rumah berbagi para pencari hikmah
Ketika Baginda Nabi saw. sedang bertawaf di Baitullah Al-Haram, tiba-tiba seorang pemuda mendekatinya dengan perlahan. Ada gelagat tak nyaman dari raut wajah yang tampak tak tenang. Pemuda itu adalah Fadlalah bin ‘Umair yang sengaja datang membuntuti Nabi dengan memendam kebencian mendalam. Benaknya berencana membunuh Nabi. Namun, ketika jarak antara keduanya semakin dekat, Baginda segera menyapanya ramah, “Bukankah engkau Fadlalah?”
Demi mendengar sapaan hangat itu, suasana hatinya pun tiba-tiba berubah ciut, “Benar ya Rasulullah!”
“Apa yang engkau bicarakan dalam hatimu?” selidik Baginda seketika.
“Tidak ada,” jawab Fadlalah mengelak gugup. “Aku sedang berdzikir mengingat Allah ‘azza wa jalla!”
Mendengar itu Nabi saw. pun tersenyum, lalu bersabda, “Beristighfarlah kepada Allah!” Tangannya yang mulia lalu menyentuh dada pemuda tersebut. Sehingga menjadi damailah hatinya, dan “genderang” permusuhan di balik dadanya pun urung ditabuhkan.
Saat mengingat peristiwa berserajah itu, Fadlalah berkata, “Demi Allah, tidaklah Baginda Nabi mengangkat tangannya dari dadaku, sehingga tak ada satu pun makhluk Allah yang lebih aku cintai darinya!”
***
Senyum yang Mengalahkan Pedang.
Demikianlah ust. Az-Zaim, sapaan akrab ustadz muda dengan nama pena WAA Ibrahimy ini, menulis kolom Hikmah di Al-Mu’tashim edisi Nopember 2008. Senyum adalah “kekuatan terpendam” yang sangat hebat, tulisnya. Aktivitasnya merupakan sedekah berharga yang merawat tubuh agar tetap sehat. Dalam riwayat Tirmidzi, Rasulullah saw. bersabda, “Senyumanmu pada wajah saudaramu adalah (bernilai) sedekah.” Tidaklah heran jika ada sebuah kitab yang khusus membahas tentang senyum Rasulullah saw. Dalam berbagai peristiwa, sebuah senyuman yang dikelola dengan baik, bahkan akan mengalahkan ketajaman pedang sekalipun. Cerita Fadhalah di atas hanya sebagian kecil contoh.
Oleh karena itu, sangatlah rugi jika seseorang tidak suka atau berat untuk tersenyum. Pertama mengingat kekuatannya dan efek positif yang ditimbulkannya; kesan ramah, mencairkan suasana, membahagiakan, melegakan, dan mengubah energi negatif menjadi positif. Dan kedua, senyum adalah seringan-ringannya sedekah. Gratis, tak perlu membayar dan lebih mudah serta ringan effort-nya ketimbang cemberut atau bermuka masam. Kata sebuah pepatah, it takes seventeen muscles to smile and forty-three to frown.
Bahkan senyum yang tipis, yang tampak tak ikhlas, seperti senyuman Lisa di Antonio Maria Gherardini – kita mengenalnya Monalisa — karya Leonardo da Vinci (1452-1519), masih tetap menyiratkan kebahagiaan. Sebuah tim peneliti dari University of Amsterdam pernah mengukur senyuman Monalisa itu dan mendapatkan hasil yang mengagetkan. Hasil dari analisa software pengenal emosi yang mereka kembangkan terhadap Monalisa yang dilukis Leonardo tahun 1503 itu menyatakan bahwa senyum istri Francesco del Gioconda itu menyiratkan 83% perasaan bahagia, 9% jijik, 6% cemas, dan 2% marah. Bahkan konon kesan kita terhadap senyum Monalisa itu akan selalu berbeda sebanyak kita memandangnya. Karenanya sebuah kajian ilmiah atas senyum itu menyatakan bahwa senyum lukisan Leonardo itu “more divine than human.”
Bayangkan. Senyum hasil lukisan yang tipis saja masih menyiratkan begitu besar kebahagiaan. Begitu banyak menyimpan misteri. Bagaimana halnya jika senyuman itu tulus, ikhlas, dan asli senyuman, bukan goresan lukisan yang dibuat-buat?
***
Senyuman yang tampak sebagai hal sederhana itu pada kenyataannya merupakan indikator yang mahapenting. Selain sangat sulit mencapainya, senyum yang satu ini memang bukan “dilakukan”, tetapi “didapatkan.” Dan ia tak bisa didapatkan dalam waktu singkat seketika, melainkan merupakan pencapaian dari proses yang panjang sebelumnya. Ini adalah senyum “hasil”.
Itulah senyum ketika maut menjemput.
Ayah saya sering menyitir sebuah
pepatahpitutur luhur, entah siapa yang mengucapkannya kali pertama: jika engkau menangis ketika lahir dan orang-orang tersenyum bahagia, maka buatlah orang-orang menangis ketika engkau meninggal sementara engkau sendiri tersenyum.
Sebuah pepatah pitutur yang dalam sekali maknanya. Barangkali begitulah yang disampaikan Allah dalam firman-Nya untuk menggambarkan mereka yang syahid, yang menutup hidup mereka yang sebentar semata hanya untuk Allah. “Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali-Imron: 170).
Jadi nyata bahwa ada sebuah senyuman yang dahsyat. Mungkin bukan harus senyum dalam arti fisik, tetapi juga maknawi (berupa kegembiraan). Senyum yang merupakan representasi dari kehidupan yang telah dijalani seseorang sepanjang hidupnya. Ketika ia bisa menutup hayatnya dengan sebuah senyuman yang menawan, maka InsyaAllah, itu adalah tanda-tanda akhir yang baik (husnul khatimah) yang penuh kegembiraan atas anugerah yang diberikan Allah swt. atas kehidupan emas yang telah dijalani dan akan dijalaninya kelak di kehidupan yang kedua; yang kekal abadi.
Sejujurnya, kita semua mengharapkannya, bukan?
***
Keterangan.
Gambar: istimewa, Fia dan Ais, anak saya, sedang ‘berusaha’ tersenyum.
Leave a reply