Boleh jadi Pablo Diego José Francisco de Paula Juan Nepomuceno María de los Remedios Cipriano de la Santísima Trinidad Ruiz y Picasso López (25 Oktober 1881-8 April 1973) — atau lebih dikenal dengan nama Pablo Ruiz Picasso — benar. “Setiap batu cadas,” katanya suatu kali, “selalu mengandung patung yang indah.”

Pablo PicassoSekedar tahu saja, Pablo adalah seorang jenius seni kelahiran Spanyol yang cakap membuat patung, grafis, keramik, kostum penari balet sampai tata panggung. Dialah bersama Georges Braque, seorang pelukis dan pematung terkenal dari Prancis yang sejaman dengan Pablo, yang melahirkan aliran kubisme dalam seni. Dalam karya seni gaya kubisme, obyek gambar dipecah-pecah, direkayasa, lalu dipasang kembali dalam bentuk yang abstrak. Bukan saja melukiskan obyek itu dalam satu sudut pandang, seorang cubist melukiskan sebuah obyek dari sudut pandang yang beragam (multitude viewpoint). Keragaman sudut pandang itu merepresentasikan hasil karya mereka ke konteks yang lebih tinggi. Lihat salah satu karya Pablo berjudul “The Three Musicians” (1921) tersebut.

Saya tertarik dengan kata-kata inspiring-nya itu. Setiap batu cadas selalu mengandung patung yang indah. Dalam konteks yang lebih luas, kata-kata itu sama halnya dengan ajakan untuk selalu menggali hal-hal yang baik dari segala yang kelihatannya buruk dan tak berguna sekalipun. Ajakan untuk selalu ber-husnuzhzhon dalam bahasa agama. Berprasangka baik. Atau dalam bahasa bisnis, selalu memikirkan peluang di balik sesuatu, seburuk apapun.

***

Contoh “cadas yang indah” itu pernah saya temui ada pada diri seorang Asep. Banyak orang bernama Asep, tetapi sosok ini bukanlah Asep sembarang Asep. Ia adalah Asep Stroberi. Tak banyak yang melirik sawah terasering yang bersusun di lereng tanjakan Nagreg, satu dari dua tanjakan paling rawan macet karena bertemunya arus lalu lintas dua arah antara Bandung - Tasikmalaya dan Bandung - Garut. Sawah yang sepertinya tak menyimpan apa-apa kecuali hamparan padi menuruni lereng hingga ke kali, sama dengan lereng-lereng lainnya. Sawah pinggir jalan macet itu seperti cadas yang buruk rupa di mata orang banyak.

Tetapi, di mata kang Asep yang satu ini, sawah terasering itu lain. Ia membelinya lalu menyulapnya menjadi sebuah rumah makan yang diberi nama RM Nasi Liwet Asep Stroberi - Bale Tineung Sawah Wisata. Karena terasering, ya tempat makannya ‘berserakan’ menurun mengikuti gundukan tanah di lereng itu hingga ke bibir sungai. Ada yang model saung-saungan di tengah kebun, saung berkursi, dan saung besar untuk rombongan yang menghadap ke hamparan sawah dan sungai sepanjang mata memandang. Sunda banget, dengan seting tempat yang semuanya dari bambu — termasuk pancuran airnya — dan beratap ijuk / jerami.

Menunya pun Sunda banget, dengan andalannya Nasi Liwet Pak Asep. Inilah menu yang paling saya suka, karena bisa menemukan kerak nasi (intip [jw]) kesukaan saya waktu kecil dulu. ** He he, ketahuan deh! ** Disamping memang nasi liwetnya enak dan gurih, lengkap dengan ayam goreng kremes, tahu goreng, rempeyek, ikan asin, lalapan, and sambal terasi yang maknyus.

Yang menarik, rumah makan ini disamping tata letaknya yang ‘tak biasa’, juga menyediakan wisata sawah (tercermin dari namanya). Ada fasilitas outbound-nyalah. Sambil menunggu menu disajikan, Anda bisa mencoba Flying Fox (cukup tinggi lho, dengan panjang sekitar 50 meter turun ke sungai), rumah keramik (Anda bisa membuat sesuatu gerabah keramik di sini, bahkan juga ada tempat pembakarannya), berperahu di sungai, naik kuda, memetik stroberi (kalau berbuah), nursery kembang. Asyiklah. Tak mengherankan jika rumah makan ini tak pernah sepi dikunjungi orang.

Sedangkan nama “Stroberi” saya belum tahu karena apa. Saya juga belum tahu apakah Pak Asep itu memang seorang petani strawbery. Tetapi yang jelas, ada tiga ‘prasasti’ di rumah makan itu yang berbau strawberi. Di kebun, di etalase (berupa strawbery segar yang dijual), dan di atap rumah makan yang berupa ornamen buah strawbery dalam bentuk yang besar seperti kubah masjid.

RM Asep Stroberi adalah sebuah contoh nyata bagaimana batu cadas (berupa kawasan persawahan terasering yang sepertinya tak berguna di pinggir jalan yang macet) bisa disulap menjadi patung yang indah (berupa RM yang ciamik).

***

“Cadas yang indah” lainnya saya lihat pada diri anak kecil ini. Namanya Mohammad Ponari. Umurnya baru 10 tahun. Tinggal di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

“Cadas” itu ia temukan di bawah guyuran hujan dan petir yang hampir menyambar dirinya. Ia tiba-tiba menemukan batu bertuah kuning keemasan sebesar kepalan tangan di atas kepalanya. Konon ia telah membuangnya beberapa kali. Tetapi selalu kembali padanya. Entah bagaimana ceritanya, batu bertuah itu jika dicelupkan dalam segelas air, lalu air itu diminum seorang yang sedang sakit, sakit orang itu diyakini akan segera sembuh.

