rumah berbagi para pencari hikmah
Pada launching buku “Menyambut Umur 40 Tahun” karya ust. Ahmad Syarifuddin hari Sabtu, 21 Maret kemarin, mendadak saya harus menjadi pembicara dan mengapresiasi buku tersebut. Salah satu yang cukup membuat termenung hingga saat ini adalah ketika saya menemukan sebuah hadits tentang usia “maksimal” kita pada halaman 10 dari buku itu. Hadits tersebut berbunyi:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يُجَوِّزُ ذلِكَ – رواه الترمذي وابن ماجه
Usia umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan amat sedikit orang yang melewati (melebihi usia itu). (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kalimat “amat sedikit” seperti menandakan bahwa usia kita “pastinya” tak akan lebih dari antara 60 dan 70. Ini seperti “memerintahkan” kita untuk menghitung mundur sisa umur kita saat ini dari angka batas bawah (60 tahun); kira-kira akan digunakan untuk apa?
Hitungan mundur, dalam perspektif saya, memberi kesempatan buat kita untuk segera melaksanakan apa yang harus dilaksanakan. Setiap hitungan mundur adalah waktu yang sempit. Dalam bahasa Ibnu Umar –seperti komentar saya pada posting terdahulu– jika pagi jangan menunggu sore, dan jika sore jangan menunggu pagi.
Semoga kita bukan termasuk mereka yang suka menunda pekerjaan.
Wallôhu a’lam.
![]() |
***
Nurudin
March 31st, 2009 at 12:59 pm
Jika usiaku kelak mencapai 60-70 tahun, maka sekarang aku sudah berada di pertengahan……….Ya Allah, bimbinglah hamba, agar sisa umurku di dunia ini bisa aku pergunakan sebaik-baiknya………amin.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 3rd, 2009 at 9:01 am
Amin. Turut mendoakan, Mas.
[Reply]
setta
April 7th, 2009 at 6:19 am
Kalau batas bawahnya 60, berarti saya jg sdh hampir separuh perjalanan. Semoga bisa semakin baik di sisa yang entah tinggal berapa lagi. Amin.
Ngomong-ngomong, kok ada tanda tangannya segala, Bang?
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 9th, 2009 at 1:37 pm
Tanda tangan hanya untuk meninggalkan jejak signature, Mas. Yang kedua, sebagai bentuk tanggung jawab bahwa itu memang tulisan saya; sewaktu-waktu jika ada yang mempertanyakan, mengkritik, dll.
Saya terinspirasi oleh posting teman2, Romi misalnya, yang juga membubuhkan tanda tangan.
[Reply]
andri setyawan
April 12th, 2009 at 4:44 pm
waktu ini memang cepat berlalu bang .
semoga Allah SWT.senantiasa memberikan bimbingan pada kita semua.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 27th, 2009 at 8:55 am
amin. terima kasih doa dan kesempatannya meninggalkan jejak komentar di sini, mas.
[Reply]
heri suwartono
April 23rd, 2009 at 2:21 pm
mas bahtiar anda memang hebat. Sejak SMA dulu saya memang mengagumi anda, sebagai calon intan yang bersinar, walaupun mungkin pertemanan kita dulu hanya sekilas karena memang beda kelas. Semoga mati kita di dunia yang singkat ini bisa meninggalkan jejak signature(maaf saya pinjam istilah anda) di hidup kita kelak disana…..
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 27th, 2009 at 9:08 am
Kita semua hebat, mas Heri. Setidaknya kita pernah mengalahkan jutaan kontestan menjelang proses ovulasi. Kita semua juga intan yang bersinar jika istiqamah diasah. Karena itu, segala puji hanya bagi Dia yang memungkinkan segala yang tak mungkin ini terjadi.
Pertemanan sejati itu bukan berdimensi jarak, mas. Tetapi berdimensi ta’awun (tolong-menolong). Karena itu, ada yang bilang, a friend in need is a friend indeed. Teman yang datang mengulur tangan ketika kita sedang memerlukannya, itulah teman yang sejati. Bukan begitu, Mas?
[Reply]