rumah berbagi para pencari hikmah
Di tengah-tengah gencarnya isu tentang neoliberalisme yang bergulir diantara panasnya kampanye capres-cawapres 2009-2014, kita membaca dan mendengar berita di berbagai media massa dan elektronik tentang masuknya pengusaha Israel dalam kepemilikan saham ritel raksasa Carrefour SA. Tidak tanggung-tanggung! Dengan suntikan dana tak kurang dari US$ 886 juta (sekitar Rp 8,8 trilyun), kini Koors Industries Ltd menguasai saham 3% pada perusahaan ritel terbesar kedua di dunia itu. Hal mana ini menempatkan perusahaan milik investor asal Israel, Nochi Dankner, itu sebagai pemegang saham terbesar kedua setelah Blue Capital yang menguasai Carrefour 14% saham.
Apa hubungan masuknya investor Israel ke Carrefour dengan neolib?
Hubungannya terjalin pada saat diskusi tentang Kondisi Terkini Peta Perpolitikan Tanah Air Menjelang Pilpres pada acara Multaqo Sanawy Persyarikatan Dakwah Al-Haramain hari Ahad lalu, tanggal 28 Juni di Tulungagung. Pada saat itu ada 2 orang menjadi nara sumber: Amal Witono Hadi, dosen dari Jakarta dan Nizarul Alim, ketua lembaga penelitian Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura. Keduanya teman saya.
***
Mas Nizar memberi ilustrasi, yang menurut saya mudah dimengerti, tentang istilah yang sedang ngetrend itu. Neolib berasal dari kata “neo” (baru) dan “lib”, yakni liberal (yang sebebas-bebasnya). Liberalisme adalah pandangan yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah hal yang paling utama. Di bidang ekonomi, terkait dengan istilah yang sedang ngetrend menyerang cawapres Boediono itu, liberalisme berarti paham yang memberikan kebebasan kepada pasar. Biarlah pasar yang menentukan, yakni diserahkan pada mekanisme supply dan demand. Neolib sama-sama liberalisme, tetapi liberalisme gaya baru.
Berarti ada 2 antitesis terhadap liberalisme atau neoliberalisme:
Intinya, liberalisme atau neolib anti terhadap intervensi pihak lain selain pasar, termasuk intervensi negara. Itu artinya, liberalisme punya akar yang sama dengan sekularisme. Jika sekularisme memisahkan antara agama dengan negara, maka liberalisme (dalam bidang ekonomi) memisahkan antara ekonomi dengan negara.
Dalam ekonomi liberal, perdagangan diserahkan pada mekanisme pasar, yang oleh Adam Smith (1723-1790), Bapak Ekonomi Modern Barat, dikatakan sebagai “tangan-tangan tak terlihat” (the invisible hand) dalam bukunya The Wealth of Nation. Jika demand naik, harga naik. Supply naik, harga turun. Jika demand turun, harga turun. Supply turun, harga naik. Jika demand naik, supply naik. Supply naik, demand turun. Begitulah hingga pasar sendirilah (atau the invisible hand) yang membuat keadaan ini mencapai titik kesetimbangan (equilibrium). Campur tangan dari pemerintah atau negara, dalam pandangan Adam Smith, hanya akan membuat inefisiensi dan harga tinggi dalam jangka panjang. Teori inilah yang dikenal dengan sebutan “laissez-faire” (biarkan mereka lakukan).
Pada masa liberalisme awal sekitar abad 17-18, dunia ekonomi hanya mengenal satu pasar, yakni pasar komoditas (barang dagangan). Ketika pasar komoditas sebuah negara telah mencapai titik jenuh dimana supply sedemikian banyak dan tidak seimbang dengan demand sehingga harga mencapai harga natural (harga produksi) atau bahkan jatuh di bawahnya, maka produsen akan keluar dari pasar. Ia akan mencari pasar yang baru ke kawasan atau negara lain untuk menjual komoditasnya. Di sinilah liberalisme dan imperialisme bertemu jodoh. Demikianlah pada masa liberalisme itu imperialisme pun tumbuh subur. Kawasan Asia dan Afrika adalah dua wilayah yang paling banyak menjadi sasaran perluasan pasar — bahkan kemudian menjadi sumber bahan baku industri — sekaligus tanah jajahan.
Inilah liberalisme “gaya lama”. Penuh kekerasan dan tidak beradab.
