rumah berbagi para pencari hikmah
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar,
namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang,
namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang.
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya,
seperti keledai terbaring dalam lumpur.
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan
Bagaimana cinta menurut Anda?
***
Abi Sabila
July 15th, 2009 at 10:20 am
Cinta….
Cinta itu ibarat kata cahaya
Yang ditulis dengan cahaya
Diatas lembaran-lembaran cahaya
Beberapa diantara kita
Telah menulis cinta dengan kehitaman tinta
Yang menggelapkan mata
Namun justru!
Jika bukan karena hitamnya tinta beberapa orang itu
Maka tentulah kita akan buta
Dalam ruangnya yang penuh cahaya
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 21st, 2009 at 6:04 am
Cinta itu cahaya. Sebuah metafora yang pas Mas. Kerana cinta tak akan kehilangan apa-apa ketika dipancarkan dan menerangi siapa saja yang dicinta. Bahkan akan bertambah-tambah karenanya. Ia pun tak mengapa, apakah akan diserap, dibiaskan, atau dipantulkan hingga membuat yang gelap menyala seperti bulan dan bintang-gemintang.
[Reply]
setta
July 18th, 2009 at 1:35 am
cinta ya cinta …
*itu mah judul sebuah cerpen, ding
belum sampai ke sana ilmunya, bang ^_^
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 21st, 2009 at 6:12 am
“Belum sampai ke sana ilmunya.”
Ah, jangan keliru adik. Bahkan kita ada juga kerana cinta. Jadi, ilmu tentang cinta sudah disemayamkan dalam diri kita sejak semulajadi. Kita sudah mempelajarinya sejak menetek pada ibunda untuk pertama kali. Hanya cintalah yang dipelajari dengan praktek nyata, tanpa perlu teori-teori. Karena sebanyak apapun cinta dituliskan, cinta belum juga terdefinisikan. Sedalam apapun cinta diajarkan, cinta belum akan sampai ke dasarnya.
[Reply]
setta Reply:
July 21st, 2009 at 4:51 pm
oh, gitu ya, bang
berarti cinta juga adalah pelangi …
[Reply]
bahtiarhs Reply:
July 23rd, 2009 at 8:30 am
benar sekali. cinta itu pelangi, berwarna-warni, tetapi pada hakekatnya ketika dipadukan akan menjadi satu warna: putih. suci. warna-warni hanyalah pengejawantahan cinta yg mkn berbeda-beda, tetapi pada hakekatnya menuju Yang Satu. Yang Maha Suci. Yang Maha Cinta.
sfti
August 11th, 2009 at 9:55 am
cinta itu memberi tanpa batas tapi tidak mengharap kan balasan…. karna cinta itu adalah suatu keiklasan yang tertanam dalam hati…
[Reply]
bahtiarhs Reply:
August 11th, 2009 at 11:34 am
hmmm… memberi tanpa batas. sebuah sudut pandang cinta yang luar biasa. kiranya begitulah Sang Maha Cinta ketika mencintai kita. diberiNya kita dengan segala, meski sering kita melupakan-Nya. Bahkan tak sedikit yang meng-kufuri-nya. Tetapi itu semua tak membuat cinta-Nya berkurang sedikitpun.
[Reply]
ridho
August 21st, 2010 at 1:42 pm
cinta?
apakah itu?
orang membicarakannya tak henti-henti
seakan tak ada bahan lain
seakan tak ada yang lebih penting selainnya
sampai2 ada orang yang mengorbankan apa saja untuknya.
hi…
aku tidak mau
aku tidak mau terperdaya olehnya.
cukuplah bagiku pengabdian kepadaNya.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
August 26th, 2010 at 5:33 pm
mas ridho. justru pengabdian kepadaNya itu adalah wujud cinta tertinggi
Bukankah Dia Maha Cinta?
[Reply]