rumah berbagi para pencari hikmah
Orangtua yang sukses mengajar anak mereka untuk berpikir sendiri. Mereka mengajarkan pengendalian diri kepada anak-anak. Orangtua yang sukses belajar dari anak-anak mereka. Mereka menyusun pola-pola reaksi yang dapat mengurangi ‘kenakalan’. Dan orangtua yang sukses adalah orangtua yang konsisten. Mereka mengatakan apa yang mereka maksudkan dan memaksudkan apa yang mereka katakan. Mereka menindaklanjuti ucapan mereka.
Itulah sebagian kata-kata Sal Severe, Ph.D, President of the Arizona Association of Psychologist, di dalam bukunya Bagaimana Bersikap Pada Anak Agar Anak Bersikap Baik (Gramedia, Jakarta, 2002). Buku parenting yang judulnya menurut saya terlalu panjang ini baru saya baca-baca lagi sekarang setelah saya beli lebih dari satu-dua tahun yang silam. Yang lebih parah, setelah anak saya genap lima!
Kenyataan yang sering saya temui pada anak-anak memang cocok dengan pendapat Sal Severe, bahwa anak-anak bisa diajak berpikir sendiri. Dan itu sering berhasil. Tetapi ternyata, anak-anak bisa berpikir lebih jauh dari apa yang kita bayangkan. Hal ini sering membuat solusi yang pernah kita berikan terhadap satu kejadian berkaitan dengan anak-anak menjadi tidak berlaku untuk kejadian yang sama pada kesempatan yang lain. Inilah yang membuat orangtua sulit untuk konsisten. Dengan kata lain, banyak orangtua yang tidak sukses.
Salah satunya, saya teringat dengan peristiwa yang terjadi antara Ais dan Fia, anak pertama dan kedua saya tiga tahun silam.
***
Hari itu Ais menangis dengan terisak. Itulah gaya dia menangis (persis seperti Ayahnya!) Tak lama kemudian, Fia masuk ke kamar.
“Ada apa Mbak Ais kok menangis?” tanya saya.
Tanpa mengeluarkan kata-kata, ia menunjuk bebek mainan di tangan adiknya.
“Itu punya siapa?” tanya saya padanya.
“Punya Mbak Ais.”
“Adik Fia, bebeknya diberikan Mbak Ais, ya?” rayu saya pada si nomor dua.
“Nggak!”
“Napa? Memangnya bebek itu punya siapa?”
“Punya Mbak Fia.”
“Baik. Tunggu sebentar ya?” kata saya sambil berlalu.
Tak lama kemudian, saya kembali dengan membawa gunting besar.
“Bebek ini punya siapa?” tanya saya lagi kepada keduanya.
“Punya Mbak Ais!”
“Punya Mbak Fia!”
“OK. Kalau begitu, Ayah akan bagi bebek ini menjadi dua, ya? Mana bebeknya Mbak Fia?”
Fia, si nomer dua celingukan. Ia memperhatikan Ayahnya sudah bersiap memotong bebek plastik itu tepat di tengah.
“Gunting di sini ya?” tanya saya mengulur waktu.
Fia tampak memperhatikan bebek kuning itu. Juga Ais.
“Jangan, Ayah,” kata Fia akhirnya. Jawaban yang kutunggu.
“Trus gimana?” sergah saya. “Bebeknya kan cuma satu? Makanya Ayah potong jadi dua, biar dapat semua. Sebenarnya bebek ini punya siapa sih?”
Sejenak Fia seperti berpikir. “Punya Mbak Ais,” katanya kemudian sambil memandang kakaknya.
“Nah, kalau gitu, kasih ke Mbak Ais dan minta maaf, ya?” kata Ayah.
Maka, bebek itupun berpindah tangan. Mereka lalu bersalaman. Kami lega.
***
Namun kelegaan itu hanya berlangsung satu dua hari. Hari ini, keduanya kembali berebut soal bebek itu.
“Ini bebek siapa sih?” tanya saya pada mereka.
“Punya Mbak Fia!”
“Nggak. Punya Mbak Ais!”
“OK. Tunggu sebentar,” kata saya melerai suasana. Saya lalu pergi mengambil gunting besar yang kemarin.
“Ayo, ini bebek siapa?” tanya saya lagi pada keduanya sambil memperlihatkan gunting itu.
“Punya Mbak Ais!”
“Bukan! Punya Mbak Fia!”
