rumah berbagi para pencari hikmah
Membaca Facebook hari ini menjadikan saya mengerti, bahwa social network semacam ini tidak sekedar merepotkan kita dengan menjawab puluhan friend requests, event invitations, mengupload album foto, mengubah status ‘What are you doing right now?’ setiap waktu, bahkan ketika kita hendak pergi tidur.
Membaca Facebook hari ini, saya mendapatkan energi positif melalui inspiring story dari notes seorang teman dekat di seberang lautan, yang saya yakin ditulisnya spontaneously mengalir dengan sepenuh hati. Saya bahkan percaya jika ia menulis bait-bait ini dengan tetes air mata cintanya. Membaca catatannya membuat saya sadar akan dua hal. Pertama, cinta itu ternyata bisa dipupuk dengan hal-hal yang sederhana. A little means a lot.
Dan kedua, ternyata masih banyak laki-laki di luar sana yang lebih baik dari diri saya (halah!). Setidaknya, dua lelakinya ini. Beribu terima kasih saya sampaikan padanya yang telah mengijinkan saya menulis ulang ceritanya di blog sederhana ini, untuk kita semua, dengan judul posting yang sama dengan judul notesnya. Sebuah judul yang pasti telah dipilihnya dengan segenap cinta. Sebuah cerita sederhana yang tidak sederhana, yang barangkali darinya kita bisa berkaca diri. Yang ditulis dari hati akan menembus sampai ke hati.
***
Aku sudah terbiasa melihat, ibuku menyediakan ayahku,
bagian makanan terbaik untuknya.
Pemandangan yang setiap hari kami lihat,
dan menjadikannya “nilai” budaya.
Aku sudah menganggapnya bagian dari nafas,
yang tidak pernah menimbulkan tanya.
Ayah adalah satu-satunya lelaki di rumah kami.
Seorang lelaki yang kadang membuatku jengah,
karena kadang aku merasa ia terlalu menomorsatukan kami.
Begitu bangga pada kami…, sampai sering membuat mukaku merah bersungut malu.
Aku tidak pernah merasa menjadi anak yang luar biasa.
Tapi ia begitu sering memuji kami di depan temannya,
di depan siapapun yang ia temui.
Aku takut orang lain mentertawakan ceritanya,
sementara aku tak mau seorangpun merendahkannya.
Ia seorang pekerja keras,
untuk keluarganya….
Dan bukan untuknya sendiri.
Sampai saat ini masih membekas di hatiku,
senyumannya saat mengangsur sebuah bingkisan dengan bungkus alakadarnya.
“Selamat Ulang Tahun Lukie,” begitu ia ucapkan dengan senyum mengembang…
di hari Ulang Tahunku yang ke-16.
Bukan, bukan barang itu yang membuat semuanya terasa manis…
tapi bagaimana aku terpesona dengan semua yang telah ayahku lalui
untuk membawa selembar kaos pink dengan gambar penari.
Dan betapa ia penuh energi positif melakukan aktivitas itu.
Dimulai dari bergantungan dengan bus kota di Surabaya seorang diri di hari yang terik,
sementara ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah, tidur,
setelah letih menderanya seharian.
Ayahku tidak pernah sekalipun membeli baju untuk dirinya sendiri,
kalau bukan didorong oleh ibuku dengan setengah paksa,
dan kadang penuh vandalism.. he he he…
Memilih baju adalah kegiatan yang mahalangka ia lakukan.
Tak bisa kubayangkan apa yang telah ia lalui menghabiskan waktu sekian jam seorang diri,
demi mendapatkan sebuah baju untukku….
Dan wajah kepuasan itu, senyumnya, sungguh hadiah yang sebenarnya untukku.
“Lukie, kamu cantik sekali… kaos itu pantas untukmu,”
ujarnya sambil mengamatiku lekat dengan senyumnya yang penuh dengan kepuasan.
Kenangan yang sungguh terasa manis,
dan selalu kuingat setiap tahun…
berpuluh tahun setelahnya.
Kebersahajaannya sungguh mengagumkanku,
walau pada saat yang bersamaan sering meggemaskan….
Karena ia terlalu biasa… tidak seperti ayah orang lain.
Di suatu kesempatan yang lain,
aku diajaknya ke mall.
“Ayuk kita carikan mamamu hadiah…”
“Mamamu pasti suka cincin berlian itu…”
Waaahhh… aku pikir ini bener-bener istimewa.
Aku hampir 99.999% yakin bahwa ini hasil tabungannya selama bertahun-tahun.
Dan Ayahku sudah memperhitungkannya lama sekali, mengetatkan pengeluaran ini itu,
dan sampailah pada waktu membelanjakannya….
Kuamati ayahku yang mondar-mandir di depan etalase mall yang lantainya berkilat,
dengan memakai sendal alakadarnya,
yang pantulannya mengurangi gemerlap lantai mall,
serta kuku kakinya yang pecah di beberapa bagian,
juga kapal kaki yang tebal dan pecah di bagian belakang telapaknya….
