rumah berbagi para pencari hikmah
Ini perbincangan ringan menjelang pembukaan acara RUPS kantor kami, 25 April yang lalu. Bukan tentang materi RUPS atau isu-isu terkait dengan perusahaan kami, melainkan soal anak-anak masa kini. Dan pemicunya adalah soal flu Singapura yang kian merebak.
“Jakarta lagi rame soal flu Singapura,” Pak Alkaff buka suara. “Gejalanya seperti flu biasa, tetapi mereka yang terkena mengalami bercak-bercak merah di tangan. Bukan seperti bintik merah demam berdarah, tetapi bercaknya lebih besar dan lebar.”
Peserta yang lain, sekitar sepuluh orang, tampak mengangguk-angguk.
“Saya juga heran,” sambung Pak Abdulkadir. “Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri upacara Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus di SD yang saya kelola. Tempatnya di lapangan. Tidak berapa lama, ada siswa yang jatuh pingsan. Tak lama kemudian, ada lagi yang pingsan. Ada lagi yang pingsan. Ada lagi yang pingsan. Demikian, hingga banyak sekali yang roboh tak kuat berdiri mengikuti upacara di bawah terik matahari.”
Pak Abdulkadir lalu menyatakan keheranannya, mengapa mereka, anak-anak sekarang itu, begitu lemah fisiknya hingga hanya berdiri sebentar dalam sebuah upacara bendera saja tidak kuat. “Padahal, mereka harusnya banyak dijemur!” katanya bersungguh-sungguh. “Mereka harus banyak ditempa dengan pengalaman fisik semacam itu, agar tidak lemah.”
Peserta yang lain mengomentari betapa anak-anak sekarang juga gampang sakit. Pernah Ais, anak saya, terkena flu setelah pulang dari sekolahnya. Ternyata ada 10 anak di kelasnya yang juga tidak pergi ke sekolah keesokan harinya karena mengalami sakit yang sama. “Bahkan di SD saya sudah biasa jika separuh anak-anak satu kelas tidak masuk sekolah karena sakit,” kata Pak Abdulkadir. Lantas beliau bertanya, seperti kepada dirinya sendiri, “Mengapa ya anak-anak sekarang cenderung rentan dan lemah seperti ini?”
“Ada yang bilang karena air yang kita konsumsi,” jawab Pak Alkaff.
“Apakah karena air kita sudah tidak bersih?” tanya Pak Abdulkadir.
“Bukan,” jawab Pak Alkaff. “Justru karena air yang kita minum sekarang terlampau bersih.”
Ya. Karena air PDAM sekarang tidak layak minum, maka kebanyakan kita minum air yang sudah diproses sedemikian rupa menjadi air mineral yang diklaim bersih dari partikel, logam, dan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Bahkan saking bersihnya, zat-zat yang harusnya berguna bagi tubuh ikut “dibersihkan”.
“Dulu, tahun 60an,” sambung Pak Abdulkadir, “air PDAM itu masih kita sebut air ledeng. Pada masa itu, air ledeng langsung bisa kita minum tanpa perlu dimasak. Tetapi pada sekitar tahun 70-80an, air ledeng itu harus dimasak dulu, baru layak untuk diminum. Tetapi saya sendiri merasakan, air yang telah dimasak itu menjadi tidak enak, tidak segar, seperti air ledeng sebelumnya.”
Jangan tanya air PDAM sekarang ini. Bahkan kadang untuk mandi saja bau kaporitnya menyengat, sehingga membuat malas untuk mengguyur badan dengan air itu.
“Anak-anak kita juga kurang bermain di luar rumah,” kata Pak Abdulkadir. “Tidak ada lagi permainan anak-anak seperti dulu. Gobag sodor, engkleng, betengan, nekeran, perang-perangan, yang semuanya dilakukan di luar rumah dan melibatkan banyak teman. Praktis fisik dan hubungan sosial mereka jadi tidak terbina dengan baik.”
“Ya, permainan mereka bergeser cukup di rumah saja. Main PS, game di komputer, bahkan lewat internet,” sambung Pak Alkaff. “Kalaupun mereka bersosialisasi dengan teman-temannya, hal itu juga cukup dilakukan via internet dari dalam kamar. Chatting, ngeblog, friendster, facebook.”
Semua tertawa. Bagaimana tidak, praktis anak-anak sekarang tak perlu bermain di luar rumah, karena begitu asyiknya bermain di depan komputer. Lupa waktu, lupa makan. Lupa, bahwa tubuh mereka kini lebih banyak hanya terduduk di atas kursi, pasif, kurang gerak. Lupa bahwa selain psikis, fisik mereka pun harusnya banyak ditempa di luar rumah.
***
Saya jadi teringat dengan cita-cita Uncle M untuk membuat sekolah anak-anak, dimana tempat belajarnya adalah sungai, sawah, rumah tetangga, pabrik, jalan, pekarangan; termasuk rumah sebagai tempat yang paling utama, dengan guru utamanya adalah ayah dan ibu mereka. Sekolah hanya tempat berkumpul saja. Tetapi sebenarnya mereka belajar bisa di mana saja.
Uncle juga menekankan pentingnya pembangunan fisik ini dengan PHD (Primary Human Development). Sejak kecil, anak-anak sudah dianjurkan untuk dilatih menjulur, merangkak, jalan-jalan-jatuh, loncat. Semacam outbound. Termasuk aktivitas memasak; bahkan mengalami luka teriris pisau ketika mengupas sesuatu dapat dijadikan materi pelajaran.
