[Catatan Ramadhan 1430 H #3]

Siang terik. Sawah kering, hangat seperti mengeluarkan uap dari pori-porinya. Semangka yang ditanam di sana tampak rimbun karena sedang berbuah. Panen tinggal menunggu hari.

Seorang petani tua berjalan menepi, membuka topi capingnya, meletakkan cangkul di bawah kakinya, lalu berbaringan di bawah pohon beringin di tepian sawah itu. Angin semilir, membuat peluhnya yang bercucuran pun perlahan berhenti.

Sejenak ia memperhatikan buah-buah beringin yang bergantungan di atas kepalanya. Lalu ia menengok ke arah hamparan sawah. Nyatalah dalam pandangan matanya terhampar dua kenyataan yang sungguh kontradiktif.

“Ah, Tuhan ternyata tidak adil,” gumamnya lirih. Ia melirik buah beringin di atas kepalanya. “Beringin segini besar kok dikasih buah yang kecil-kecil seperti itu.”

Tentu saja kontras dengan semangka yang ia tanam pada hamparan sawah di depannya. “Semangka yang pohonnya sekecil itu, merambat lagi, kok dikasih buah yang besar-besar, sebesar kepala. Tentu saja ia tak kuat, sehingga hanya bisa menjalar di atas tanah.”

Petani itu mengalihkan pandangan dari semangka ke beringin, dari beringin ke semangka. “Harusnya,” simpulnya, “buah beringin sebesar buah semangka dan buah semangka sebesar buah beringin. Itu baru Tuhan bisa disebut adil.”

Saking penatnya, petani itu pun tertidur di bawah rindang pohon beringin. Angin bertiup, makan lama makin kencang. Tiba-tiba sebiji buah beringin yang sudah ranum lepas dari tangkainya karena tak kuat menahan tiupan angin. Buah itu lalu jatuh dan menimpa petani yang sedang tidur pulas itu tepat di hidungnya.

Seketika petani itu terbangun dan mendapati apa yang baru saja menimpa hidungnya. Sebiji buah beringin. Lalu ia bergumam, penuh penyesalan, “Sungguh, Tuhan Maha Adil, yang telah menciptakan buah beringin kecil-kecil seperti itu. Coba andaikata buah beringin sebesar buah semangka, tentu hidungku sudah pesek dan mukaku benjut tertimpa buahnya.”

***

Hanya dua kata. Ringan terucap, tetapi sulit diterap. Husnuzh-zhon. Baik sangka. Padahal jika bolehlah berandai, inilah kunci kebahagiaan dunia. Mungkin juga akhirat. Betapa tidak? Dua kata itu berujung pada ikhlas, nrimo, ridho. Semuanya bermuara di relung hati. Andai setiap orang berbaik sangka, terhadap apa saja yang terjadi, menjadi, dialami, dan menimpa dirinya, maka dunia akan damai tanpa perlu konvensi. Jika setiap orang berbaik sangka, tak ada lagi tuntut-menuntut, bukan?

Demikianlah Islam datang dengan baik sangka. Orang yang mukmin adalah orang yang penuh dengan baik sangka. Jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur. Jika ia mendapat musibah, ia bersabar. Keduanya adalah ‘praktik baik sangka’ kepada Allah. Jika urusan dunia, pandanglah yang lebih rendah dari kita. Jika masalah agama, pandanglah yang lebih tinggi dari kita. Keduanya pun ‘praktik baik sangka’ kepada Allah, juga pada orang lain.

Pernah saya sampaikan, bahwa Allah memberikan sesuatu anugerah kepada kita tidak dalam bungkusan yang indah. Ia justru memberikannya sering dalam wujud bungkusan yang ruwet. Ia nampaknya ingin melihat kita bagaimana bisa terus menjaga sikap ‘baik sangka’ untuk setiap lapisan demi lapisan bungkusan yang kita buka, hingga nampak anugerah itu bagi kita. Bukankah Dia tergantung pada persangkaan hamba-Nya? Jika kita menyangkabaik pada-Nya, tentu ia akan melakukan hal yang sama pada kita. Bahkan jauh lebih baik. Bukankah jika kita berjalan mendekat pada-Nya, Ia akan berlari mendekat pada kita?

Menyangka-Nya jahat, tidak Adil misalnya, menjadi tidak mungkin. Karena sifat jahat mustahil melekat pada-Nya. Demikianlah Ja’far Subhani dalam bukunya Al-Amtsal fil Qur’an (Wisata Al-Qur’an, Penerbit Al-Huda, Januari 2007) menerjemahkan ayat An-Nahl: 60 pada kalimat “wa lillaahil matsalul a’laa” dengan “Dan Allah memiliki sifat (matsal) yang Maha Tinggi“. Ini bermakna Dia suci dari penyifatan segala sesuatu yang tercela dan buruk. Setiap sifat yang dibenci tabiat dan ditolak akal pasti bukan milik-Nya. Jadi, di satu sisi ia mustahil menyerupai sesuatu pun (laisa kamitslihi syaiun). Di sisi lain, kalaupun ia disifati, maka sifat-Nya tinggi (‘aali) bahkan yang tertinggi (a’laa).

Jika demikian jelas bahwa tidak ada ruang buat kita ketika ngerasani Tuhan kecuali dengan persangkaan yang baik saja.

Bagaimana jika kita terlanjur bersangkaburuk terhadap sesuatu? Gampang. Persangkaan adalah kesan atau persepsi terhadap sesuatu dari satu sudut pandang. Mengubah sangka buruk menjadi sangka baik kiranya cukup dengan mengubah persepsi dari sudut pandang yang satu kepada sudut pandang yang lain. Apa yang Anda rasakan ketika memandang sakit sebagai sebuah penderitaan? Sekarang bandingkan jika penyakit itu dipandang sebagai penggugur dosa.

Itulah sudut pandang. Mengubah sudut pandang akan memberikan hasil persepsi yang lain, tak jarang yang lebih baik. Seperti petani pada cerita di atas ketika memersepsi buah beringin yang kecil dikaitkan dengan keadilan Tuhan. Hasilnya sungguh berbalik 180 derajat.

Lebih dari itu. Mengubah persepsi terhadap sesuatu kepada sudut pandang yang menghasilkan persangkaan yang baik akan membuat kita nggak capek, sebagaimana jika kita selalu memersepsi segala sesuatu dari sudut pandang sangka buruk.

Wallahu a’lam.

***

Keterangan
Sumber tentang petani dan pohon beringin: ceramah menjelang berbuka KH.Zainuddin MZ di sebuah televisi swasta beberapa waktu lalu.

Bookmark and Share