rumah berbagi para pencari hikmah
Inilah makalah yang disiapkan Mas Anis Malik Thoha pada presentasinya tentang Pluralisme Agama: Strategi Barat Dalam Penghancuran Umat Islam pada acara Multaqo Tsanawy Persyarikatan Dakwah Al-Haromain tanggal 28 Juni yang lalu — sebagaimana saya janjikan pada posting sebelumnya.
Pluralisme agama, kata Mas Anis, bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia tidak lepas dari grand strategy Barat pasca tragedi 11/9, bahkan jauh sebelumnya. Tragedi 11/9 merupakan rentetan peristiwa bertaut sejak berakhirnya era Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Sovyet (1947-1991). Menurut analisa para pakar Barat, pasca perang bertahun-tahun yang dimenangkan Amerika Serikat itu, tersisalah 2 kekuatan yang apabila bersatu akan dapat mengalahkan mereka; yaitu Konghucu (China) dan Islam. Maka harus ada upaya agar kedua kekuatan itu tidak bergabung.
Namun, dari dua kekuatan itu, Islamlah yang dipandang Barat akan eksis dan mampu menyaingi bahkan mengalahkan mereka. Itulah kesimpulan Samuel Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization (1996). Maka, dimulailah perang yang lebih santun dan tidak melalui senjata, yakni perang ide (the war of ideas) untuk memenangkan perang melawan terorisme (the war on terrorism). Dalam perang inilah Barat menempatkan Islam sebagai target atau musuh utama.
Muncullah kemudian cap (stereotype) kepada Islam sebagai barbar, radikal, teroris, tidak punya toleransi, tidak berperadaban (uncivilized), dan sebagainya. Semua hal negatif itu diklaim sebagai datang dari ajaran Islam itu sendiri. Tulisan yang bernada miring, terutama terhadap Islam pun terbit. Charles A. Kimball misalnya menulis buku When Religion Become Evil (2003). Dalam buku yang masuk Top 15 Books on Religion for 2002 oleh Publishers Weekly ini Kimball menengarai ada 5 tanda suatu agama menjadi jahat (corrupt religion). Dua diantaranya adalah jika suatu agama mengklaim sebagai satu-satunya agama yang benar (absolute truth claim) serta ketika agama itu mendeklarasikan perang suci (holy war). Keduanya ada di dalam Islam. Dengan demikian, menurut tesis Kimball ini, Islam termasuk agama yang jahat itu.
Karena itu, Islam harus “dijinakkan”, yang untuk keperluan ini, Amerika telah membelanjakan jutaan dollar. Daniel E. Kaplan dalam artikelnya “Hearts, Minds, and Dollars: In an Unseen Front in the War on Terrorism” menulis, “America is spending millions … to change the very face of Islam.” (www.usnews.com, 25 April 2005). Dana itu digunakan mulai dari produksi media, workshop tentang Islam, perubahan kurikulum agama mulai pesantren hingga perguruan tinggi Islam. Bahkan kini sedang diusahakan sebuah kurikulum tentang multikulturalisme.
***
Sayang waktu yang disediakan panitia kala itu terbatas sekali, sehingga tidak seluruh makalah bisa disampaikan Mas Anis. Tetapi pembahasan tentang pluralisme bisa dibaca juga pada beberapa artikel postingan beberapa teman dengan narasumber yang sama. Diantaranya:
***
Ketika beberapa hari kemudian saya bertemu dengan seorang teman yang sedang kuliah di Malaysia dan menyinggung tentang fenomena Pluralisme Agama ini, dia menjawab, “Di Malaysia ya ada diskusi tentang topik ini. Tetapi tidak sepesat di Indonesia. Menurut pengamatan saya, justru jika Pluralisme Agama itu dibicarakan dimana-mana malah membesarkan mereka. Padahal tidak ada apa-apanya. Seperti di Malaysia pernah ramai tentang feminisme. Tetapi begitu masyarakat membiarkannya, cuek, tidak ditanggapi, mereka akan surut dan hilang dengan sendirinya.”
Betul juga, ya?
***
Keterangan.
Sumber makalah: makalah Mas Anis yang saya upload ke Mbah Googledocs.
Lebih jauh tentang Mas Anis bisa didapat di CV beliau: http://iiu.edu.my/irkhs/?page_id=960
Tentu saja, lebih jauh tentang Pluralisme Agama, silakan beli dan baca buku Mas Anis, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis (Perspektif GIP, Jakarta, 2005). [image buku saya dapat dari: http://hardadaphnia679.blog.friendster.com]
Leave a reply