rumah berbagi para pencari hikmah
Musim haji sebentar lagi tiba. Saudara-saudara kaum muslimin yang telah mampu dan dimampukan Allah segera akan berbondong menuju tanah suci memenuhi panggilan-Nya. Hanya sepotong doa yang bisa saya titipkan pada mereka, moga Allah mampukan saya dan keluarga pergi ke tanah suci jua. Suatu saat yang dekat. Amin.
***
Ingat haji, ingat percakapan saya dan seorang kawan seiring setahun yang lewat. Ia dan istri tahun kemarin telah pergi ke tanah suci untuk berhaji. Di imel ia menulis, “… Tapi yang lebih takjub, setiap membaca buku sampean, saya ingat waktu bersua ke baitullah, saya rasakan serba mudah, jalan-jalan lebar, kendaraan yang membawa kami dari satu tempat ke tempat lain selalu berAC.”
“… Waktu itu, saya dan istri mengambil jalan berbeda, untuk kembali ke Makkah dari Mina setelah hari terakhir melempar Jumrah, semua rombongan kami naik bus yang disediakan petugas haji, kami hanya menitipkan tas. Aku dan istri mengambil jalan kaki sekitar 5 km dan kami tempuh dalam waktu 1 jam. Itupun dengan santai, malah sempat makan pagi di kaki lima. Benar benar berkesan 2,5 km jalan di bawah atap baja dan diteruskan 2,5 km jalan di terowongan …”
“… Saya (aja) yang berjalan 5 km begitu berkesan. Apalagi kalau napak tilas dari Makkah ke Madinah jalan kaki, serasa berjalan menapaki jejak yang pernah Rosul timpakan.”
Maka tercetuslah azam itu; bukan nadzar sih. Bahwa suatu saat, yang dekat pula, kami (saya dan teman ini) berazam menapaktilasi hijrah Rasul dari Makkah ke Madinah atau Yatsrib. Dengan berjalan kaki. InsyaAllah. (Ya Allah, mampukan kami melaksanakan azam ini. Tetapkanlah niat kami itu terpatri di dalam hati. Amin).
***
Yatsrib adalah pucuk nyiur yang terlihat dari geladak kapal yang terombang-ambing di tengah samudera tak bertepi. Seperti oase, ia menjanjikan segenangan air untuk membasahi kerontang tenggorokan kafilah yang kehausan dalam sebuah perjalanan di padang pasir yang hampir tanpa ujung. Setelah Habasyah dan Thaif — lengkap dengan segenap laranya, maka Yatsrib adalah the dream land, tempat yang menjadi mimpi Nabi dan para sahabat, seperti Bani Israil memimpikan “tanah yang dijanjikan” tuhan Yahweh diantara Sungai Nil dan Eufrat.
Maka pada malam itulah, Sang Kekasih pergi meninggalkan rumah, sanak, kerabat, tetangga. Juga harta dan tanah-air. Sementara para sahabatnya yang lain pun telah berangsur bergerak menuju Yatsrib yang jauh di Utara. Membelah padang pasir. Menembus pekat malam. Menyusur jalan yang tak pernah ditapaki orang. Sungguh semua tak dirasa — penat, was-was, bengkak kaki, bahkan nyawa yang terancam — untuk sebuah perjalanan berbilang hari membawa sebongkah iman menyala di dada.
Sebuah perjalanan menyiratkan setidaknya tiga hal: “perpindahan”, “sesuatu yang ditinggalkan” dan “sesuatu yang dituju”. Mungkin juga berdimensi waktu: perpindahan dari “yang dulu” kepada “yang kini”. Keduanya terpisahkan sebuah “jarak” yang seringkali tak dekat. Tak heran kamus Webster menyebut jarak (distance) salah satunya sebagai “to leave far behind.” Agaknya jika hanya berjarak dekat saja, sebuah perpindahan mungkin tak pantas lantas dianggap sebagai sebuah “perjalanan.”
