rumah berbagi para pencari hikmah
Namun gambar di setiap sisinya bukanlah noktah hitam antara 1 hingga 6, melainkan gambar KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, Mohammad Natsir, Jenderal Sudirman, Soekarno, Mohammad Hatta, dan … Soeharto! Jika hanya sampai di sini mungkin hal itu tidak akan menimbulkan silang-sengketa. Kontroversi bermula ketika PKS, sang pelempar dadu, menyebut mereka semua: “pahlawan dan guru bangsa.”
Adalah PKS menayangkan iklan itu di hari yang sakral. Hari Pahlawan 10 Nopember. Ketika yang lain sibuk mengikuti upacara, panggung gembira, atau aksi seremonial yang lain, parpol muda itu justru menggebrak publik lewat layar kaca. Iklan kontroversial berdurasi 30 detik. Singkat memang, tetapi berulang-ulang.
Kelihatannya ini sebuah strategi image building yang cerdik. Tetapi, harga yang harus dibayar kelewat mahal: nama baik partai, kesempatan koalisi, hati nurani (sebagian) rakyat. Bagaimanapun di mata sebagian orang, Soeharto adalah penguasa yang otoriter dan tiran. Berkuasa 32 tahun lebih tanpa terusik sudahlah cukup sebagai bukti betapa ia mencengkeram kekuasaannya begitu rupa. Barangsiapa yang vokal dicekal, barangsiapa yang mbalelo disikat.
Iklan 30 menit itu tentu saja telah ‘membakar jenggot’ banyak pihak. Bukan saja pihak-pihak yang tak rela Soeharto dicap pahlawan, tetapi juga pihak-pihak yang mana ikon yang selama ini melekat pada kelompok mereka ‘dicatut’ PKS dengan dalih para tokoh tersebut tidak lagi menjadi milik orang per orang, kelompok per kelompok, melainkan sudah menjadi milik bangsa. Tak kurang ormas NU dan Muhammadiyah mempermasalahkan iklan PKS itu dan menuntut untuk ditarik.
Tetapi, sebagai sebuah partai yang cukup berpengaruh, PKS tentu sudah berhitung. Dengan kelewat cermat, bahkan. Betapa tidak? Soeharto yang mangkat belum genap 1000 harinya, belum juga dikukuhkan sebagai seorang pahlawan bangsa, sudah dimasukkan PKS menjadi salah satu tokoh “pahlawan” sekaligus “guru bangsa.”
Simak saja penuturan sekjen PKS, Anis Matta, soal itu. “Iklan pahlawan PKS adalah ajakan rekonsiliasi,” katanya. Menurutnya, sebagai generasi baru Indonesia, PKS menyadari posisinya sebagai bagian dari mata rantai sejarah bangsa, dan bahwa suatu kesinambungan sejarah merupakan syarat bagi kebangkitan Indonesia. “Kita harus bisa mensikapi masa lalu kita secara adil, arif dan proporsional. Berhenti mengadili masa lalu tapi tetap menjadikannya sebagai inspirasi bagi masa depan kita,” katanya berdiplomasi.
Menurutnya, kita harus bisa melampaui “luka-luka masa lalu kita” tanpa dendam, belajar berdamai sebagai sesama anak bangsa dan bersatu kembali merebut masa depan bersama.
Tetapi barangkali karena menuai banyak protes dan kontroversi, iklan itu resmi dihentikan (30/10/2008), meski Tifatul Sembiring, presiden PKS, membantah itu karena desakan berbagai pihak. Pemberhentian itu atas inisiatif PKS sendiri.
Lepas dari kontroversi itu, mari kita timbang-timbang ‘permainan api’ PKS ini. Sebagai sebuah parpol, apapun yang dilakukan sulit dilepaskan dari kepentingan parpol tersebut. Apalagi sebentar lagi digelar Pemilu 2009. Karena itu, bantahan Tifatul bahwa iklan itu bukan iklan kampanye politik melainkan iklan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional sulit dipahami. Karena itu, pasti ada udang di balik batu penayangan iklan itu, yang tentu saja ujung-ujungnya adalah menaikkan jumlah konstituen pada Pemilu mendatang bagi PKS.
