rumah berbagi para pencari hikmah
Setelah ramai pesta nyontreng pada 9 April yang lalu, sekarang anak-anak sekolah sedang diramaikan juga dengan urusan nyontreng terkait ujian nasional. Saat saya SMP dulu, teknik menjawab soal ujian masih dengan cara mencontreng (orang Jawa bilang: cawang) atau kadang dengan tanda silang (X) menggunakan pulpen, tetapi saat ini sudah menggunakan teknologi baru dengan arsiran pensil 2B pada kertas jawaban komputer.
Setidaknya ada 2 fenomena menarik terkait UNAS yang sempat menggelitik hati saya. Pertama, Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP), institusi paling bertanggungjawab atas sukses tidaknya UNAS, menerjunkan tidak kurang dari 1.030.000 pengawas di seluruh Indonesia pada pelaksanaan UNAS mulai hari ini, 20 hingga 22 April. Dan kedua, untuk pengamanan pelaksanaan UNAS SMA tersebut di Jawa Timur saja dikerahkan tak kurang dari 9.330 personel kepolisian dalam sebuah sandi yang dinamakan Operasi Cendekia Semeru 2009. Jumlah ini merupakan dua kali lipat dari personel kepolisian yang dikerahkan pada UNAS tahun sebelumnya.
Untuk apa sejuta pengawas itu dikerahkan? Tentu untuk mencegah terjadinya praktek kecurangan dalam pelaksanaan UNAS. Kita sangat kenal dengan praktek ini: nyontek! Budaya amoral yang telah kita wariskan turun-temurun kepada anak-cucu kita hingga detik ini. Hanya bedanya, dulu kita menggunakan cara-cara kuno seperti gulungan atau lipatan kertas untuk menulis contekan yang kemudian disembunyikan di lengan atau balik baju; kadang kita juga menulisnya di paha, lengan, meja, atau alas menulis. Tetapi sekarang lebih canggih. Pakai teknologi: SMS via HP. Untuk mengelabui pengawas, kadang perlu diselingi ijin buang air kecil dulu ke toilet — padahal yang dilakukan adalah membaca SMS contekan.
Yang juga mengkhawatirkan pelaksana UNAS adalah kebocoran naskah sebelum diujikan. Ini juga praktek nyontek, yang lebih nekat lagi. Betapa tidak? Pelakunya adalah mereka yang terlibat langsung dengan pembuatan dan distribusi naskah. Pejabat terkait, penyusun naskah, pencetak, pengangkut, pengawal, dan yang ketempatan naskah: para guru dan kepala sekolah! Dari bocoran naskah, mereka bisa menyusun kunci jawabannya. Jadi, bukan lagi contekan rumus yang dikirim via SMS ke HP para peserta UNAS, melainkan kunci jawaban! Bukan lagi bahan siap dimasak, tetapi satu porsi menu di atas piring siap dilahap. Aha, betapa enaknya?
Untuk mencegah terjadinya tindak amoral di bidang pendidikan yang suci itulah dikerahkan sejutaan pengawas untuk mencegah nyontek di ruang ujian, dan juga ribuan polisi untuk mencegah nyontek naskah di tengah jalan. Untuk keperluan itu, dana yang digelontorkan pun mencapai ratusan milyar. Tak kurang 59,5 milyar untuk UASBN, 296,9 milyar untuk UNAS SMP/SMA, serta 83 milyar untuk pengawas. Bahkan dana pengawas pun masih dianggap kurang dari riil yang diperlukan sebesar 139 milyar.
Bayangkan, diperlukan hampir 0,5 trilyun rupiah untuk urusan mencegah nyontek saja; atau dalam bahasa Prof. Mungin Eddy Wibowo, Ketua BSNP, “Kami tegas dalam hal ini. Kejujuran harus diutamakan.”
Nyontek atau secara umum ketidakjujuran mungkin sudah berurat-berakar pada bangsa ini. Bahkan itu sangat mengemuka di dunia pendidikan anak bangsa, sampai-sampai upaya untuk meredamnya melibatkan jutaan orang dan milyaran dana. Jika sebuah bangunan suci pengetahuan didirikan di atas pondasi yang keropos seperti ini, apa jadinya output mereka kelak?
