Romi memerah matanya. Gemeretak pula giginya. Betapa tidak? Laporan pekerjaan dari Budi, stafnya di kantor ini, belum juga ia terima hingga hari ini. Padahal, bersama dengan laporan yang lain, ia akan membuat resume untuk presentasi di Rapat Management esok hari.

Kemarahannya semakin memuncak ketika Budi ternyata tak ada khabarnya hingga sesiang ini. Tak ada telepon, minta ijin tidak hadir, sakit atau lainnya. Telepon selulernya pun tak bisa dihubungi. Ia sudah membayangkan bakal babak-belur pada rapat besok.

“Pasti aku pecat anak itu hari ini juga!” semprotnya dalam hati. Sisa hari itu akhirnya ia lalui dalam kesal dan sumpah-serapah pada Budi. Ia jadi berpikir, mungkin Budi sengaja tak masuk agar membuatnya kelabakan.

***

Ada sebuah sistem untuk mengubah persepsi, sikap, dan perilaku yang dirintis oleh Dr. Albert Ellis. Ia oleh dunia internasional dikenal sebagai Bapak Teori dan Terapi Perilaku Emotif Rasional. Sumbangan terbesar Ellis pada ilmu psikologi abad ke-20 adalah kegigihannya untuk mengatakan bahwa kita bisa mengubah perasaan dengan menggunakan nalar yang logis dan deduktif, dan bukannya membiarkan perasaan menguasai kita.

Mengapa Romi tiba-tiba berang? Kita tahu jawabnya: karena Budi, stafnya, tidak masuk kantor tanpa pamit; padahal laporannya sangat Romi perlukan sebagai bahan Rapat Management esok hari. Kelalaian Budi meminta ijin (dengan menelepon atau mengirim surat) dikelompokkan oleh Ellis sebagai Activating Event (peristiwa pemicu, disingkat A). Sedangkan reaksi Romi dikelompokkan sebagai Consequence (akibat, disingkat C). Dalam kasus di atas, A – Budi tak masuk kantor tanpa pamit sehingga laporannya belum diterima Romi – kelihatannya berakibat langsung dengan munculnya C (Romi berang dan berpikir bahwa Budi sengaja membuatnya kelabakan).

Penafsiran demikian, menurut Ellis, mengabaikan satu hal penting. Dan ini paling sering terlewatkan. Hal penting itu adalah tahapan di tengah-tengah berupa Beliefs (keyakinan, disingkat B). Jika A mengakibatkan B dan B menyebabkan C, Romi dapat mengubah akibatnya dengan mengenali dan menetralkan keyakinan yang merusak dirinya sendiri dan kemudian menggantikannya dengan keyakinan yang berbeda, lebih pantas dan realistis.

Keyakinan di sini adalah percakapan batin yang berlangsung sepanjang hari. Dialog yang terjadi dalam diri kita ini terus berlangsung, namun biasanya tidak kita sadari. Misalnya, “Ya ampun, dingin sekali di luar” keluh kita saat melangkahkan kaki keluar rumah di waktu musim hujan; atau “Mudah-mudahan masih hijau” terlintas dalam pikiran kita saat melintasi lampu lalulintas. Atau juga “Brengsek! Aku paling nggak suka jika ini terjadi!” gerutu kita ketika telat dalam sebuah pertemuan.

Sebagian dari percakapan batin yang merusak ini mungkin berasal dari masa lalu kita; yang diulang-ulang dan parau, yang dilontarkan ketika kita masih kanak-kanak. Sering kita mendengar “Begitu saja tak becus!” atau “Kamu nggak bakalan bisa maju!”

Ellis memperkenalkan sistem ABCDE sebagai upaya untuk mengubah keyakinan yang bersifat merusak dan menggantinya dengan keyakinan yang membangun. Bentuk tabelnya seperti ini:

A B C D E
peristiwa pemicu keyakinan akibat debat efek

Langkahnya sebagai berikut:

Pada kolom A, Romi menulis peristiwa pemicu. Kemudian memasukkan pada kolom C akibat langsung seketika yang ditimbulkan karena A. Isian kolomnya seperti ini:

A B C D E
Budi tidak masuk, tanpa kabar.

Budi belum mengirim laporan.

Aku kesal, berang.

Aku pasti babak-belur pada rapat esok hari.

Faktor kunci pendekatan ABCDE adalah mengisi kolom B, yakni menuliskan percakapan batin yang nyaris tak tampak dan tak diperhatikan, yang ditimbulkan oleh peristiwa pemicu. Mungkin Romi punya pikiran seperti ini:

A B C D E
Budi tidak masuk, tanpa kabar.

Budi belum mengirim laporan.

Budi seharusnya menelepon!

Mungkin dia sengaja!

Mungkin dia ingin aku kelabakan karenanya.

Aku sudah menduga hal ini sebelumnya!

Aku selalu begini jika sedang menghadapi masa kritis!

Aku kesal, berang.

Aku pasti babak-belur pada rapat esok hari.

Kemudian yang perlu ia lakukan adalah mendebat (Debate), membantah (Dispute), dan membuang jauh-jauh (Discard) – disingkat D – keyakinan yang kurang pas dan merusak diri sehingga muncul reaksi C. Bantahan itu bisa dengan pancingan pertanyaan seperti:
• Mana buktinya?
• Apakah ada penjelasan lain yang lebih masuk akal?
• Apa yang akan kau katakan jika temanmu yang mengalami hal itu dan kamu dimintai nasihatnya?
• Pernahkah aku berada pada situasi yang mirip, punya keyakinan serupa, dan ternyata salah?
• Dan sebagainya

Mungkin isian Romi akan menjadi seperti ini:

A B C D E
Budi tidak masuk, tanpa kabar.

Budi belum mengirim laporan.

Budi seharusnya menelepon!

Mungkin dia sengaja!

Mungkin dia ingin aku kelabakan karenanya.

Aku sudah menduga hal ini sebelumnya!

Aku selalu begini jika sedang menghadapi masa kritis!

Aku kesal, berang.

Aku pasti babak-belur pada rapat esok hari.

Selama ini Budi tak pernah begini.

Laporannya juga tak pernah telat.

Mungkin ia masih capek, karena perjalanan luar kota kemarin.

Jangan-jangan ia sakit.

HP-nya memang sudah tua. Mungkin batereinya tak berfungsi lagi.

Akhirnya pada kolom E, Romi menuliskan akibat (Effect, disingkat E) yang ditimbulkan setelah mengisi kolom D, yakni bagaimana tindakan mendebat, membantah, dan membuang jauh-jauh telah mengubah pemahaman dan keyakinan yang salah, sebagai akibatnya juga mengubah perasaan dan perilaku Romi.

Kekuatan ABCDE adalah bahwa menyingkirkan keyakinan yang tidak masuk akal dan tidak pas memberikan kesempatan munculnya keyakinan yang lebih rasional dan tepat, dan mengubah pernyataan pada kolom C lebih pas dan sejuk seperti pada kolom E. Dengan memperhatikan sistem keyakinan yang merusak diri, kita bisa mulai mengenali dan berpindah dari perasaan yang “panas” ke perasaan yang “sejuk” yang lebih sehat. Itulah barangkali yang dalam bahasa agama kita sebut sebagai berbaik sangka (husnuzh-zhan).

Pendekatan demikian akan membantu kita bersikap lebih baik dan rasional, bahkan ketika ternyata kekhawatiran itu benar-benar menjadi kenyataan.

***

Bookmark and Share