Jika hijrah ke Yatsrib – yang Nabi kemudian menamainya dengan Madinah – mampu menjadi tonggak bersejarah bagi kaum muslimin, itu karena menemukan dan memilih Yatsrib bukannya sekedar mimpi Nabi kemarin sore. Memilih Yatsrib telah melalui proses yang panjang untuk mengukur “jarak yang tak dekat” itu – disamping tingkat eskalasi gangguan orang-orang musyrik Quraisy terhadap kaum muslimin yang semakin menjadi pasca yaumul huzni. Mula-mula enam orang dari suku Khazraj menerima dakwah Nabi di bukit ‘Aqabah pada musim haji tahun ke-11 dari kenabian. Tahun berikutnya, 10 orang dari Khazraj dan 2 orang dari ‘Aus mengucap baiat di ‘Aqabah. Dan baru musim haji tahun berikutnya, 62 laki-laki Khazraj, 11 laki-laki Aus dan 2 perempuan Khazraj mengucap baiat di tempat yang sama. Islam pun kemudian tersebar luas di Yatsrib. Ketika atas perintah Allah Nabi hijrah ke kota itu, sudah lebih dari 500 orang penduduknya memeluk Islam. Bahkan tahun berikutnya, Nabi dan kaum muslimin mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang jumlahnya tiga kali lipat di Badar.
Hijrah ke Yatsrib karenanya “menyejarah” dan terus mengilhami generasi berikutnya hingga kini; bahwa “perpindahan” — yang tidak saja dalam arti fisik lagi melainkan maknawi, yakni dari “sesuatu yang buruk” kepada “sesuatu yang lebih baik” — adalah sebuah keharusan sejarah. Jika tidak, maka sebuah peradaban cepat atau lambat akan terperosok pada titik nadzir sebagaimana pernah dipanggungkan dalam sejarah seperti pada lakon kaum ‘Ad, Tsamud, Soddom dan Ghomorah. Mereka, seperti juga peradaban yang sama dengan mereka yang muncul di pentas bumi pada masa kapan pun kelak, pada akhirnya akan (di)hancur(kan).
Dalam skala yang lebih kecil, perpindahan kepada “sesuatu yang lebih baik” itu mungkin harus berangkat dari individu per individu. Menjadi semacam agenda hijrah harian diri masing-masing. Yang perlu dilakukan kemudian hanyalah mencari dan menemukan “yatsrib-yatsrib” baru yang memicu diri untuk bangkit, berdiri, dan berjalan menyusur jarak untuk mencapainya. “Yatsrib” bagi setiap diri adalah “segala sesuatu yang lebih baik dari saat ini” yang harus ditempuh tak lekang oleh waktu. Jika saja azzam itu pupus di tengah jalan, mungkin ada baiknya setiap diri malu kepada wanita ini.
Ia adalah istri Abu Salamah ra. Ketika hijrah, wanita itu diambil paksa oleh saudara-saudaranya dan dilarang pergi ke kota Yatsrib. Sejak itulah, wanita itu terpisah dari suaminya. Yang dilakukannya kemudian adalah berdiri menangis di arah jalan menuju Yatsrib, menunggu orang yang mau membarenginya ke kota itu. Ia lakukan itu hampir setiap hari. Tak pernah berhenti. Tak kurang bahkan setahun lamanya ia melakukan hal serupa, hingga seseorang dari sukunya yang kasihan padanya kemudian membantunya hijrah ke Yatsrib.
Begitulah. Menempuh “jarak yang tak dekat” adalah amanah berat, sesuatu yang hanya mungkin dicapai dengan usaha yang maksimal. Bisa jadi itu berbentuk bentang padang pasir antara Ma’kah dan Yatsrib yang harus dijejak; atau berupa hamparan Laut Merah yang harus disibak. Mungkin juga segala kenikmatan yang harus ditinggal jauh-jauh untuk menuju perilaku yang lebih baik. Ia kadang tak bisa dicapai, sebagaimana istri Abu Salamah, dalam satu-dua hari. Ia, apapun itu, sangat mungkin membuat muhajir, yakni orang yang menempuh perjalanan, merasa gamang melangkah jika hanya berbekal sebuah perencanaan yang nanggung.
Apalagi jika hanya berbekal pula sepotong niat yang kusut, maka ia tak akan pernah menemukan “yatsrib”.
***
Keterangan
Gambar teman saya di depan terowongan Makkah-Mina.
Nurudin
November 4th, 2008 at 1:37 pm
Ya Allah, sisihkan tempat di arafah Mu untuk ku dapat bersujud menyembah Mu. ( amin…)
[Reply]