***
Apa alternatif model ujian lain agar tak perlu mengerahkan pengawas, polisi, dan menggelontor duit bermilyar untuk urusan nyontek ini?
Rasanya banyak yang bisa dipilih. Pertama, essay open book. Seringkali saat kuliah dulu di Jurusan Informatika ITS, ujian semesteran saya menggunakan sistem yang membolehkan mahasiswa “membuka buku apa saja” ini. Bentuk jawabannya essay. Bukan multiple-choice. Tetapi meski open book, boleh “nyontek abis” dari buku, jangan harap jawabannya tersedia instan di halaman-halaman buku itu.
Kedua, dalam bentuk karya. Ujian praktek-lah gampangnya. Fisika dan biologi mungkin bisa dengan karya hasil penelitian laboratorium atau lapangan. Kalau sewaktu mahasiswa dulu, jika mahasiswa jurusan lain pulang saat liburan semester, kami masih harus mengerjakan sebuah program aplikasi terkait dengan ujian mata kuliah tertentu.
Jika demikian, maka SMS tentu sulit digunakan untuk mengirim contekan. Siswa atau mahasiswa dipaksa ‘menuangkan’ jawabannya atau mengerjakannya dalam bentuk karya. Jadi, tak perlu pengawas. Tak perlu polisi untuk pengawalan naskah ujian, apalagi jika ujian tersebut bisa dibuat lokal saja. Karena bagaimanapun tiap sekolah, tiap daerah, satu dengan lainnya memiliki karakteristik yang berbeda.
Wallahu a’lam.
***
Keterangan.
Sumber gambar: http://dispendik.surabaya.go.id
Ali Ridho
April 20th, 2009 at 11:19 pm
Bener Mas, sebegitu parahnya masalah kejujuran di negara kita. Para orangtua mestinya berasa malu karena tidak dapat menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada para generasi muda penerus bangsa. Selain itu, pelaksanaan ujian yang dinasionalisasikan memang membuat model soalpun menjadi mengkrucut. Parameter kepandaian siswa pun terpaksa terbatasi hanya dgn kemampuan mereka menyelesaikan soal ujian nasional, shg kecerdasan mental, kognitif, afektif, psikomotorik, menjadi terabaikan.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 21st, 2009 at 1:57 pm
Betul, pak dosen. Sampai sekarang saya paling senang membaca rapor anak saya di playgroup / TK. Kualitatif, dan bukan kuantitatif. Tidak hanya penilaian dari aspek kognitif, tetapi juga psikomotorik, afektif, mental, dan non kognitif lainnya.
Ya. Nasionalisasi ujian ini juga mengabaikan aspek muatan lokal, kemampuan siswa dan karakteristik masing2 daerah yang tentu berbeda, dan juga bahwa kecerdasan seseorang itu tidak bisa hanya diwakili dengan angka rata-rata di atas 5.5. Tidak heran jika hari pertama kemarin komentar yang muncul di koran, “Soalnya kok sulit-sulit?”
Jazaakallah khairan sudah muncul kembali. Mengunjungi blog antum, rasanya ada yang hilang. Apa nggak diteruskan nahwu-nya? Sayang lho!
[Reply]
Ali Ridho
April 21st, 2009 at 11:02 pm
Masya Allah. Setuju Mas Beh. Kecerdasan seseorang tidak bisa hanya diwakili dgn satu nilai.
Mengenai nahwu di blog ana, insya Allah diteruskan Mas. Insya Allah besok pagi saya akan balik ke sby, saya akan bawa buku2 Nahwu yg saya tinggal di sby. Nantinya ingin saya dokumentasikan di blog.
