Posting ini sebenarnya meneruskan diskusi dengan teman-teman pada posting sebelumnya Pilih Mana: Menjadi Musafir atau Hamba Sahaya? Terutama ketika Mas Khalis Tontowi menyinggung tentang “tafsir” <fii ahsani taqwim>, bahwa manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Tetapi, sebaik-baik bentuk itu tidak sebatas — seperti biasa disampaikan para ustadz — lengkapnya organ anggota badan kita. Lantas apa?

***

Kali ini, saya akan bicarakan tentang kecerdasan. Artikel ini kebetulan dimuat pada Majalah dzikir dan pikir al-Mu’tashim edisi Maret 2009 ini pada rubrik “auladi”. Berikut saya tulis kembali dengan beberapa penyesuaian.

Apakah anak kita cerdas? Ya? Tidak? Bingung? Kira-kira acuan apa yang kita gunakan untuk menjawabnya? Sebagian besar orangtua biasanya akan menggunakan nilai rapor sebagai acuan kecerdasan anak. Anak-anak yang memperoleh ranking, pandai berhitung dan kuat menghafal cenderung dikategorikan cerdas.

Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapatkan ranking? Bagaimana dengan anak-anak perkampungan kumuh Brasil yang jago bermain sepak bola, tetapi mungkin tidak tahu perkalian? Bagaimana pula dengan para pelaut zaman dahulu yang mengarungi samudera hanya dengan mengandalkan konstelasi bintang-bintang di langit? Apakah mereka juga dapat dikategorikan cerdas?

Komunitas SemutMari kita perhatikan semut. Hewan kecil yang kelihatannya tak berdaya itu. Semut ternyata memiliki metode komunikasi yang berbeda berkat organ pengindera mereka yang peka. Mereka menggunakan organ indera ini setiap saat dalam hidup mereka, dari menemukan mangsa hingga saling mengikut sesamanya, dari membangun sarang hingga bertarung. Sistem komunikasi mereka membuat kita — sebagai manusia yang berakal budi — kagum pada 500.000 sel saraf yang termuat dalam 2 atau 3 milimeter tubuh mereka. Harus kita ingat di sini, setengah juta sel saraf dan sistem komunikasi yang rumit tersebut dimiliki oleh semut yang ukuran tubuhnya hampir sepersejuta tubuh kita!

Bagaimana pula dengan manusia yang otaknya saja memiliki 10 s.d. 15 triliun sel syaraf? Masing-masing sel syaraf itu memiliki ribuan sambungan. Dibandingkan dengan semut yang hanya memiliki 500.000 sel syaraf, betapa cerdasnya manusia?

Berkaitan dengan hal ini, Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an — dan kita sudah hapal dengan ayat ini — :

Q.S. At-Tiin: 4

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. ~Q.S. At-Tiin: 4

Menurut Pak Quraish Shihab sebagaimana beliau tulis dalam tafsir Al-Mishbah, bahwa kata <taqwim> berakar dari kata <qawama> yang darinya terbentuk kata-kata: <qa’imah> <istiqamah> <aqimu> dan sebagainya, yang semuanya menggambarkan kesempurnaan sesuatu sesuai dengan obyeknya. Kata <aqimu> yang digunakan untuk perintah mengerjakan shalat misalnya, mengandung arti bahwa shalat harus dikerjakan dengan sempurna sesuai dengan syarat, rukun dan sunahnya.

Kata <taqwim> diartikan sebagai “menjadikan sesuatu memiliki <qiwam>” yakni bentuk fisik yang pas dengan fungsinya. Ar-Raghib al-Ashfahani, seorang pakar bahasa Al-Qur’an, memandang kata <taqwim> di sini sebagai isyarat tentang keistimewaan manusia dibanding binatang, yakni dengan dianugerahinya manusia akal, pemahaman, dan bentuk fisiknya yang tegak lurus. Jadi, kalimat <ahsani taqwim> berarti bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya, yang menyebabkan manusia dapat melaksanakan fungsinya dengan sebaik mungkin.

