** baliho caleg di sebuah sudut kota Surabaya **

Apa kaitan antara baliho caleg yang bertebaran di muka bumi hari-hari ini dengan kolesterol? Ini barangkali seperti kaitan antara batu kali dengan batu ginjal — dengan kata lain, amat jauh untuk saling berkaitan.

Tetapi demikianlah yang terjadi pada sebuah pagi yang gersang, gerah, dan mendung tebal di atas kami seperti tak sabar hendak runtuh menjadi titik-titik hujan. Ketika itu kami — saya, istri, dan Afa — sedang melintas di sebuah jalan besar di Surabaya, jalan kami biasa berlalu-lalang ke pusat kota. Baliho caleg bertebaran di sepanjang jalan, nyungsep diantara spanduk dan baliho pengumuman dan iklan berbagai hal.

Saat melewati sebuah baliho caleg yang sangat besar, saya nyeletuk, “Baliho sebesar ini berapa duit ya yang caleg itu harus keluarkan?”

Istri saya menyahut, tapi agak menyimpang dari pernyataan saya. “Waduh, sayang sekali punya kolesterol!”

“Maksudmu?” tanya saya agak surprised.

cincin kolesterol

** cincin kolesterol **

“Itu, cholesterol ring-nya kelihatan sekali,” katanya. Cholesterol ring atau cincin kolesterol adalah tanda cincin yang mengitari iris mata, berwarna putih abu-abu, bulat seperti cincin. Dalam kacamata iridologi, tanda itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan memiliki kolesterol, yang tingkat keparahannya sesuai dengan tingkat tebal tipisnya cincin kolesterol itu. Jika kolesterol hasil pengukuran di lab medis merupakan manifestasi kolesterol dalam darah, maka tanda cincin kolesterol iridologis ini merupakan manifestasi dari kolesterol pada dinding pembuluh darah. Karenanya, boleh jadi tanda cincin ini lebih bermakna. Mahasiswi ITS bahkan sempat membuat software iridologi untuk memeriksa kolesterol itu.

Iridologi adalah ilmu untuk mendeteksi kelemahan organ dan sistem organ tubuh manusia melalui iris mata. Dr. Bernard Jensen, Bapak Iridologi modern mengatakan bahwa tingkat keakuratan iridologi sekitar 80%. Karena baliho itu sedemikian besarnya, maka iris matanya menjadi sangat jelas terlihat, sehingga di mata seorang iridologis hal itu sangat bermakna. Apalagi cincin kolesterol adalah tanda di iris mata yang paling mudah diperiksa — sehingga gampang dibuat software deteksinya.

“Memang kenapa?” tanya saya pengin tahu.

“Lhah, mengatur pola makan diri sendiri saja tidak bisa, apalagi mengatur orang banyak?” jawab istri saya lancar sekali, sambil tersenyum. “Adanya kolesterol kan menunjukkan kalau pola makannya selama ini buruk.”

Saya manggut-manggut. O, ternyata itu yang dimaksud.

“Apalagi orang-orang terpelajar seperti caleg itu,” katanya semakin menjadi. “Ketika ia tahu bahwa apa yang ia makan itu berbahaya bagi tubuhnya, mengapa tetap ia makan juga? Sudah tahu penganan gorengan itu tidak baik bagi tubuh, tetap saja dimakan.”

Lho, yang terakhir itu menyindir diriku! “Habis gimana lagi? Lha wong enak,” jawabku enteng. Kok malah aku yang disindir? Bukankah sejak tadi bicara tentang caleg dengan mata bercincin kolesterol?

“Ya begitu itu. Kalah sama enak,” sahutnya ketus. “Padahal hampir tiap hari mengeluh perutnya kembung.”

***

Keterangan.
Sumber gambar: foto baliho istimewa koleksi pribadi. Cincin kolesterol koleksi pribadi dari buku Dr. Bernard Jensen.
Informasi lebih banyak bisa didapat:
- http://bahtiarhs.multiply.com/journal/item/18 (tulisan saya tentang Iridologi di multiply)
- http://www.bernardjensen.com/ (website bernard jensen international)

Bookmark and Share