rumah berbagi para pencari hikmah
Mendung hitam sore itu seperti payung besar menggantung di atas langit Jakarta. Pikuk tersebar di mana-mana, saat orang-orang pulang dari tempat kerja dengan tergesa. Semua nyaris memiliki gurat yang sama di wajah, tirus dihantui gerimis hujan. Berjalan, bermobil, bermotor, berbemo, berlari. Memenuhi setiap jengkal jalan Kebon Sirih, menyemut ke arah Patung Tani, lalu menyebar ke segala.
Taksi Blue Bird itu menepi dari kecamuk kerumunan dan menghampiri lambaian tangan saya. Saya lantas membuka pintu, duduk di jok belakang, lalu menyebut tujuan. Lelaki di belakang kemudi itu menyambut dengan seulas senyum persahabatan. Ia lalu menginjak gas, kembali ke kerumunan.
“Sore begini saatnya ujian kesabaran, Pak,” kata lelaki itu, sesekali menoleh ke belakang. Sekilas jenggot perak lurus miliknya mengingatkan saya pada sosok Haji Agus Salim. Jangan-jangan sopir itu memang orang Koto Gadang Bukittinggi, pikir saya. Hanya pecinya tampak agak kekecilan. “Banyak orang pintar di Jakarta ini, tetapi sebagian dari mereka bodoh.”
“Maksud Bapak?” tanya saya ingin tahu.
“Sudah tahu macet, tetap saja membunyikan klakson,” jawabnya sambil tersenyum. Patung Tani sudah kelihatan di depan kami. Lampu merah perempatan jalan sedang menyala. “Itu kan orang bodoh namanya, meskipun dia pintar.”
Ia pun kini terkekeh. Saya mengikutinya dengan senyum.
Tiba-tiba dia menunjuk ke atas Patung Tani. Oh, bukan! Ke atas sebuah gedung bertingkat di sebelah kirinya.
“Itu bos Arya Duta datang,” katanya sambil menerawang ke atas atap gedung itu. Gedung yang tak lain hotel Arya Duta Jakarta. Sebuah helikopter merapat ke arah atap, hingga kemudian mendarat mulus. Tiga orang keluar dari dalam perutnya. Seorang diantaranya terlihat berjas dan berdasi. Mereka berjalan ke arah tangga turun, lalu hilang dari pandangan. Heli itu pun kemudian terbang lagi ke arah Barat. “Ia datang dari rumahnya di BSD. Bumi Serpong Damai.”
Saya tak begitu memperhatikan kata-kata lelaki itu. Mungkin itu bagian dari upayanya untuk bisa dekat dengan saya, penumpang taksinya senja itu. Tapi kelihatannya ia memang tahu betul siapa pemilik hotel berbintang itu dan dimana rumahnya. Hanya yang kemudian dikatakannya, buat saya, cukup mengagetkan.
“Bapak tahu. Bos Arya Duta itu telah mensyukuri nikmat Allah. Ya nggak, Pak?” tanyanya, meski kedengarannya seperti tak ingin mendapatkan jawaban dari saya.
“Benar sekali, Pak,” jawab saya sedikit surprised.
“Ya. Jika jalanan Jakarta begini macet, sementara dia memiliki uang yang cukup untuk membeli helikopter, mengapa tidak? Dengan helikopter, ia tidak perlu terkena macet. Justru dengan begitu ia telah bersyukur. Bukan dengan berkendaraan dan bermacet-macet seperti kita ini. Betul tidak, Pak?”
“Betul, Pak,” timpal saya menguatkannya. “Dengan membeli helikopter untuk alat transportasi dengan uang yang ia miliki, ia justru telah mensyukuri nikmat yang Allah berikan padanya.”
Lelaki itu manggut-manggut, merasa ada orang yang sependapat dengannya. “Nah, tidak seperti (maaf) orang China. Meski punya duit banyak, tetapi pakaiannya tetap aja celana kolor kemana-mana,” katanya serius membandingkan. “Itulah jika semuanya dihitung sebagai bisnis. Semua diperhitungkan untung dan ruginya. Padahal, duitnya tidak akan dibawa mati!”
Saya cuma tersenyum. Saya yakin yang dimaksud tentu bukan semua orang China, melainkan sebagian dari mereka saja.
