melihat kukunya! Jadi, sebisa mungkin sembunyikan kuku Anda pada siapapun.
Anda mungkin sudah tahu tentang iridologi. Yakni sebuah cabang ilmu yang mendiagnosa kondisi sistem tubuh dan organ hanya melalui iris mata seseorang. Ilmu yang kemudian dikembangkan dr. Bernard Jensen ini bahkan bisa ‘melihat’ penyakit seseorang pada stadium sangat dini, dimana orang itu bahkan belum merasakan sakit sama sekali. Kita tahu bahwa kebanyakan orang mengeluh ketika sakitnya ternyata sudah parah dan cenderung terlambat untuk diobati. Dengan iridologi, tanda-tanda kelemahan tubuh yang masih tahap awal sudah bisa diketahui (Iridologi memiliki tingkat keakuratan hingga 80%). Untuk ilmu ini, istri saya punya sedikit keahlian iridologis. Bukan promosi, tetapi silakan kalau mau memeriksakan diri.
Diagnosa juga bisa kita lakukan dari melihat tanda-tanda di wajah, telinga, lidah, putih mata, dan sebagainya. Semua model diagnosa itu menunjukkan betapa Allah swt. sebenarnya sudah memberikan banyak sekali alternatif yang bisa dipakai untuk melihat kondisi tubuh kita. Mulai dari pemeriksaan salah satu organ kita (iris mata, wajah, telapak tangan, lidah, wajah, dsb), memeriksa cairan kita (darah, sperma) hingga bahkan kotoran kita (faeses, urin).
Istri saya semalam menceritakan — tetapi mungkin sebenarnya sudah lama dikembangkan orang, hanya kita tidak tahu — bahwa dengan nanoteknologi deteksi seseorang sedang terkena kanker paru-paru atau tidak bisa dilakukan hanya dengan memeriksa nafasnya! Wow! Kalau dipikir-pikir sih mungkin ada benarnya. Karena kita toh juga sudah bisa menduga seseorang itu ada masalah di lambung dengan mencium bau tak sedap yang keluar dari mulutnya ketika berbicara. Ketika nafas kita diperiksa dengan mikroskop berskala nano, partikel-partikel yang terkandung di dalamnya barangkali membawa tanda-tanda yang bisa diidentifikasi sebagai bawaan penyakit kanker paru-paru.
Saya lalu browsing di internet dan menemukan bahwa pada Juli 2007 Dr. Patrick McCann bersama grupnya dari University of Oklahoma telah melakukan proof-of-concept metode deteksi terhadap seseorang yang diduga memiliki penyakit kanker paru-paru dengan memeriksa nafas yang dikeluarkannya. Hal ini terinspirasi dari studi yang menunjukkan bahwa anjing bisa mendeteksi kanker dengan hanya mengendus nafas yang dikeluarkan oleh pasien berpenyakit kanker. Sebagaimana dilaporkan, anjing dapat mendeteksi dari sample nafas pasien dengan cara itu untuk kanker payudara dan paru-paru hingga akurasi 88 dan 97%. “The evidence is clear,” tulis Science Daily edisi 28 Agustus 2008, “that gas phase molecules are uniquely associated with cancer.”
Subhanallah! Saya termenung mengetahui temuan ini. Betapa semua yang diciptakan-Nya tidaklah sia-sia. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya by design. Semuanya bahkan well designed.
Kini bahkan saya terpikir agak ‘nakal’ — tetapi bukankah temuan baru kadang tercipta dari buah ‘kenakalan’? Apalagi kini banyak yang menyatakan bahwa anak ‘nakal’ justru adalah anak yang kreatif. Ok, pikiran saya begini: jangan-jangan, permasalahan di pencernaan kita tidak perlu lagi tes faeses, melainkan cukup dengan memeriksa (maaf) kentut kita! Jangan-jangan bahkan cukup dari suaranya saja: yang bunyinya tit, berarti penyakit apa; yang tut, penyakit yang lebih berat; yang tot, apalagi rada panjang, penyakit yang lebih berat lagi. Dan, tentu saja, yang hanya ‘besss‘ hampir tak terdengar, penyakitnya mungkin paling misterius dan belum ditemukan pula obatnya. He he.
Bagaimana pendapat Anda?
***
Keterangan
Gambar didapat dari www.scienceblogs.com, dari tulisan berjudul “Nanotechnology: Where Did It Come From? What Is It For?”
Edy Sutikno
October 23rd, 2008 at 8:19 pm
Wah, jangan2 juga penyakit kanker otak bisa dideteksi juga dari hobby /kemampuan nulisnya. Klo kayak sampeyan dah stadium 4, klo kayak aku sing isok blass tulis munulis terindikasi bebas dari kanker otak. Begitu?
Btw, menarik artikelnya…
Wassalam,
[Reply]
Nurudin
October 25th, 2008 at 4:00 pm
saya tergoda untuk tertawa dengan pikiran ‘jahil’ Pak Bahtiar ini. tapi bukan tidak mungkin, toh apa yang sekarang kita temui, dahulu kita bilang tidak mungkin.
[Reply]
bahtiarhs
October 28th, 2008 at 5:32 am
@Sutik: Ini namanya kanker otak yang “baik”, Mas. Virusnya pun meski kadang ganas, tetapi yang kecipratan seringkali justru senang. Mas Nurudin yang sering comment di sini contohnya. He he
[Reply]
kannyd
December 1st, 2009 at 4:16 pm
saya tertarik pas baca tulisan bpk “mengetahui seorang perempuan itu mengalami permasalahan hormonal atau tidak hanya dengan melihat kukunya!”
hehee…. saya jd pengen ‘mbeguru’ ke bpk nih, utk mengetahui ‘kuku’ calon istri saya
[Reply]
bahtiarhs Reply:
December 3rd, 2009 at 3:33 am
Mas Kannyd,
Untuk mengetahuinya, japri saja ya? Soalnya para wanita jadi pada tahu. Nggak enaklah sama mereka. Sebab akan terkuaklah segala rahasia dan terguncanglah dunia
[Reply]
cakhadi
December 20th, 2009 at 8:39 pm
Ass.subhanallah saya kembali menemukan teman-teman muslim yang kian menggali keajaiban alquran.
Yuk kita sebarkan kebenan alquran yang ” tetap ” takterbantahkan sampai kahir jaman !!!
[Reply]