Hanya cara yang dilakukan PKS penuh resiko, kalau tidak boleh dibilang cerdik. Setiap tokoh selama ini identik dengan kelompok tertentu. KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah, KH. Hasyim Asy’ari dengan NU, Soekarno dengan PDIP, Soeharto dengan Golkar, Hatta dengan partai Meutia Hatta. Mencatut mereka gambling buat PKS: dibenci atau bahkan diapresiasi. Demikian juga khususnya ‘pengakuan’ Soeharto sebagai pahlawan dan guru bangsa sangat ‘mengagetkan’. PKS bisa dibenci oleh sebagian orang atau pihak, tetapi juga bisa dilirik oleh sebagian masyarakat yang lain.
Jika iklan PKS itu ditinjau dari dunia blogging, maka suatu posting yang kontroversial, konten yang tepat di saat yang tepat, pasti akan mengundang orang untuk berkunjung ke blog (blog walking). Lepas dari negatif atau positif komentarnya, tetapi trafik pengunjung menjadi melonjak. Padahal trafik bagi blogger adalah raja dan indikasi keterkenalan sebuah blog. PKS akan diperbincangkan banyak orang, dimana yang belum tahu mungkin akan mencari tahu tentang iklan itu, bahkan ingin tahu seperti apa PKS itu, platformnya, programnya, sepak-terjangnya selama ini, para tokohnya. Ini adalah trik yang sangat lihai untuk mendapatkan pemilih yang potensial – yang pemilih itu boleh berasal dari kelompok lain karena pencitraan tokoh idolanya yang pas pada iklan PKS.
Mungkin kita ingat bagaimana Mahmoud Ahmadinejad, presiden Iran, melejit dan langsung menggemparkan dunia ketika ia berkomentar penuh kontroversial bahwa holocaust hanyalah mitos yang diciptakan, Israel mestinya dihapuskan dari peta dunia, dan bagaimana ia menantang Amerika secara blak-blakan. Ia bahkan pernah berbicara terbuka di Universitas Columbia menghadapi para penentangnya face-to-face dengan gagah berani di kandang mereka.
Barangkali jalan seperti itulah yang kini ditempuh PKS. Sebuah bargaining politik tingkat tinggi. Apakah mereka akan berhasil?
Untuk menjawabnya, mungkin hasil survei ini bisa dijadikan pertimbangan. Sebuah survei tentang presiden terbaik pilihan rakyat sempat diadakan oleh Lembaga Kajian dan Survei Nusantara (LaKSNu) di akhir 2007 lalu, sebelum Soeharto jatuh sakit. Hasilnya, Soeharto menempati rangking tertinggi (34,7%), baru Soekarno (28,6%), SBY (14,9%), Megawati (8,2%), Habibie (4,6%), dan Gus Dur (3,2%). Responden beralasan bahwa Soeharto lebih banyak jasanya (57,2%) daripada kesalahannya (20,2%). Dan jasa paling menonjol daripada Soeharto adalah di bidang ekonomi (43,1%).
PKS pasti telah berhitung dengan cermat. Kemudian memainkan jurus dewa mabok Drunken Master! Dan yang lain pun pada ikut mabok. Naaang-neng-nang-neng-nong-ning-neeeeengggg … Ciaaat!
***
Keterangan.
Gambar diambil dari liputan6.com (SCTV).
Nurudin
November 15th, 2008 at 12:45 pm
Kalau PKS bisa ‘nyelebiritis’ mesitnya Pak Bahtiar juga bisa, ayo Pak keluarin jurus maboknya. Hehehe…
[Reply]
Alex
November 19th, 2008 at 11:23 am
jurus mabok Drunken Master!………hahaha……
ada-ada aja istilah si mas ini…
btw, salam kenal mas
[Reply]
aqu
November 20th, 2008 at 9:13 pm
wah, bingun aku mau bilang ap,memang klw semut disebrang lautan kliatan bngt, tp gajah di plupuk mata gk objektif liatnya. biasa aja geh…. gw aje kgk bingung. klw gk bsa dulu-duluan ya apik-apik an aj, biar seru VS PKS nya, kami rakyat kecil jg gk pusing, analisaY good, tp elo dah KKN kuiah kerja nyata di kampng2 blm. wah susah ya cri sosok aa’ gym kekinian (cba kritik lgi aa’, pnya analisa gk?
