Rasa haru menyelinap hati ketika membaca satu posting di blog dr. Yusuf Suseno. Beliau membuka posting itu dengan sebait puisi:

Lihat, Bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit
~ Subagio Sastrowardojo

Lokasi kecelakaanLalu dokter yang tulisannya di Metropolis Jawa Pos selalu sejuk itu bercerita tentang tiga orang dokter pahlawan yang hilang ketika KM Risma Jaya tenggelam di Muara Kali Aswet, Kabupaten Asmat, Papua Barat, 13 Januari lalu. Ketiganya adalah Dr. Wendyansah Sitompul, PNS lulusan FK UI adalah dokter ahli kandungan satu-satunya di Kabupaten Asmat. Lalu dua dokter umum, dr. Hendy Prakoso dari FK Unair dan dr. Boyke Mowoka dari FK Universitas Sam Ratulangi, yang tengah menjalani masa bakti sebagai dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Kabupaten Asmat.

Tak kurang Menkes mengatakan, “Mereka adalah aset bangsa yang sangat luar biasa. Mereka tulus mengabdikan diri pada masyarakat Asmat yang sangat jauh.”

Inilah paragraf yang buat saya menyentuh, sekaligus menggugat diri:

Doa-doa mereka bertiga tak terdengar oleh kita. Tak terbayang bahkan. Sungguhkah di zaman hedonis seperti ini masih ada dokter yang bertaruh nyawa, untuk masyarakat yang tak mereka kenal sama sekali sebelumnya?

Untunglah mereka ada. Banyak. Ribuan. Hanya saja tak bersuara. Tak pernah masuk dalam berita. Hingga kini, dokter adalah satu-satunya sarjana plus yang siap kirim, siap bekerja ke daerah terpencil Indonesia.

Mereka, para dokter PTT itu bertebaran di daerah terpencil. Meninggalkan sanak keluarga. Bekerja keras menolong sesama yang sakit. Tanpa pamrih. Gaji yang tersendat. Perhatian Pemerintah yang kurang. Tak ada jaminan keselamatan. Tak ada pelampung. Tak ada alat telekomunikasi. Sendiri.

Lalu, pertanyaan itu tertuju pada diri sendiri. Apa yang sudah kuperbuat untuk ibu pertiwi? Untuk saudaraku di tempat yang nyaris tak terjangkau dan tak kukenal? Entahlah. Dunia telah menenggelamkan hal-hal ideal seperti ini kepada hedonisme akut. Dr. Yusuf Suseno pun menutup posting itu dengan sendu. Tulisnya,

Senja kemarin pastilah mendung, basah dan hitam.
Dan di senja itu mereka sungguh sendiri.
Berhadap-hadap dengan maut.
Namun, mereka tak sungguh-sungguh pergi.
Hingga kini mereka masih tetap menebar semangat.
Menghidupi nurani.
Terbang menembus langit hati.

Selamat jalan Dokter Pejuang!

***

Keterangan.
sumber tulisan: Selamat Jalan Dokter Pejuang! di blog dr. Yusuf Suseno.
sumber gambar: blog http://dodovandbrugh.blogspot.com/

Bookmark and Share