Barat kemudian menciptakan pasar-pasar baru di luar pasar komoditas. Jika pasar komoditas bersifat real (barangnya jelas secara fisik), maka pasar baru yang diciptakan tersebut bersifat abstrak, tidak real. Kita kenal kemudian beberapa pasar baru, seperti: pasar modal, pasar saham, pasar valuta asing, pasar hutang dan sebagainya. Barang yang diperdagangkan bukan barang komoditas, melainkan secarik kertas atau selembar uang. Di dalam pasar saham, barang yang diperjualbelikan adalah berupa saham, yakni bukti kepemilikan terhadap suatu perusahaan. Jika aset real perusahaan dihitung, maka nilainya tidak akan sama dengan total harga sahamnya yang naik turun di pasar saham. Demikian pula pada pasar hutang, barang yang diperdagangkan adalah selembar surat hutang. Pada pasar valuta asing, nilai sebuah mata uang berfluktuasi terhadap mata uang lain, tergantung pada supply dan demand di pasar. Itulah mengapa pernah 1 USD seharga Rp 2.500,- pada beberapa tahun lalu, tetapi posisi itu sekarang menjadi 1 USD seharga Rp 12.000,-
Ekspansi pasar baru tersebut ke seluruh dunia sudah terlihat membabi-buta. Hampir tiap negara sudah terlibat di dalamnya, berurat-berakar, bahkan sudah mendarah-daging. Inilah liberalisme gaya baru atau neoliberalisme itu. Kini seluruh dunia sudah terikat dan terlibat dengan liberalisme baru ini, yang ekspansinya tidak lagi perlu dengan kekuatan angkatan perang melalui penjajahan, melainkan dengan cara “penjajahan” yang lebih santun, elegan, dan beradab.
***
Maka penambahan porsi saham Koors Industries Ltd. dari 0,25% menjadi 3% pada Carrefour SA dan karenanya menjadi pemegang saham terbesar kedua di perusahaan ritel raksasa Perancis itu bisa kita baca sebagai bagian kecil dari neolib, “penjajahan” gaya baru itu.
Sebagaimana kita tahu, Carrefour sudah membangun begitu banyak hipermarket di seluruh kota besar di Indonesia, bahkan juga mengakuisisi grup Alfamart dan mengubahnya menjadi Carrefour. Sering ia membangun bisnisnya di dekat pasar-pasar tradisional yang telah lama tumbuh di negeri ini. Hanya sebagai contoh, Carrefour Rungkut Surabaya hanya sepelemparan tombak dari Pasar Soponyono Rungkut. Carrefour Kalimas hanya sekiloan dari Pasar Wonokromo Surabaya. Bahkan Carrefour ITC berhadap-hadapan dengan Pasar Atom Surabaya.
Kita kerap berkoar-koar menolak campur tangan Israel (a.k.a. Yahudi) dalam berbagai bidang di Indonesia ini. Kita bahkan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara itu. Jika sekarang saham Carrefour dikuasai investor dari Israel, apa yang bisa kita lakukan? Ya, neoliberalisme telah menjadikan mereka “menjajah” kita dengan sangat elegan, santun, dan beradab. Kita, bahkan negara pun, tidak bisa campur-tangan mencegah “the invisible hand” bermain di luar sana.
Jadi, apakah Anda masih akan berbelanja ke Carrefour hari ini?
***
Keterangan.
Sumber gambar: Carrefour Rungkut, dari situs carrefour.co.id
Tulisan lain sebagai bahan bacaan bisa dibaca di:
- Pedagang Kecil Makin Tergusur, Rhenald Kasali (http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=8803)
- NeoLiberalisme (http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1377 atau http://id.wikipedia.org/wiki/Liberalisme)
- Adam Smith (http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_Smith)
-
Abi Sabila
July 9th, 2009 at 4:16 pm
Belanja di Carrefour? selama ini dalam benak saya, untuk datang dan belanja ke Carrefour haruslah berbekal uang yang ‘cukup’. Dan sejauh ini, saya belum pernah sekalipun datang apalagi belanja di Carrefour, sudah tentu alasannya adalah saya tidak memiliki uang yang ‘cukup’ untuk belanja di sana.
Jadi merasa harus bersyukur sekarang, lantaran ‘minim’nya keuangan saya, saya jadi bisa merasa tidak pro dengan Yahudi dalam segala kegiatannya. ( Ya Allah, ternyata semua ada hikmahnya, dan kini kusadari itu )
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 13th, 2009 at 4:14 pm
Belanja di manapun ya harus bawa uang cukup, Mas. Kalau nggak cukup ya gak bisa beli. He he.
[Reply]
dayana
June 16th, 2010 at 9:59 am
Halo..salam kenal..
Visit me @ http://www.unand.ac.id/arsipua/datastaff/
Trimakasih^^
[Reply]