rumah berbagi para pencari hikmah
Kapan masa terindah dari sekian tahun pernikahan ini?
Pertanyaan itu datang dari seorang teman di Kalimantan yang menghubungi saya lewat YM di suatu sore menjelang pulang kantor. Sebuah pertanyaan yang pada akhirnya ia jawab sendiri.
Apakah saat newly wedding, awal pernikahan, seperti kata buku-buku “aneh”? Tidak juga kan? Kita masih terlalu “tidak berpengalaman.”
Saya hampir yakin ia tergelak di depan komputernya ketika menulis jawaban ini.
Apa tahun-tahun pertama? Tidak juga. Masih ada kebingungan akan sifat pasangan kita.
Saya sepakat. Bahkan sering kita mengalami culture gap di tahun-tahun awal pernikahan. Lalu kapan, dong?
Justru tahun-tahun saat bisa menikmati pertumbuhan, sibuk berbagi kesibukan. Saat pertumbuhan anak, saat kagum akan pertambahan kepintaran mereka dan sharing kekhawatiran bersama atas perilaku anak-anak. Itu semua adalah kebersamaan yang luar biasa.
Saya manggut-manggut. Menjadi tua adalah pasti. Tetapi, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Saya menangkap kedewasaan itu di dalam kata-katanya.
Lalu apa kuncinya untuk memelihara rasa cinta itu? Untuk menjaga hubungan dengan pasangan agar selalu harmonis?
Saya hanya menunggu. Karena memang positioning saya di chating kali ini adalah sebagai pendengar yang baik. Ia sedang menceritakan kembali pemahamannya akan materi taushiyah yang baru ia ikuti tadi pagi. Dan terbukti, ia sendirilah yang lalu menjawabnya.
Kuncinya adalah: buatlah pasanganmu jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi.
***
Saya jadi teringat awal pernikahan saya dulu. Suatu hari istri saya menyodorkan sebuah buku tipis bersampul merah. “Bacalah, Mas!” katanya memohon, tanpa memerinci apa harapannya pada saya setelah membaca buku itu.
Buku itu berjudul “Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga” karya Muhammad Anis Matta, Direktur LPI Al-Manar Jakarta. Kini kudengar ia Sekjen sebuah partai berpengaruh di tanah air.
Saya sempatkan untuk membaca buku itu. Tetapi entah mengapa, dalam beberapa waktu, saya tak juga beranjak dari halaman berjudul “Aku Cinta Kamu.” Kalau tidak salah, itu adalah artikel ketiga dari buku itu. Anis Matta membukanya dengan manis,
Berapa kali Anda mengucapkan kalimat itu kepada istri Anda dalam sehari? Saya jelas tidak bisa menebaknya. Tapi beberapa orang suami atau istri mungkin bertanya: perlukah kata itu diucapkan setiap hari? Apa yang mungkin ‘dilakukan’ kalimat itu, dalam hati seorang istri, bila itu diucapkan seorang suami, pada saat anak ketiganya menangis karena susunya habis? Ada juga anggapan seperti ini, kalimat itu hanya dibutuhkan oleh mereka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu biasanya ada sebelum atau pada awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah memasuki tahun ketujuh, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa kita sudah tua membuat kita tidak membutuhkannya lagi.
Menohok bukan? Saya pun merasa demikian. Karena, jujur saja, sampai dengan ketika membaca tulisan itu, tak pernah sekalipun saya mengucapkan kalimat “Aku cinta kamu” atau “I love you” pada istri saya. Apakah dengan memberi buku itu istri saya berharap saya akan mengucapkan kalimat tersebut, sesering mungkin, padanya?
Dan ketika untuk pertama kali saya ucapkan kalimat itu pada istri saya di sebuah kesempatan, masyaAllah, bibir ini begitu berat mengucapkannya kata demi kata! Kagok! Kaku! Serba salah! Meski saya merasa sungguh kalimat itu keluar dari lubuk hati saya yang paling dalam (halah!)
Dan jawaban istri saya adalah, “Sampean itu gak romantis blas, Mas!” Ia bukannya membalas dengan kalimat yang sama, seperti yang saya harapkan.
Saya tentu salah tingkah. Untungnya ia mengucapkannya dengan tersenyum. “Akhirnya bukunya dibaca juga, ya?” tanyanya, yang membuat saya jadi mengerti mengapa ia meminta saya membaca buku itu.
Alhamdulillah, kini saya lebih lancar mengucapkan kalimat itu, meski kadang suasananya pas, dan kadang tidak. He he. Artinya, kadang membuat dia lengket, dan kadang membuatnya tambah kesal. Tetapi saya sepakat dengan Anis Matta, bahwa setiap kita tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain terhadap diri kita. Kita mungkin bisa menangkap itu dari sorotan mata, gerak tubuh dan perlakuan umum, tapi detil perasaan itu tetap tidak tertangkap selama ia tidak diungkap secara verbal, yakni dengan kata-kata.
Kata Anis Matta, lagi-lagi menohok saya,
Setan apakah yang telah meyakinkan kita begitu rupa bahwa makhluk mulia yang bernama istri saya atau istri Anda tidak butuh ungkapan “I love you” karena ia seorang “da’iyah”, karena ia seorang “mujahidah” atau karena kita sudah sama-sama tahu, sama-sama paham, atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara ‘anak-anak muda’ menyatakan cinta? Setan apakah yang telah membuat kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya ungkapan kata? Setan apakah yang telah membuat kita begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya dan menyatakannya secara sederhana dan tanpa beban?
Mengapa kadang berat atau sulit mengatakannya? Masalahnya hanya satu, kata Anis Matta: Anda hanya tidak biasa melakukannya.
***
Apakah hanya dengan kata-kata untuk membuatnya jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi? Tentu tidak. Bahkan tak juga harus bunga, kata teman chating saya. Ada banyak cara dan tidak harus beli. Mandi dan bersolek ketika suami pulang juga bisa membuatnya jatuh cinta lagi, katanya tergelak.
Andapun bisa menulis sesuatu pada secarik kertas dan mintalah putra-putri Anda menyampaikannya pada pasangan Anda. Bentuknya sederhana saja, misalnya kutipan puisi karya Sapardi Joko Damono ini:
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Apakah Anda sudah membuat istri atau suami Anda jatuh cinta lagi hari ini?
***
Keterangan.
Gambar diambil dari weblognya beninghati.blogspot.com.
nitami
November 5th, 2008 at 9:35 am
He..he..sayangnya, diriku belum merasakan itu smw alias lum nikah. Oo, gitchu to ternyata??? Pengen sich dimanja-manja ma seseorang yg qt cintai. Tp kpn ya?? Ah, sabar….pasti ada saatnya
[Reply]
Nurudin
November 5th, 2008 at 12:18 pm
Hihihihi..jadi malu kalo inget istri suka komplen, katanya aku memang bukan tipe lelaki romantis, sampai sekedar ngucapin ‘aku sayang kamu’ saja nda pernah. Kalau udah gitu, biasanya aku ngeles gini ‘ kalau cinta sudah bicara, bibir tak perlu berkata………’ hihihihi….tapi Insya Allah mau belajar ah, tapi jangan jangan malah istri curiga ya, dikiranya aku ngigau atao mulai kejangkit “bendo” ( beger mindo, puber kedua )
[Reply]
bahtiarhs Reply:
March 17th, 2009 at 6:08 am
Ha ha ha. Betul juga Mas. Kiranya ‘penyakit’ ini melanda kebanyakan laki-laki macam kita. Ditanggung saat pertama kali mencoba, pasti banyak yang lucu, Mas!
[Reply]