“Pak, saya terpaksa tak bisa ikut presentasi SILT ke Bali,” kata saya pada suatu hari di tahun 2001.

“Mengapa?” tanya Pak Hadi penuh tanda tanya.

“Istri saya mau melahirkan,” jawab saya.

“Lho, yang mau melahirkan kan istrimu?” tanya project manager saya itu lagi sambil tersenyum. “Memang menurut perhitungan dokter kapan mau lahir?”

“Sekarang bahkan sudah lewat. Saya khawatir dalam satu dua hari ini,” jawab saya meyakinkannya. Bagaimanapun jika bayi belum lahir juga lebih dari 10 hari selepas taksiran persalinan, maka ia terancam “dipaksa dilahirkan”.

“Ah, paling masih lama,” sanggah Pak Hadi, kali ini sambil tertawa.

“Nggak, Pak,” tegas saya lagi. “Saya justru khawatir ia akan lahir ketika kita sedang di Bali.”

“Bukankah ada mertua yang mendampingi?” tawarnya lagi.

Saya ingin mendampingi semua anak saya ketika ia lahir,” kata saya mengunci.

Maka demikianlah. Saya tak jadi ikut presentasi itu. Dan nyatanya, sehari kemudian, ketika Pak Hadi dan tim (minus saya) sedang berada di Bali, anak pertama saya lahir di Bangkalan. Saya berada di sampingnya. Dan sejak itu, saya percaya, intuisi seorang Ayah biasanya sangat kuat untuk urusan yang satu ini.

***

Kali ini kita akan bicara tentang Point of View. Disingkat POV. Kita sering menyebutnya sebagai Sudut Pandang.

Istilah ini kita kenal dalam dunia penulisan cerita, baik cerpen maupun novel. Dari sisi pencerita, setidaknya ada 3 POV. POV orang pertama, POV orang kedua, dan POV orang ketiga. POV orang pertama (aku) biasanya dipakai oleh para penulis pemula. Ini wajar, karena POV “aku” sangat mudah dan bersifat pribadi. Biasanya ditandai dengan adanya tokoh “aku” yang mendominasi di dalam cerita. Dengan POV ini, pencerita dengan leluasa mengeksplor apa yang “aku” ketahui, termasuk tokoh-tokoh di luar “aku”. Ia menjadi “serba tahu”, bahkan apa yang terbersit di hati tokoh-tokoh selain “aku”. Tak heran jika cerita dengan POV “aku” sering bersifat “otobiografis” alias menceritakan diri sendiri. Tokoh “aku” di dalam cerita sering tak bisa dibedakan dengan diri si pencerita sendiri.

POV lainnya berikut derivasinya lebih terbatas dari sisi pencerita. Pada POV ketiga (dia) misalnya, pencerita mengetahui para tokoh hanya dari gerak tubuhnya, mimik, dan dialog yang terjadi. Meski sebagai pencerita bisa melakukan apa saja, namun ia akan menjaga diri agar tidak menjadi “serba tahu”. Ia bahkan harus memahami para tokohnya dalam kedudukan setara satu dengan lain. Ia istilahnya harus “masuk” ke dalam semua tokoh yang ia munculkan di dalam cerita dan sejiwa dengannya. Karena itu, ketika sedang memainkan seorang tokoh, maka ia akan berusaha “mengerti” tokoh lainnya ketika bertindak atau melakukan sesuatu. Dengan POV ini, pencerita akan berpindah Sudut Pandang dari satu tokoh ke tokoh lainnya, tergantung pada saat itu ia “sebagai siapa”. Dan dari sana, ia belajar memahami tokoh-tokohnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di tempat kerja, agaknya permainan POV ini sangat perlu kita lakukan. Jika Anda seorang kepala proyek, berumur 35-an dengan satu istri dan dua anak, dan masih tinggal di rumah kontrakan, Anda memiliki satu sudut pandang. Jika Anda seorang wanita, staf keuangan, baru saja menikah belum genap sebulan, Anda pun memiliki satu sudut pandang, yang sangat berbeda. Pertanyaan sulitnya adalah: seharusnya seberapa pribadikah pendapat Anda?

Menurut Edward de Bono, seorang ahli pemikiran kreatif, pencetus berpikir lateral dan paralel yang terkenal itu, sulit untuk menjawab pertanyaan di atas karena pendapat terbaik adalah berdasarkan pengalaman, nilai-nilai, budaya, dan sudut pandang masing-masing. Pada saat yang sama, hal itu cenderung merupakan sudut pandang yang terbatas.

Jika orang hanya berpendapat atas dasar sudut pandang mereka sendiri, politik demokrasi, kata de Bono, tidak akan berjalan. Seorang wakil rakyat tak akan pernah benar-benar mewakili konstituen yang memilihnya, apalagi jika ia telah kaya dan mapan.

Tampaknya menjadi penting untuk mempertimbangkan sudut pandang lain yang mungkin dibandingkan sudut pandang pribadi Anda sendiri. Hal ini tentu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Apa susahnya sih mempertimbangkan sudut pandang seorang tunawisma pecandu narkoba? Anda akan dengan mudah berpikir bahwa orang itu pasti membutuhkan: rumah, bantuan, pengobatan, dan rehabilitasi. Kedengarannya masuk akal, bukan? Tetapi boleh jadi hal itu sangat jauh dari sudut pandang si tunawisma itu sendiri – yang mungkin hanya membutuhkan akses terhadap narkoba yang lebih mudah dan murah.

Betapa sering kita dengar kasus di BUMN ataupun institusi pemerintah terkait adanya drop-dropan barang dari “atas” yang ternyata kemudian mangkrak karena tidak sesuai dengan kebutuhan instansi yang menerimanya. Ini, salah satunya, adalah soal sudut pandang. Hanya saja, lumayan parah!

Ketika terjadi perbedaan pendapat karena perbedaan sudut pandang, kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan berdasar prioritas; hal mana menyebabkan kita dituntut untuk menjadi arif. Namun, kalau prioritas itu pun tak bisa dipertemukan – karena prioritas pun bisa berbeda dari sudut pandang berbeda – mungkin pilihan sulit yang harus diambil adalah menjadi tangan besi.

Namun bagaimanapun, menjadi “arif” maupun “tangan besi”, keduanya sama-sama mengalahkan salah satu pendapat, menutup salah satu sudut pandang. Hanya berbeda di “rasa” saja, yang akan membuat Anda tentu senang hati dengan yang pertama, dan ogah dengan yang kedua. Jika seseorang selalu menggunakan “tangan besi” terhadap semua sudut pandang yang berbeda, menggunakan POV “aku” laksana “tuhan yang serba tahu” seperti ketika bercerita, maka ia akan jauh dari “arif”. Lebih dari itu, ia akan menjadi makhluk individu dan tidak benar-benar makhluk sosial.

***

Keterangan.
Gambar diambil dari http://amadeo.blog.com. Itu menurut Anda gambar apa?

Bookmark and Share