“Berita gembira” itu akhirnya menyebar dari mulut ke mulut. Ribuan pasien dari Jombang dan kota-kota sekitarnya, bahkan ada yang dari luar pulau, datang ke dusun kecil tak beraspal itu untuk mencari kesembuhan dari sakit mereka lewat batu di tangan Ponari. Anak itu pun sampai mengorbankan sekolahnya. Entah siapa yang memulai, ia mulai berpraktek. Setiap pasien membawa air. Ponari, dengan digendong kerabatnya, akan memasukkan batu ajaib temuannya ke dalam air itu. Paling sedetik saja. Dan pasien tinggal meminumnya.

Tak kurang tiap hari ia mencelupkan batunya ke 15000 gelas atau wadah air pasien. 15000! Itupun yang antri masih lebih banyak yang tidak terlayani, sehingga harus kembali esok hari. Akibat banyaknya pasien yang datang, puluhan ribu bahkan tiap hari, tak ayal membawa resiko. Maka pada 31 Januari lalu, Rumiadi (58) dari Kediri meninggal karena berdesak-desakan. Menyusul sehari kemudian, Nurul Niftadi (42) dari Megaluh. Keduanya tentu saja belum sempat bertemu Ponari dengan batu ajaibnya, namun ajal telah mendahului mereka.

Pengobatan pun dihentikan oleh polisi pada Kamis, 5 Februari. Tetapi untuk sementara saja. Dan pada Minggu, 8 Februari kemarin, praktek itu dibuka lagi, lebih cepat sehari dari rencana semula sesuai kesepakatan keluarga, pamong desa, dan kepolisian setempat. Orang-orang yang mencari kesembuhan sudah ribuan yang mengantri. Apalagi sekitar rumah Ponari sudah dipaving semenjak praktek dihentikan kemarin.

Maka ribuan pasien pun datang lagi membanjiri dusun itu. Puncaknya pada hari Senin, 9 Februari kemarin. Betapa tidak, antrian orang pada pagi hari Senin itu sudah mengular hingga pintu masuk Dusun Kedungboto Desa Balongsari. Jaraknya sekitar 3 km dari rumah keluarga Ponari! Kapolsek Megaluh, AKP Sutikno mengaku menyebar tak kurang dari 50000 hingga 60000 tiket per hari untuk keperluan pengobatan itu! “Jumlahnya bahkan bisa meningkat,” katanya. Hampir seluruh personilnya bahkan difokuskan pada pengamanan pengobatan alternatif dukun tiban cilik itu.

Dan mau tidak mau, desak-desakan puluhan ribu orang itu akhirnya makan korban untuk kedua kalinya. Kali ini menimpa Mukhtasor (59) dari Blitar. Pada jarak antrian 200 meter dari rumah Ponari, ia terjepit dalam desakan. Ia menjauh dari kerumunan, dikeroki seseorang, tersengal-sengal, dan ajal lelaki itu pun datang menjemput. Ia sembuh dari penyakitnya, selama-lamanya, sebelum disentuh batu ajaib Ponari. Sorenya, korban kedua pun jatuh. Namanya Marwi (56) dari Jombang. Tetapi dia tidak hendak berobat, melainkan berjualan kacang di tempat itu. Entah mengapa, ketika mau mengambil sepeda pancalnya di penitipan, ia mendadak pingsan. Dan nyawanya pun melayang di tempat.

Pengobatan pun dihentikan. Lagi-lagi untuk sementara. Kapolres Jombang, AKBP Mohammad Khosim mengungkapkan, dengan jatuhnya dua korban (lagi) ini, pengobatan dihentikan. Meski demikian, karena alasan kemanusiaan, dia tidak bermaksud menghentikan pengobatan itu untuk selamanya. Hanya untuk mengurangi resiko jatuhnya korban, akan dibuat sistem baru. Rencana akan dibuat tiga jalur antrian. Salah satunya khusus manula.

“Batu cadas” di tangan Ponari boleh jadi menjadi “patung yang indah”. Betapa tidak? Sejak mulai berpraktek 17 Januari lalu, ia kini “berpenghasilan” 328 juta rupiah, yang sudah disetor ke bank pada Jum’at 6 Februari lalu. Itu setelah dikurangi biaya operasional (sewa tenda, konsumsi “panitia”, pengeras suara, dsb.). Tentu hari ini, penghasilannya sudah berlipat-lipat lagi.

Namun, “patung yang indah” itu apakah memang benar-benar indah? Jatuhnya korban 4 orang meninggal saya rasa jauh dari rasa “keindahan”. Kepercayaan terhadap tuah sebuah batu, yang diperoleh secara “misterius” di tangan seorang “dukun tiban” cilik, yang khasiatnya belum tentu terbukti, adalah “ketidakindahan” yang lebih gawat. Karena ini berkaitan dengan aqidah. Rasulullah saw. bahkan mengatakan, barangsiapa datang kepada tukang klenik, dukun sakti, untuk keperluan kesembuhan atau apapun, maka shalatnya 40 hari akan terhapus berguguran. Na’udzubillahi min dzalik!

Menyulap sebuah “cadas menjadi patung yang indah” saja ternyata tidak cukup. Indah bagi siapa? Indah yang bagaimana? Dari Asep Stroberi dan Mohammad Ponari kita bisa belajar bagaimana seharusnya mengubah sebuah cadas menjadi patung yang sebenar-benar indah. Bukan patung yang keindahannya ternyata semu.

Semoga kita bisa mengambil ibrah dari keduanya.

***

Keterangan.
Sumber gambar:
- pablo dan three musicians: http://en.wikipedia.org/wiki/Pablo_Picasso
- foto rm asep: koleksi pribadi
- ponari: jawapos.co.id versi pdf

Bookmark and Share