[Reply]
PKB
December 18th, 2008 at 11:48 am
dalam hal ini, kayake PKS emang mabok beneran. jadi gak berpikir dengan jernih. lihat aja, petingginya aja gak kompakan…. kalo rakyat (aku.. hehehe) sih, gak peduli parpol mo iklanin apa… gak ngaruh
[Reply]
PKB
December 18th, 2008 at 12:04 pm
maksudku, kompakan dalam mensikapi iklan tersebut diatas..
[Reply]
trisnu brata
February 25th, 2009 at 9:01 am
salam hormat,
cukup bagus tulisan anda…….makanya saya juga tertarik untuk menulis artikel “menakar kekuatan iklan parpol”, artikel ini muncul di harian suara merdeka yg terbit di semarang, selasa 24 februari 2009.
see you
[Reply]
Rendina Atmasubrata
March 2nd, 2009 at 7:23 am
Jurus mabok PKS memang cerdik. Tapi iklan cerdik saja tidak cukup, yang penting apakah PKS sudah jadi solusi bangsa Indonesia yang penuh masalah ini ?
[Reply]
tontowi
March 2nd, 2009 at 12:35 pm
sebenarnya dibanding PKS yg dulu, saya lebih suka yg sekarang (secara “ideologi” dan “motif” gerakan). Tapi sayang ini juga menunjukkan inkonsistensi PKS secara sangat parah.. just wait, what grass roots will decide on
[Reply]
bahtiarhs
March 6th, 2009 at 8:34 am
@all: terima kasih komentarnya semua. Saya tidak sedang berdiri di sisi PKS atau di sisi lain sebagai oposan. Saya berdiri di atas semuanya. Saya sendiri juga bukan orang PKS. Tetapi memang berusaha menilai dan berpendapat secara adil tidaklah gampang. Sudah resiko orang berpendapat. Sekali lagi terima kasih.
@tontowi: yang dulu bagaimana, yang sekarang bagaimana, Mas? Supaya kita tahu “inkonsistensi” yg Anda maksud.
[Reply]
bahtiarhs
March 6th, 2009 at 8:39 am
@trisnu brata: salam hormat juga Mas Dosen. Saya setuju dengan Anda dalam tulisan Menakar Kekuatan Iklan Parpol di SM bahwa pencitraan tokoh atau caleg di Indonesia cenderung seperti memoles mutiara manikam yang awalnya kusam hingga berubah menjadi cemerlang dan bercahaya. Tetapi itu Anda sebut sebagai “citra sesaat” tokoh atau caleg itu. Analisa yang bagus, Mas. Matur nuwun sudah mampir ke blog sederhana ini.
[Reply]
tontowi
March 6th, 2009 at 9:03 am
PKS yg dulu, lebih “ngotot” utk berjuang (hanya) di sisi ideologi. Dalam hal itu selalu mendengungkan syariat Islam untuk ditampilkan di tingkat nasional (UU). Bahkan sebagiannya, dengan lantang meneriakkan, Piagam Jakarta, Negara Islam, dst. Juga dengan strict, PKS dengan ‘jumawa’ tidak mau melirik, apalagi bekerja sama dengan partai lain, terutama yang mereka sebut ‘nasionalis-sekuler’..
Sejak masa akhir masa ketua Hidayat NW, PKS sudah mulai terbuka. Ideologi, bukan “tujuan utama” mereka. Paling tidak, bukan point yang selalu dijadikan jargon utama. Mulai saat itu, “Good Governance”, anti-KKN, profesionalisme, dst.. yg lebih didengungkan..
Nha, ini yang saya anggap menjadikan PKS lebih “membumi”.. Tidak melulu memperjuangkan “langit”, tapi meliat apa yg realistis ada di bumi kita, problem nyata yang ada di masyarakat. Dan tantangan riil yg dihadapi bangsa-negara.
Sayangnya, dalam rangka membumi itu, PKS seakan jadi mabok, seperti kata sampeyan.
Wah.. panjang mas
Saya kira sampeyan juga udah tahu kelanjutannya..
Sayang saya tidak punya waktu.. ah bukan, tidak pandai membagi waktu :D, sehingga bisa nulis panjanglebar dengan lebih baik :)..
Sebenarnya juga, itu bukan ide/pikiran saya saja, tapi pemahaman dari apa yg saya baca/bisa rangkum saja dari mana-mana. Mgkin saja ada yg keliru.