Aku hapal benar bagian dari kuku kaki ayahku yang pecah.
Aku suka memotong kuku ayah ibuku, walaupun mereka suka berteriak kesakitan he he he…
Ayahku begitu excited mengelilingi mall, men-cek harga setiap cincin berlian yang menurut penilaiannya bagus sekali dan kira-kira cocok dengan isi dompetnya.
Semakin banyak options yang masuk budget kantungnya,
semakin wajahnya berseri-seri bersaing dengan kilau berlian yang ia cari he he he…
Berikutnya bagiku terlihat begitu romantis….
Dengan bahu bergetar..,
dibungkusnya hadiah yang telah membuatnya mendengkur berbilang tahun,
kelelahan.
Tidak ditemukannya gunting dan lem.
Ia cukup puas dengan selembar kertas coklat yang ada di rumah,
dilipat dan ditindas dengan tekanan kuku tangannya,
dirobeknya dengan hati-hati….
Tetap saja berbekas sobekan yang tak rapi.
Ditulisnya di selembar kertas yang ia sobek pula dari sisa kertas ujian mahasiswanya,
dengan tulisan tegak bersambung dan tekanan penuh,
kata-kata cinta dan selamat untuk ibuku.
Kami tidak menemukan lem.
Dan akhirnya ayahku tanpa mengurangi senyum kepuasan di wajahnya,
merekatkan bungkusan coklat dengan sobekan yang tak rapi itu dengan nasi yang mulai kering,
sisa makanan yang tertinggal di piring adikku.
Berikutnya,
ia sapa ibuku dengan senyum luar biasa.
Sepertinya, jantungnya berdegup lebih kencang,
lebih kencang dari degup semua jantung orang lain disekitarnya,
bersaing dengan degup jantungku, menunggu reaksi Ibuku….
Apakah pilihan/saranku tepat??
Apakah ibuku bahagia??
Karena kepuasan ayahku terletak pada seberapa lebar senyum Ibuku mengembang!
Dua tangannya memegang sebuah kotak kecil perhiasan disembunyikan di balik punggungnya.
Dan berikutnya, aku melihat Ibuku memeluk ayahku bahagia….
Tapi aku 99.999% yakin, ibuku bahagia bukan karena melihat isi kotak itu,
tapi melihat dan merasakan cinta yang ayahku punya untuknya.
Inilah kenangan indah yang kumiliki berbilang tahun,
akan seorang lelaki yang membesarkanku.
“Semoga jodohmu nanti, sekurang-kurangnya, sebaik papamu,”
begitu ujarnya berulang-ulang,
di banyak kesempatan sedari aku kecil.
“Halah…. jauh amattt!” Aku dibuat geleng kepala karena aku gak kepikir pacar apalagi suami!
Atau…
“Ughhh sombong amat…!” Kheki aku dibuatnya.
Berbilang tahun kemudian…,
aku jadi sadar.
Ayahku selalu menggumamkan / berkata demikian
setiap kali ia menjadi saksi keisengan laki-laki yang telah berkeluarga di sekitarnya….
Dan ia sedang berdoa dengan caranya untuk kami,
agar kami anak-anaknya mendapatkan seorang suami yang bertanggungjawab….
***
Pagi ini,
sisa nasi kemaren terlalu sedikit untuk sarapan kami berlima.
Kucuci rice cooker dan menanak nasi.
Sepiring kecil nasi lama aku letakkan di bagian atasnya.
Saat sarapan,
aku mulai menyendok nasi untuk ketiga anakku.
Mungkin karena ibuku biasa melakukannya,
maka akupun menganggapnya menjadi hal yang biasa:
jika nasi kemaren akan kuhabiskan untukku,
dan menyajikan nasi hangat yang baru untuk anakku dan suamiku.
Berbilang pagi selama ini, suamiku berebut nasi kemaren denganku, tapi selalu ia menutup dengan,
“Lalu… siapa yang akan makan nasi kemaren?”
Dan aku biasanya akan menyerah, jika memang sisa nasi kemaren lebih dari 2 porsi,
dan pembicaraan akan berakhir,
dengan suamiku menikmati sepiring nasi kemaren dengan lauknya.
Pagi ini perdebatan ini kembali berulang.
Tapi hari ini menjadi sangat berbeda,
saat kata-katanya menutup perdebatan pagi ini
dengan penjelasannya yang lembut….
“Menurut Rasulullah saw., berkah ada di bulir-bulir nasi terakhir….
Aku menikmati berkah di nasi bulir terakhir….”
dengan senyum ikhlas di wajahnya.
Ayahku adalah sosok yang luar biasa,
yang mendoakan anaknya untuk bersanding dengan seseorang yang lebih darinya.
Pagi ini kurasakan doanya yang setiap saat kudengar,
yang dulu terasa sombong,
menjadi suatu berkah…,
jawaban atas doanya yang berulang ulang… selalu….