“Baik kalau begitu. Sekarang akan Ayah potong jadi dua. Satu buat Mbak Ais. Satu buat Mbak Fia. OK?” tanya saya memancing. Gunting sudah siap melahap bebek itu.
Sejenak Ais melirik Fia. Lalu dengan riang ia nyeletuk, “Ya, Yah. Potong saja bebeknya.”
“Ya,” sambung Fia. Kali ini juga dengan senyumnya yang manis dan sorot mata ingin tahu. “Potong aja bebeknya, Yah!”
Kini ganti saya yang celingukan.
***
Ternyata anak-anak berpikir lebih cepat dan lebih jauh dari apa yang kita duga. Karenanya, metode yang sama tidak bisa serta merta diterapkan bahkan untuk kasus yang sama pada anak-anak. Jika kita mengasuh anak kita berdasarkan cara kita dulu diasuh, sementara zaman berubah begitu cepat seperti saat ini, maka benar-benar kita menjadi orangtua yang jadul, kuno dan ketinggalan zaman. Kita benar-benar tidak pernah siap atau disiapkan untuk menjadi orangtua kecuali secara autodidak, alias trial and error!
Sungguh mengenaskan.
***
Keterangan.
Foto: Ais dan Fia 3 tahun yang lalu.
Nurudin
October 25th, 2008 at 3:48 pm
kadangkala anak bisa membuat kita menangis sekaligus tertawa atau sebaliknya. Dan Alhamdulillah, beruntung saya bisa merasakan itu.
[Reply]
Ibnu HS
October 26th, 2008 at 3:14 pm
Assalamu’alaikum ww. Posting yang sangat bagus, Mas Beh. Pengetahuan yang berguna, termasuk untuk yang belum nikah seperti saya :-). Apa kabar, Mas Beh? Mampir ke blog saya saya. Masih berantakan sih.
Salam dari kembaran di pelosok kalimantan, Ibnu HS
[Reply]
bahtiarhs
October 26th, 2008 at 9:28 pm
@Mas Nurudin: Betul Mas. Syukurlah, hal itu bisa dirasakan hanya oleh mereka yang sudah memiliki anak. Mas Ibnu HS tidak termasuk
@Mas Ibnu HS: ‘alaikum salaam ww. Apakah masih ada buaya suka berkeliaran di belakang rumah, Mas? Terima kasih telah mampir. Semoga bisa sharing dan berbagi manfaat. Amin.
[Reply]
April
November 4th, 2008 at 1:08 pm
Jadi ingat. Waktu saya kecil, kalau saya menonton tv terlalu lama ibu akan mematikan tv secara paksa lalu mengunci lemari tv. Kuncinya lalu disembunyikan.
Beberapa kali itu dilakukan dan saya sampai hafal dimana ditaruhnya kunci itu. Biasanya kalau gak di bawah kipas angin ya di atas lemari. Jadi kalau ibu pergi saya ambil lagi kunci itu then nonton tv lagi sepuasnya.
Kalau ketahuan, ya tv itu dikunci lagi sama ibu. Kuncinya disembunyikan lagi. Dan lagi-lagi saya cepat tahu dimana letaknya. Wakakak.
Dan yang ada di pikiran “kenapa ibu saya meletakkan kunci itu di tempat yang itu-itu saja?” Kan gampang ketahuan…
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 21st, 2009 at 1:43 pm
Ya nggak jadilah. Kasihan sama bebeknya.
Tapi memang ternyata nggak mudah mendidik anak-anak. Mereka sangat kreatif, sangat menghapal, dan peniru. Hati-hati deh!
[Reply]
tauhid syarif hidayat, sman 13 surabaya
April 3rd, 2009 at 10:54 am
terkadang kita memiliki otoritas pikiran pada anak kita. Padahal anak punya logika pikiran sendiri. Inilah yang harus kita kompromikan. Pasti akan punya titik temu. Solusinya bagaimana kita harus memahami cara berpikir dunia anak yang penuh keluguan, kepolosan. Semiga kita bisa berlatih.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 21st, 2009 at 1:45 pm
Artinya, mensejajarkan diri kita dengan mereka ketika bersama mereka. “Dengan bahasa kaumnya (anak-anak).” Bukan begitu, ust?
Uncle M sering memberi contoh, jika bicara dengan anak-anak, usahakan duduk sama rendah dengan mereka. Ini adalah upaya untuk menenggelankan diri kita dengan dunia mereka, sehingga mereka bisa dekat dengan kita.
[Reply]