as-salaam[Catatan Ramadhan 1430 H #4]

Subhanallah!

Hanya itu yang pantas terucap. Betapa tidak? Kiranya benar, bahwa segala yang terjadi di dunia ini, hingga gugurnya selembar daun dari pohonnya dimana entah di atas bumi, sudah tertulis dalam skenario-Nya. Termasuk kaitan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, laksana keping mozaik yang kelak dipersatukan oleh waktu. Cepat atau lambat.

Baru saja kemarin saya posting tentang berprasangka baik sebagai kunci kedamaian di dunia. Pada giliran membaca hadits hari Ahad, 29 Agustus, hari ini, hadits tersebut ternyata berkaitan erat dengan berprasangka baik, khususnya kepada Allah swt. Hadits itu berkaitan dengan nama Allah as-Salaam. Dan saya menemukan benang merah dengan prasangka baik seperti menemukan potongan mozaik yang lantas tersusun ketika menyelami sifat Tuhan ke-6 ini.

***

Hadits tersebut berbunyi:

اِنَّ السَّلاَمَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالى فَافْشُوْهُ بَيْنَكُمْ

“Sesungguhnya As-Salaam (perdamaian) adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Ta’ala, maka sebarkanlah salam diantara kalian.”

Asmaaul Husna adalah nama-nama Allah yang terbaik, amat sempurna, dan tidak sedikitpun tercemar oleh kekurangan. Yang populer kita kenal jumlahnya 99 nama, meskipun sebagian ulama ada yang menyatakan jumlahnya 127, 132, lebih dari 200, bahkan menurut Abubakar Ibnul Araby – seorang ulama madzab Maliki – terdiri dari 1000 nama.

Hadits ini berbicara tentang salah satu nama dari Asmaaul Husna itu, yakni As-Salaam. Nama ini terambil dari kata salima yang bermakna keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela. Dari akar kata salima ini terlahir kata: yaslamu – salaaman – saliiman – islaaman. Sehingga, senada dengan as-salaam, maka Islam yang berasal dari akar kata yang sama bermakna (agama) keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian.

Allah memiliki nama as-Salaam, berarti Allah itu dzat yang memiliki keselamatan dan keterhindaran dari aib dan kekurangan. Ada juga yang berpendapat, bahwa Allah menghindarkan semua makhluk dari penganiayaan-Nya. Sedangkan menurut Al-Ghazali, makna as-Salaam adalah keterhindaran dzat Allah dari segala aib, sifat-Nya dari segala kekurangan, dan perbuatan-Nya dari segala kejahatan dan keburukan.

Dengan demikian, tiada keselamatan dan keterhindaran dari keburukan dan aib di dunia ini kecuali semua itu bersumber dari Allah swt. Karena ia as-Salaam.

Karena itu sungguh mustahil jika Allah berbuat aniaya terhadap makhluk-Nya. Sebagaimana Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia sendiri itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. ~Q.S. Yunus: 44

Kalau demikian halnya, maka segalanya diciptakan Allah dan segalanya itu baik, tidak ada yang buruk. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

Dialah yang membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. ~Q.S. As-Sajdah: 7

Dari sejumlah kenyataan ini, maka keburukan pada akhirnya hanyalah bersifat nisbi, yakni akibat keterbatasan pandangan manusia saja. Maka sungguh di balik segala sesuatu — sekalipun oleh nalar manusia mungkin dipandang sebagai keburukan — sebenarnya terkandung kebaikan yang lebih besar. Ini seperti seorang anak yang menyaksikan sulaman ibunya dari bawah. Yang terlihat adalah kesemrawutan, benang sulam yang berkelindan jelek tak berbentuk. Tetapi ketika ia naik ke pangkuan lalu melihat sulaman itu sebagaimana ibunya melihat, maka yang terlihat hanyalah keindahan belaka.

Karena itu, prasangka baik terhadap segala yang menimpa kita, segala yang kita alami, adalah kunci memahami ke-as-salam-an Allah; bahwa tidaklah mungkin segala sesuatu Dia berlakukan pada diri kita kecuali terkandung kebaikan belaka bagi diri kita sendiri.

***

Untuk meneladani Allah dalam sifat as-Salaam ini kita dituntut untuk selalu menyebarkan keselamatan dan kesejahteraan di muka bumi, menghindarkan diri dan hatinya dari segala aib dan kekurangan, dengki dan hasud, serta kehendak berbuat jahat. Tidaklah apa yang kita lakukan kecuali selalu mengandung kebaikan. Jika setiap diri bersifat sebagaimana sifat as-Salaam ini, maka pastilah kedamaian yang tercipta.

Oleh karena itu, Nabi saw. menganjurkan kita untuk menebarkan salam. Menebarkan salam di sini, menurut hemat saya, mengandung dua pengertian. Salam sebagai keselamatan, perdamaian, kesejahteraan dan keterhindaran dari kejelekan dan aib, sebagaimana sifat as-Salaam Allah swt. Dan juga salam dalam arti ucapan salam. Sebagaimana dalam banyak hadits Rasulullah saw. memerintahkan untuk menebarkan salam diantara kita. Misalnya,

Rasulullah saw. bersabda: “Kamu tidak akan masuk ke Surga hingga kamu beriman, kamu tidak akan beriman secara sempurna hingga kamu saling mencintai. Maukah kutunjukkan sesuatu pada kalian yang apabila kalian lakukan akan saling mencintai? Biasakanlah mengucapkan salam di antara kalian (apabila bertemu).” ~HR. Muslim

Sudahkah kita menjadi bagian dari mereka yang menebarkan salam di muka bumi ini?

Wallahu a’lam.

***

Keterangan.
Sumber gambar: http://i95.photobucket.com/albums/l126/Shaharazed/
Sumber bahan tulisan:
- Menyingkap Tabir Ilahi, Asmaaul Husna dalam Perspektif Al-Qur’an, M. Quraish Shihab, Penerbit Lentera Hati, April 2001
- Wisata Al-Qur’an (Al-Amtsal fil Qur’an), Ja’far Subhani, Penerbit Al-Huda, Januari 2007

Bookmark and Share