Badrun hari itu begitu capek karena pulang larut malam sehabis lembur. Ia tiba di rumah sementara isterinya sudah tidur pulas. Padahal, ia harus berangkat sehabis shubuh esok hari agar bisa mengejar KRL pukul 05.00 sehingga tiba di kantor tepat waktu jam 07.00 pagi.

Sungkan membangunkan isterinya, maka ia menulis di secarik kertas begini: “Bu, aku besok berangkat jam 04.00 pagi ke stasiun KRL. Tolong bangunkan aku jam 3.30 ya? Terima kasih.”

Ia pun berangkat tidur sambil tak lupa memasang alarm pukul 3.30 di handpone-nya.

Ketika ia bangun keesokan harinya, ternyata waktu sudah lebih dari pukul 07.00. Isterinya sudah tak ada di sampingnya, mungkin sudah berangkat kerja. Sebelum sempat mengeluarkan sumpah-serapah, ia dapati secarik kertas di samping kertas yang ia tulis semalam. Tulisan isterinya. Begini bunyinya: “Pak! Pak! Bangun, Pak! Sudah jam 3.30. Katanya mau berangkat pagi? Itu handphonenya juga sudah bunyi sejak tadi!”

***

Cerita di atas saya kutip dari Parlindungan Manurung dalam bukunya Setengah Isi Setengah Kosong (MQS Publishing, 2005). Jika ia mengaitkannya dengan komunikasi, saya justru ingin mengaitkannya dengan miskomunikasi.

Miskomunikasi adalah penyakit, bahkan mungkin menimpa setiap orang. Bukankah sangat sering kita temui hal-hal yang kita sampaikan kepada seseorang ditindaklanjuti dengan aksi atau reaksi yang melenceng dari apa yang sempat kita bayangkan. Kita menginginkan seseorang melakukan tindakan A, tetapi ia malah mengerjakan tindakan B. Semakin panjang rantai berita atau pesan yang tersampaikan, maka distorsi isi berita atau pesan itu akan semakin lebar.

Tentu Anda masih ingat dengan permainan masa kecil dulu ketika dalam sebuah barisan diberikan berita mulai orang pertama. Orang ini akan menyampaikan ke orang kedua (dengan berbisik). Orang kedua ke orang ketiga. Demikian seterusnya, hingga ketika orang terakhir diminta menyebutkan isi berita yang diterimanya dari orang urutan sebelumnya, maka isi berita itu sangat jauh melenceng dari isi berita yang diterima oleh orang pertama. Jika berdasar isi berita itu si orang terakhir melakukan sesuatu, maka tindakan itu pasti akan sangat jauh melenceng dari apa yang diinginkan si pemberi berita yang pertama.

Mengapa terjadi hal demikian? Larry King, pengasuh Larry King Live di CNN, punya salah satu jawabnya. Ia menulis dalam bukunya How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere yang telah diterjemahkan menjadi Seni Berbicara Kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Di Mana Saja (Gramedia, 2007) bahwa orang-orang pada umumnya tidak mendengarkan. Katakan pada keluarga atau teman-teman Anda bahwa pesawat Anda akan mendarat pukul delapan. Dan sebelum percakapan kemudian berakhir, maka mereka akan bertanya, “Jam berapa, katamu, pesawatmu akan mendarat?”

Tentu saja, masalah utamanya selain itu barangkali adalah daya ingat kita. Pada umumnya kita tak bisa mengingat banyak karena daya ingat kita lemah. Namun, pernyataan ini pasti akan dibantah Mr. SGM (Irwan Widiatmoko), pemegang rekor MURI di bidang daya ingat. Dalam bukunya, Super Great Memory (Gramedia, 2008) – itulah mengapa ia dikenal dengan nama Mr. SGM – ia menulis bahwa daya ingat kita lebih fantastis daripada yang kita bayangkan. Bagaimana tidak? Jika saja seluruh informasi di alam semesta ini dimasukkan ke otak kita, maka otak kita tidak akan penuh! Jika ada yang menganggap wajar kalau daya ingat kita lemah, ia mengatakan bahwa kenyataan itu sangatlah menyedihkan.

Persoalannya hanyalah karena kita tidak atau belum punya cara yang tepat untuk mengoptimalkan potensi daya ingat super – begitu ia menyebut – yang sudah kita miliki. Itulah mengapa dalam bukunya itu ia paparkan begitu banyak cara untuk meningkatkan daya ingat. Yang mengenaskan, rata-rata manusia hanya menggunakan 0.0001% kapasitas otaknya, bahkan kurang dari itu. Einstein saja, si jenius itu, menurut sebuah penelitian tentang otaknya menemukan bahwa ia hanya memberdayakan 18% saja dari otaknya!

Manshor H. Sukaemi, konsultan pada Family and Child Development Singapura memiliki rumusan sederhana tentang bagaimana seseorang disebut paham terhadap sesuatu. Dalam bukunya Anak Cerdas, Anak Mulia, Anak Indah (Arga Publishing, 2007) beliau menyebut metode itu dengan LUREC. Learn-Understand-REpeat Correctly. Jika seseorang bisa mengulang dengan benar apa yang sudah ia pelajari dan mengerti, maka itulah yang disebut paham. Itulah yang disebut belajar. Sebelum orang bisa mengulang dengan benar apa yang dibacanya atau didengarnya, maka orang itu tidak bisa disebut telah belajar.

Menyadari hal ini, Rasulullah saw. pada 15 abad yang lalu sudah memberi contoh yang sangat baik. Dalam buku 160 Kebiasaan Nabi saw. karya Abduh Zulfidar Akaha (Pustaka Al-Kautsar, 2003) dikatakan bahwa beliau biasa mengulang perkataan hingga tiga kali dengan suara yang jelas. Dari Anas bin Malik ra. ia berkata, “Bahwasanya Nabi saw. apabila berbicara suatu kalimat, beliau mengulanginya tiga kali sampai dipahami perkataannya.” (HR. Al-Bukhari). Tentu yang dimaksud bukan seluruh perkataan, melainkan perkataan tertentu saja yang membutuhkan penekanan. Dan Aisyah ra. sendiri menuturkan, “Perkataan Rasulullah saw. adalah perkataan yang jelas, dapat dipahami setiap orang yang mendengar.” (HR. Abu Dawud).

Semua itu tentu dimaksudkan agar orang yang menerima perkataan beliau tidak salah paham. Bahasa kerennya sekarang miskomunikasi.

Nah, bagaimana dengan kita?

***

Keterangan.
Gambar diambil dari blog groundjet.files.wordpress.com dengan sedikit editing.

Bookmark and Share