Pada launching buku “Menyambut Umur 40 Tahun” karya ust. Ahmad Syarifuddin hari Sabtu, 21 Maret kemarin, mendadak saya harus menjadi pembicara dan mengapresiasi buku tersebut. Salah satu yang cukup membuat termenung hingga saat ini adalah ketika saya menemukan sebuah hadits tentang usia “maksimal” kita pada halaman 10 dari buku itu. Hadits tersebut berbunyi:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يُجَوِّزُ ذلِكَ – رواه الترمذي وابن ماجه

Usia umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan amat sedikit orang yang melewati (melebihi usia itu). (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kalimat “amat sedikit” seperti menandakan bahwa usia kita “pastinya” tak akan lebih dari antara 60 dan 70. Ini seperti “memerintahkan” kita untuk menghitung mundur sisa umur kita saat ini dari angka batas bawah (60 tahun); kira-kira akan digunakan untuk apa?

Hitungan mundur, dalam perspektif saya, memberi kesempatan buat kita untuk segera melaksanakan apa yang harus dilaksanakan. Setiap hitungan mundur adalah waktu yang sempit. Dalam bahasa Ibnu Umar –seperti komentar saya pada posting terdahulu– jika pagi jangan menunggu sore, dan jika sore jangan menunggu pagi.

Semoga kita bukan termasuk mereka yang suka menunda pekerjaan.

Wallôhu a’lam.

***

Bookmark and Share