Gedung percontohan untuk sekolah ini sudah berdiri di Delanggu, Mojokerto, dan siap digunakan. Namun sayang, Allah swt. lebih mencintainya sehingga Uncle M lebih dulu dipanggil-Nya ke haribaan-Nya sebelum cita-cita itu terlaksana pada November 2008 yang lalu.
Kini gedung itu dipakai anak-anak playgroup dan TK PP Mambaul Hikmah. Ibu Naimah (istri Uncle M, Singapura), Pak Khairul Anam Delanggu, dan teman-teman dari Surabaya dan Gresik tengah berusaha membangun kembali serpihan cita-cita Uncle itu untuk diwujudkan.
Insya Allah.
***
Sumber gambar: kegiatan siswa di Budi Mulia, yang sudah menerapkan sebagian program Uncle M.
Informasi lebih banyak tentang program Uncle M, bisa dibaca di buku beliau: Anak Cerdas Anak Mulia Anak Indah, Manshor H. Sukaemi, Arga Publishing, 2007.
Tauchid Sjarif Hidayat (guru SMAN 13 sby)
May 9th, 2009 at 1:19 pm
Ahsan, mas. Memang sekarang zamannya Pak Googel (semua informasi dapat ditanyakan melalui browsing di http://www.Google.com). Yang perlu bagi kita adalah bagaimana memadukan pendidikan berbasis kognitif dan psikomotor. Berbasis kognitif (melalui sekolah, internet , dll), sedangkan psikomotor melalui permainan dengan orang tua, teman dll. Kitalah yang harus pandai menggunakan hal tersebut. Kadang main game agar anak kita ga gaptek, kadang pula main engkle, gobak sodor dll. Saya kagum & bangga punya pakar kayak Uncle M, mudah-mudahan ajaran beliau menjadi amal jariah. Allahummaghfirlahu warhamhu.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
June 2nd, 2009 at 2:32 pm
Kupikir2 harusnya kita kerja berangkat jam 9 dan pulang jam 3 sore, ust. Supaya bisa punya lebih banyak waktu dengan anak2. Kalau tidak demikian, berangkat jam 7 pas anak2 juga berangkat ke sekolah, sementara pulang maghrib, waktu dengan anak2 jadi sangat sempit.
[Reply]
bowo
May 29th, 2009 at 10:07 am
Bener Mas?! Anak-anak kita butuh permainan ‘tradisional’ , disana ada banyak pesan dan pelajaran yang ditanamkan tanpa dalam tanpa disadari, seprti :Olah fisik, strategi dan jalinan sosialnya.
Sayang anak2 kita gak punya lapangan bermain dan waktu, dihimpit industrialiasasi.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
June 2nd, 2009 at 2:33 pm
Aku jadi punya ide membuat Kidzania seperti di Jakarta, tetapi khusus untuk menghidupkan permainan tradisional anak-anak! Ada yang mau join mematangkan ide ini?
[Reply]
tontowi Reply:
June 3rd, 2009 at 7:14 pm
jgn hanya tradisional mas. kebetulan saya wikend kemarin baru bawa anak2 ke Science center Spore. Tp krn anak2 masih kecil (yg terbesar baru mau SD), jd lebih tertarik ke main2 air di luar. Cmn saya jadi malu sendiri, smpat senang krn pernah bawa ke kidzania, eh tnyata di science center, mirip model kidzania, tp dg full scientific (peraga2 fisika, kimia, kinetic, dst). Mgkin gabungan tradisional + science mas
[Reply]
bahtiarhs Reply:
June 3rd, 2009 at 9:56 pm
Di Jatim Park sudah ada science center spt yang sampean sebutkan. Asyik juga sih. Tetapi yang melulu permainan tradisional belum ada.
Kalau aku sih lebih tertarik tradisional saja, tetapi bisa dilengkapi dengan permainan tradisional seluruh nusantara. Wow! Aku belum bisa membayangkan luas areal yang diperlukan, Mas.
bowo Reply:
July 4th, 2009 at 3:07 pm
Rasanya perlu di’dokumentasi’kan dulu.
Dan arti/nilai dari permainan ini kan dalam rangka membangun kecerdasan social, jadi kalo orangnya ganti-ganti gak seru. Kalau pun untuk memacunya perkembangannya mungkin kompetisi Tarkam(Antar Kampung) kali ya?
Weh jadi muncul kecerdasan sosial?? Monggo digali buat jadi tulisan.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 8th, 2009 at 6:19 am
Benar juga Mas Bowo. Kelihatannya harus melibatkan banyak kepala dan otot. Ide kompetisi tarkam-nya bagus juga.
ummu najwa
June 23rd, 2009 at 8:03 pm
mas, sy lbh setuju kalo buat Kidzania yg tradisional. ato spt yg pernah sy liat di TV, di jabar ada kampung wisata. daerah asal sy msh byk sawah dan sungai koq mas. sy pengin dr dulu tapi gak py modal…he….he…he… sy bisa kuat spt skrg jg krn dulu biasa blakrak di perengan, byur2an di kali, cari kayu bakar di kebonan, nyuci ma mandi di sumber, nyari jamur di tumpukan jerami di pinggir sawah, masak singkong di tengah lahan. sy kangeeen banget permainan yg dl sering sy lakukan, jenthikan, be’thor, enggrang, dakon, lompat tali, dll.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 8th, 2009 at 6:21 am
kalau tempatnya di Kediri ya mikir dulu, ustdz. jauh dari mana-mana. he he he. jangan tersinggung ya? tetapi kalau terlalu jauh ya siapa yg mau datang? tetapi ide kita sama rasanya. thanks sharingnya.
[Reply]