Dr. Anis Malik ThohaSebenarnya sudah terlalu siang bagi saya pada Sabtu, 27 Juni yang lalu, untuk berangkat ke Tulungagung. Sebab acara itu dibuka sehabis zhuhur. Sementara penerimaan raport Ais dan Fia, anak saya, di SD Kreatif hari itu baru akan selesai menjelang adzan zhuhur. Dan perjalanan ke kota marmer itu akan menjadi semakin molor dan jauh jaraknya, ketika dr. Abdul Ghofir, direktur INPAS itu, menelepon dan meminta tolong saya untuk menjemput Dr. Anis Malik Thoha yang sedang berada di Universitas Brawijaya Malang. “Beliau mau mengisi acara di tulungagung, iso tho sampean mampir Malang dhisik?” pintanya di telepon.

Biasanya kita enggan molor atau bertambah jauh jarak untuk sampai ke sebuah tempat. Tetapi, tawaran molor dan jauh jarak kali ini justru menggembirakan saya. Jika selama ini hanya kenal nama, insyaAllah kini saya justru akan seperjalanan dengan Mas Anis, asisten profesor pada Department of Ushuluddin and Comparative Religion, International Islamic University Malaysia (IIUM) itu. Maka saya menyambut permintaan Mas Ghofir itu dengan penuh suka-cita, meski harus menembus Porong yang macet dan menyempal ke arah Malang, menjauhi jalan biasanya dari Surabaya menuju Tulungagung.

Orangnya ternyata ramah dan rendah hati — sebetulnya saya sudah menduganya seperti foto dirinya yang sederhana. Rada ndesani dan njawani. Pantas saja, karena ia kelahiran Demak, Jawa Tengah — karena itu saya kerap pakai bahasa Jawa berbincang dengannya — meski sekarang tinggal di Kuala Lumpur bersama keluarga karena mengajar di IIUM. Bahkan beliau dipercaya sebagai Deputy Dean (mungkin setingkat Wakil Dekan) di departemen Ushuludin dan Perbandingan Agama itu.

Mas Anis dijuluki sebagai Pakar Pluralisme Agama oleh Dr. Adian Husaini karena peran besarnya dalam menjelaskan kedudukan pluralisme pada forum-forum internasional. Di samping ladang pengajarannya di IIUM, latar belakang pendidikannya pun (Comparative Religion di International Islamic University Islamabad, Pakistan) sangat mendukung kepakarannya dalam permasalahan ini. Dan di Tulungagung pun, beliau akan membawakan makalah tentang Pluralisme Agama.

“Wah, sampean sudah menulis berapa buku, Mas?” tanya saya sewaktu di penginapan yang disediakan panitia di Tulungagung. Saya menemaninya mempersiapkan makalah untuk esok hari.

Bapak beranak 5 orang itu cuma tersenyum. “Baru satu, Mas,” katanya merendah. Buku yang dimaksud berjudul Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis (Perspektif GIP, Jakarta, 2005).

“Wah, baru menulis satu buku sudah dapat award, ya?” kata saya surprised. Buku itu mendapat penghargaan sebagai Best Non-Fiction Book Award pada Islamic Book Fair 2007.

Mas Anis cuma tersenyum. Saya baca CV-nya, sebenarnya beliau menulis satu buku lagi. Berbahasa Arab, berjudul Al-Ta’addudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah (IIUM, Kuala Lumpur, 2005). Kelihatannya ini juga tentang pluralisme agama, yang juga mendapatkan penghargaan, yakni Isma’il Al-Faruqi Publications Award dari IIUM tahun 2006.

“Sampean nulis buku satu saja sudah dapat award. Kenapa belum menulis buku lagi, Mas?” kejar saya.

Lagi-lagi laki-laki yang menguasai 4 bahasa (Arab, Inggris, Malaysia, Urdu) — disamping Jawa tentu saja — itu cuma tersenyum. “Waktunya, Mas,” jawabnya singkat. Tetapi saya yakin itu jawaban rendah hati saja.

Gak nulis blog, Mas?” tanya saya lagi. “Seperti Mas Adian Husaini itu, lho!”

“Ngupdate-nya yang harus rutin itu lho, Mas, masalahnya,” katanya, masih dengan senyum. Padahal saya yakin di benaknya mungkin sudah begitu banyak meluber apa yang harusnya bisa ditulis di dalam sebuah blog, dengan topik khusus lagi: tentang pluralisme agama.

***

Pada kesempatan Multaqo Sanawy Persyadha di Tulungagung itu, Mas Anis Malik Thoha membawakan makalah tentang Pluralisme Agama: Strategi Barat dalam Penghancuran Umat Islam, sebagaimana permintaan panitia. Saya tiba-tiba didapuk menjadi moderator ketika sedang menyiapkan laptop, makalah mas Anis, dan mencoba LCD proyektor.

“Sampean kan belum dapat giliran moderator,” sergah Mas Anang, panitia seksi acara.

“Lho, aku nggak ada penugasan menjadi moderator, lho,” elak saya.

“Mestinya kemarin. Moderator ust. Arif Wibowo,” kata lelaki Tuban itu seraya menyodorkan jadwal acara. Nama saya tertulis sebagai moderator di sana.

“Lhah, kok aku tidak dikasih tahu?”

“Nah, sekarang ini saya kasih tahu,” kata Mas Anang di atas angin.

Jadilah saya moderator dadakan Mas Anis Ahad pagi, 29 Juni itu1. Tentu saja waktu 2 jam yang disediakan panitia tidaklah cukup membahas isu semenarik Pluralisme Agama. Bahkan ceramah pengantar Mas Anis selama 1,5 jam pun belum menghabiskan separuh dari makalahnya. Saya harus memutus ceramah yang baru menginjak pembicaraan tentang definisi pluralisme dan memulai tanya jawab hingga batas waktu panitia terpaksa menyudahi semuanya.

Tidak puas memang. Tetapi, mudah-mudahan wawasan baru tentang isu yang lagi marak ini bisa mencerahkan para peserta di aula SD Al-Azhar Tulungagung itu. Amin.

Setelah turun panggung, Mas Anis sudah dijemput oleh Mas Zainal dkk. dari INPAS untuk diculik ke Jember. Mas Anis akan menjadi narasumber pula di sana dengan topik yang kurang lebih sama.

“Saya ke Indonesia ini bahkan belum sempat mampir rumah di Demak,” katanya kepada saya. “Pertama datang langsung diminta mengisi kajian di INSIST Jakarta. Lalu kemarin di Surabaya, Malang, dan hari ini di sini. Besok di Jember.”

“Semoga menjadi perjalanan yang penuh berkah, Mas,” doa saya, sebelum kemudian beliau berpamitan.

“Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan, Mas,” harap Mas Anis, lalu masuk ke mobil setelah bercium pipi dengan saya.

***

1Biar tidak terlalu panjang, maka catatan saya tentang makalah dan presentasi Mas Anis akan saya sampaikan pada posting berikutnya. InsyaAllah.

Keterangan.
Sumber gambar mas Anis: website IIUM (http://iiu.edu.my/irkhs).
Lebih jauh tentang Mas Anis bisa didapat di CV beliau: http://iiu.edu.my/irkhs/?page_id=960
Apresiasi terhadap bukunya, Mas Adian pernah menulis di Catatan Akhir Pekan Hidayatullah di: http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2267&Itemid=55

Bookmark and Share