Lampu merah kini telah berganti hijau. Arus kendaraan kemudian mencair ke arah Senen atau menikung ke Cikini. Kehidupan seperti mengalir kembali. Kami terus berbincang seperti tak henti. Tentang sejarah. Tentang Majalengka — tempat lelaki itu dilahirkan, bukan Bukittinggi seperti yang saya kira. Tentang cinta dan patah hati. Juga tentang nasihat-menasihati yang telah lama mati.
***
Seorang lelaki datang kepada Baginda Nabi saw. Pakaiannya lusuh lagi kumal. Penampilannya membuat sedih siapa saja yang memandangnya. Melihat keadaan lelaki itu, Rasulullah saw. lantas bertanya, “Hai kisanak, apakah kamu memiliki harta?”
“Benar, ya Rasulullah,” jawab lelaki itu. “Alhamdulillah, Allah telah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.”
Rasulullah saw. yang agung lantas memberi pesan pada orang itu. “Perlihatkanlah nikmat Allah itu dalam penampilanmu, wahai kisanak.”
Demikianlah Imam al-Baihaqi menceritakan sebuah hadits dalam Syu’abul Iman.
Memperlihatkan nikmat Allah dalam penampilan merupakan bagian dari tahadduts bin ni’mah. Begitulah istilahnya. Tentu saja hal itu untuk menggambarkan kebahagiaan seseorang atas anugerah atau nikmat apa saja yang telah ia terima dari Allah swt.
Rasulullah saw. telah diperintah untuk melaksanakan tahadduts bin ni’mah itu, yang tentu ditujukan juga untuk kita umatnya, melalui firman-Nya:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu (Muhammad) siarkan.“ (Q.S. Adh-Dhuhaa: 11)
Mengomentari ayat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis bahwa perintah “menyiarkan” segala jenis kenikmatan tersebut bisa dilakukan dengan memujinya, mensyukurinya, menyebutnya, dan menceritakannya. Labih luas lagi, Abu Su’ud menyebutkan upaya siar itu bisa dengan menyebarkannya dan menampakkan nikmat itu. Ini sebagai bentuk i’tiraf (pengakuan) atas seluruh nikmat yang telah diterimanya.
Bahkan Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya menyatakan bahwa tahadduts bin ni’mah dengan memberitahukan dan menceritakan kenikmatan merupakan cara memuji Allah yang bersifat khusus dan bentuk tertinggi dari memuji Allah sebagai Dzat Pemberi nikmat.
Oleh karena itu, tahadduts bin ni’mah sangat dianjurkan dengan catatan tidak untuk riya’ dan ujub sehingga justru memunculkan ketidaksukaan orang. Namun jika dikhawatirkan memunculkan dengki dan potensi tindak kejahatan orang lain, maka menyembunyikannya tentu bukan termasuk sikap kufur nikmat.
***
Tentu saja tahadduts bin ni’mah merupakan salah satu manifestasi dari rasa syukur seorang hamba kepada Allah swt. Dalam sebuah hadits disebutkan,
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ :قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
An-Nu’man bin Basyir berkata, “Rasulullah saw. berkhutbah di atas mimbar: ‘Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit, berarti tidak bisa mensyukuri yang banyak. Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah. Sesungguhnya menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur dan meninggalkannya adalah kufur. Bersatu akan membawa rahmat dan bercerai-berai akan mendatangkan adzab.’” (Musnad Imam Ahmad, no. 17721)
Ya, sopir taksi saya sore ini benar. Bos Arya Duta itu telah bersyukur dengan caranya. Naik helikopter. Kita pun bisa tahadduts bin ni’mah dengan cara kita sesuai dengan nikmat yang kita terima. Bukankah demikian?
***
Keterangan.
Sumber gambar: www.thomashoven.com
Informasi lebih banyak tentang tahadduts bin ni’mah bisa dibaca di:
- “Ceritakan Nikmat Yang Anda Dapat!” di http://www.dakwatuna.com
- “Menghidupkan Syukur Sosial yang Terabaikan” pada Majalah Al-Mu’tashim edisi Juni 2008
Nurudin
March 4th, 2009 at 12:59 pm
syukur nikmat dan riya, dua hal berbeda tapi terkadang terlihat sama, hanya niatnya yang membedakannya.
[Reply]