Jika ayahku sampai pagi ini masih saja mendapat sepiring nasi terbaik setiap pagi,
maka suamiku dengan ikhlas dan senyum mengembang menikmati nasi kemaren,
dan manganggap bahwa ia mengulum berkah di pengecapannya.
Ia menikmati nasi kemaren tanpa merasa ada yang salah.
Ia bahkan menganggapnya kenikmatan…,
karena ia sedang menjemput berkah….
Ya Allah, jauhkanlah hatiku dari rasa cinta yang terlalu besar untuk Ayah dan suamiku
melebihi cintaku pada-Mu.
***
Ismawan
March 4th, 2009 at 9:57 pm
Subhanallah…
Saya jadi merasa malu banget dengan diri saya sendiri… masih jauh sekali saya dari dua lelaki dalam hidup Lukie itu…
[Reply]
Lukie
March 5th, 2009 at 3:05 pm
How do you know ??? Ya, aku tulis dengan muka sembab, bagaimana mungkin aku yang jauh dari kualitas perempuan utama, mendapatkan begitu banyak nikmat dari Nya ? Betapa Ia maha pemurah…
[Reply]
bahtiarhs
March 5th, 2009 at 3:49 pm
@Ismawan: kita rupanya laki-laki yang senasib, Mas. Tetapi dari keduanya kita bisa mulai belajar tentang cinta. Dan kuncinya, kata Lukie, To be a man is truly no need anything but being yourself with your truly heart.. Nice quote, ya?
@Lukie: pertama, muka sembab bukan monopoli dirimu. Aku telah menulis seseorang yang belum pernah kujumpa yang terpisah berbilang abad, dalam puluhan tulisan, dan sering kuiringi dengan rasa rindu ingin bertemu dengannya yang datang membuncah seketika, hingga kemudian hanya bulir air mata yang akhirnya tanpa terasa mengembang di pelupuk dan jatuh satu demi satu. Kau bahkan telah membaca kumpulan tulisan itu di bukuku.
Apalagi jika kau menulis orang yang pernah sangat dekat denganmu, bahkan kini mendampingi hidupmu. Aku bisa merasakan bagaimana saat-saat jemarimu menari di atas keyboard, menyusun kalimat-kalimat itu, sementara wajah keduanya terbayang di pelupuk matamu sebagai orang-orang yang telah menyayangimu begitu rupa. Kenanganmu bersama mereka begitu dekat. Pastilah sembab matamu sudah bisa kukira. Belum bicara soal faktor wanita he he he.
Sedangkan kedua, kayaknya dulu aku pernah melihatmu menangis, ya? Ha ha ha. Di bengkel, di lab, atau di kosanmu, aku lupa. Cengeng (dikit-dikit nangis) juga faktor yang cukup dominan. Kayaknya kamu melankolis ya?
Jadi tidak sulit menebak apa yang telah terjadi ketika kau menuliskan “Dua Lelaki” itu.
[Reply]
Lukie
March 6th, 2009 at 6:29 am
Bukumu dan tulisanmu selalu luarbiasa, memadukan seni menulis serta pengetahuanmu akan ilmu lainnya yang beragam. Dan yang selalu memikat adalah memberikan pengunci pengukuhan dalil Qur’an atau Hadist… Membaca tulisanmu, dimanapun itu, selalu membawa tetesan embun di hati yang mulai layu dan kering, menyehatkan dan menyegarkan bagi hati yang lain.
Rindumu pada Rasulullah, seolah kamu mengenalnya begitu dekat, seolah ia ada di detak nadimu. Hanya orang yang selalu berusaha mendekat padaNya lah yang mampu mempunyai perasaan demikian. Aku jujur, meng-irikan semua perasaanmu, kedekatan hatimu pada Rasulullah SAW. Semoga berkah selalu menyertaimu serta keluargamu,
[Reply]
Lukie
March 6th, 2009 at 6:32 am
Dan semoga kamu segera diberiNya kesempatan, untuk menapaki semua jejak Rasulullah, bersama isteri dan anak-anakmu. Amien….
[Reply]
bahtiarhs
March 6th, 2009 at 10:05 am
@Lukie: Hey, hey! Aku tidaklah sehebat yang kau kira, Lukie. Tetapi kuanggap kata-katamu mengandung doa untukku dan keluarga. Kabulkanlah ya Allah, kabulkanlah. Amin, ya robbal ‘alamin.
Terima kasih, Lukie. Ini sangat berarti untukku.
[Reply]
baju
May 9th, 2009 at 2:20 am
panjang amat tulisannya, males baca
[Reply]
bahtiarhs Reply:
May 12th, 2009 at 10:18 am
Coba baca dengan tenang, Mas. Dahsyat, lho!
[Reply]
zaki
August 25th, 2009 at 12:05 pm
subhanallah…sangat menyentuh….
@bahtiarhs: tulisannya juga bagus….menguatkan hati….
semoga bisa nulis lagi….yang bisa menguatkan hati kita semuanya…Amiiin
[Reply]