Wassalam
khalis
gaktertarikParpol… hinggabatasygtidakbisaditentukan:D
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 8th, 2009 at 6:12 am
Lantas bagaimana dengan PKS di belakang SBY sekarang, Mas? Hari ini milih capres yang mana? He he
[Reply]
tontowi Reply:
July 8th, 2009 at 8:28 am
satu kata mas : pragmatis. Meski pragmatis dlm politik praktis mgkin ‘tidak haram’. Kalau liat parpol koalisinya sih, Sby masih oke. Tapi, saya sudah menentukan pilihan lewat Fb saya :).
Lha.. sebenarnya saya berharap dicounter dg ilmu langit cap Pudjon mas..
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 8th, 2009 at 10:05 am
Yah, kalau nanya saya jawab, Mas. Tapi mkn pilihan lewat Fbnya sudah tepat, meski saya blm tahu.
Saya setuju dengan pendapat para kyai di Jatim dan Jabar, memilih itu tidak harus memilih yang akan menang. Tetapi, memilih yang benar, yang berdasarkan ketakwaan kepada Allah swt. Urusan kita adalah mempertanggung-jawabkan pilihan, bukan menang-kalah. Bukan begitu, Mas? ** Nyontreng di Spore ya, sekalian import flu babi? **
dinie
June 26th, 2009 at 5:51 pm
saya kader PKS

akhirnya skarang iklannya ga pernah dibahas lagi yah hehe… dan PKS berada di posisi nomer 4 pemilu taun ini, menurut saya, bukan karna iklan itu melainkan sudah rekayasa Allah SWT
regards,
dhz
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 8th, 2009 at 6:16 am
Dinie, seharusnya posisi no 4 dalam pileg memiliki daya tawar yang lebih lho dibanding posisi di bawahnya. Tetapi gerindra dan hanura bisa mencawapreskan tokohnya. PKS kok saya lihat kurang keras mendesakkan tokohnya untuk tampil ya? Ketika Pak Hidayat sama Pak SBY tidak dipilih, mengapa tidak melirik partai lain atau membangun koalisi sendiri, koalisi muslim misalnya?
[Reply]
dinie
July 8th, 2009 at 11:43 am
jujur aja pak, saya emang gak tau apa pertimbangan majelis syuro sehingga gak bikin koalisi sendiri… tapi menurut saya pribadi, untuk membangun koalisi sendiri *such an example –koalisi muslim–* masih belum waktunya, pak. Belum cukup signifikan.. apalagi kalo dikasi label koalisi muslim, di negara heterogen begini. Tau sendirilah pak, gimana tingginya sensitivitas rakyat negara tercinta ini ketika nyinggung tentang SARA…
Anyway, saya yakin, akan tiba masa, dimana Indonesia menjadi pemimpin bangkitnya dakwah di bumi Allah ini.. Insya Allah..
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 10th, 2009 at 1:42 pm
Wah, SBY-Boediono menang tuh di Quick Count. Selamat deh buat PKS
Btw, semoga masa itu tiba 2014. Amin.
[Reply]
tontowi
July 14th, 2009 at 3:39 pm
iya nih, flu B2 makin merajalela. pem Kepri beberapa wktu lalu juga sudah menimbau warganya utk tidak ke spore. Lha ya repot, wong banyak sekali warganya yg pp batam-spore tiap minggu. Bahkan ada yg tiap hari.
Mana saya agak rentan flu lagi.
Berdoa dan berolahraga dan vit yg cukup aja sekarang mas
eh maaf kok malah mbahas flu (soalnya sampeyan nanya
)
soal topic ini lagi, kita tunggu jurus pks dan tim koalisi lain nya versus jurus ’sakti’ golkar. menang mana ?
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 17th, 2009 at 5:09 pm
wah flu B2 sedang merajalela di jatim juga. Hari ini ponorogo ada 10 orang. kemarin katanya 1 orang meninggal. anak gontor.
tetapi saya kira nggak perlu sepanik ini ya menghadapi flu ini. setiap penyakit pasti ada obatnya. tinggal jaga diri, fisik maupun dengan doa.
btw, PKS dan Golkar menang mana? He he. 7% lawan 14% lho, jangan lupa. inti demokrasi kan keterwakilan. yang besar biasanya mengalahkan yang kecil. tetapi yang kecil jika smart, bisa mengalahkan yang besar. lihat saja Gus Dur yang mampu mengalahkan Mega pada 1999. padahal, PDIP pemenang pemilu (33%) lho.
[Reply]