[Reply]
zum Reply:
April 22nd, 2009 at 9:03 am
urun rembuk pak hesta, klo ini jurus yang saya lakukan pada mahasiswa saya, klo bikin soal selalu saya kasih soal essay, krn mengandalkan multiple choice hanya ngitung kancing baju aja, klo essay masih ada jawaban yang plek sama ya nilainya tak bagi dua, biar jadi pelajaran bagi mhs yang contek-contekan, dan mereka sudah tau klo soalnya bu zum selalu ada essaynya.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 23rd, 2009 at 10:00 am
wah, bagus itu mbak zum. tapi kalau masalah kesehatan atau keperawatan kan memang susah kalau pakai multiple choice? harus banyak prakteknya kan?
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 23rd, 2009 at 9:58 am
Saya tunggu lho blog nahwunya. Saya sangat bergembira jika antum beritahu nanti ketika diaktifkan kembali.
[Reply]
Fatah
April 23rd, 2009 at 8:58 am
Wah…saya setuju sekali, Pak!
Bukannya karena saya mahasiswa. Tapi, lebih mending ujiannya dalam bentuk essay gitu. Kalo bisa sih open-book. Sebab, selain melatih kemampuan bernalar, juga kita belajar untuk berpikir secara runtut dan logis. Plus, kemampuan menulis jadi terasah.
Dan…resiko atau kemungkinan untuk nyontek bisa diminimalisasi.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
April 23rd, 2009 at 10:03 am
Dan … maksudmu dengan open book nggak perlu belajar. Ya, kan? — Aku tahu isi hatimu, brur!
[Reply]
Fatah
April 23rd, 2009 at 5:45 pm
hahaha… ada benarnya juga.
Tapi, ada salahnya. Bukan berarti open-book, nyebabin saya nggak perlu belajar. Sebab, kalau nggak belajar sebelumnya, minimal baca-baca, kan kita nggak tau harus buka halaman berapa pas ujiannya. repot juga kan???
Yeah, minimal untuk ujian yang banyak membutuhkan data-data seperti kuliah saya di HI, dengan open-book, menjadi lebih gampang…
[Reply]
bahtiarhs Reply:
May 4th, 2009 at 10:24 am
Setuju, Mas. Open-book kalau nggak tahu mana yang harus di-open, ya sama juga boong. He he he.
[Reply]
Tauchid Sjarief Hidajat (guru SMAN 13 sby)
April 24th, 2009 at 8:14 am
sebenarnya, bukanlah metode/model tes yang di ubah, tetapi mental korupsi nilai, korupsi waktu dll yang perlu dibenahi. Meskipun soal essay tp bisa lho nyontoh. Ato korektornya yg ngasih nilai lebih (ini jg korupsi nilai lho mas). he 3x.
Marilah mulai dari diri kita, harus berantas korupsi, pertebal aqidah Islam, sehingga kita bisa mewariskan generasi berkecerdasan Rabbani
[Reply]
bahtiarhs Reply:
May 4th, 2009 at 10:26 am
Ya, ust. Kembalinya ke moral force di sekolah yang mungkin kurang. Dasar dien-nya lemah. Nilai-nilai dasar seperti kejujuran, integritas, harga diri, mungkin tak pernah diajarkan secara nyata, disamping tidak diberikan contoh / teladan yang memadai.
[Reply]
sumitra
April 24th, 2009 at 9:22 pm
Nyontek adalah cerminan mental yang tidak siap, cerminan ketakutan misalanya takut tidak lulus. Nyontek cerminan sikap pemalas ingin hasil baik tanpa kerja keras.Nyontek cerpinan orang yang tidak jujur. Ini masalah sikap mental yang mestinya ditanamkan sejak dari keluarga, di sekolah, dan di masyarakat. Masih banyak ko siswa yang jujur dan anti nyontek ! Bravo jujur
[Reply]
bahtiarhs Reply:
May 4th, 2009 at 10:29 am
Itulah yang saya maksud. Mungkin sebenarnya lebih banyak yang jujur, seperti mas Sumitra. Tetapi karena nila setitik itu, dianggap rusaklah seluruhnya. Untuk mencegah yang setitik itu, cost-nya jadi teramat besar.
[Reply]