Jika demikian, tidaklah tepat memahami ungkapan <ahsani taqwim> yakni “sebaik-baik bentuk” sebagai terbatas pada pengertian fisik semata — meminjam istilah Mas Tontowi, 2 kaki, 2 tangan, 2 mata, 1 hidung, dst. Ayat ini dikemukakan dalam konteks anugerah Allah kepada manusia, dan tentu tidak mungkin anugerah itu hanya “sebaik-baik” yang terbatas pada bentuk fisik. Apalagi Allah secara tegas mengecam orang-orang dengan bentuk fisik yang aduhai, namun jiwa dan akalnya kosong dari nilai-nilai agama, etika dan pengetahuan. Sebagaimana firman-Nya:

Q.S. Al-Munaafiquun: 4

Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar…. ~Q.S. Al-Munaafiquun: 4

“Kayu yang tersandar” merupakan sebuah perumpamaan untuk menyatakan sifat mereka yang buruk meskipun tubuh mereka bagus-bagus dan mereka pandai berbicara, akan tetapi sebenarnya otak mereka adalah kosong tak dapat memahami kebenaran. Dalam bahasa kita mungkin setara dengan tong kosong nyaring bunyinya.

Dengan demikian, saya menarik kesimpulan, bahwa setiap diri kita pastilah telah diciptakan Allah menjadi sebaik-baik penciptaan fisik dan psikis sesuai dengan fungsi masing-masing. Setiap anak, setiap diri kita adalah unik, istimewa! Bukankah sidik jari kita tidak ada yang sama?

Berkaitan dengan kecerdasan, Howard Gardner, seorang profesor Universitas Harvard, merumuskan kecerdasan sebagai kemampuan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau menghasilkan produk dalam lingkup suatu budaya atau komunitas. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan “persoalan” bervariasi mulai dari mengarang cerita, menyusun komposisi musik, meluluskan negosiasi politik, sampai dengan menentukan langkah skak-mat dalam pertandingan catur. Dengan demikian, sambung dengan penjelasan ayat di atas, maka sebenarnya setiap diri kita, anak kita, tidak ada yang tidak cerdas. Semua unik, dan keunikan adalah keunggulan dia dibanding yang lain. Semuanya cerdas! Semuanya berpotensi menjadi luar biasa!

Maka sudah waktunya kita menghilangkan pengertian kecerdasan sebagai terbatas hanya pada kecerdasan scholastic saja: matematika, IPA, bahasa inggris, dan sebagainya. Masih banyak kecerdasan yang lainnya.

Sekarang dikenal konsep Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang dicetuskan pada tahun 1983 oleh Gardner. Ia mengelompokkan kecerdasan menjadi tujuh-delapan tipe, yaitu kecerdasan musik, kinestetik-tubuh, logika-matematika, bahasa, spasial, interpersonal dan intrapersonal.

Teori itu dilandasi oleh fakta bahwa kerusakan di bagian otak tertentu akan membuat seseorang kehilangan kemampuan atau keterampilan tertentu. Jadi, Gardner meyakini bahwa masing-masing tipe kecerdasan diatur oleh bagian otak yang berbeda, misalnya tipe kecerdasan interpersonal diatur oleh lobus frontal, sedangkan tipe spasial diatur oleh spasial-belahan otak kanan. Belakangan kita mengenal istilah kecerdasan natural, kecerdasan finansial, kecerdasan spiritual. Mungkin sebentar lagi kita akan mengenal kecerdasan manusia yang tak pernah ditemukan sebelumnya.

Allaahu akbar. Subhaanallaah. Betapa luar biasanya kita? Dan betapa lebih luar biasa di atas luar biasa Dia yang telah menciptakan kita? Semoga kita tidak menjadi sekadar <khusyubun musannadah> sebuah “kayu yang tersandar” di sudut peradaban ini.

***

Keterangan.
Sumber gambar semut: dheryudi.wordpress.com.
Teks Arab Al-Qur’an diambil / dilinked ke www.dudung.net/quran.

Mind mapping posting: lihat di sini atau download.

Bookmark and Share