Saya masih ingat, hari itu Juni 2005. Dua bulan lagi rumah kontrakan kami akan segera berakhir. Itu berarti, petualangan mencari tempat berteduh pun akan segera dimulai lagi. Tiga kali mengontrak rumah — dua kali di Malang dan sekali, dua tahun terakhir di Surabaya — telah memberi kami pengalaman pindahan yang luar biasa. Bertumpuk-tumpuk buku, berkarung-karung perkakas rumah tangga, bergunung-gunung kasur-bantal, berbuntal-buntal baju dan pakaian. Ffuiih! Membayangkannya saja membuat lelah sekujur tubuh bahkan sebelum pindahan beneran.

Apalagi pindahan terakhir dari Malang ke Surabaya dua tahun sebelumnya seperti layaknya karnaval: mengangkut semua barang kami hingga menjulang tinggi di sebuah pick-up sewaan, dilepas tetangga kiri-kanan di Malang, dan dilihati orang-orang sepanjang perjalanan. Bagaimana tidak? Tumpukan barang itu miring ke kanan persis seperti menara Pisa bahkan ketika kendaraan pengangkut belum meninggalkan batas kota Malang. Doa saya hanya satu: Ya Allah, jangan Kau kirimkan angin kencang menerpanya seperti Kau kirimkan pada kaum ‘Aad sebelum kami benar-benar tiba di tempat tujuan!

Dan inilah episode yang membosankan itu: waktu enam bulan pertama serasa tak cukup hanya untuk sekadar membongkar semua barang pindahan, lalu menatanya kembali ke tempat masing-masing. Ketika proses penataan itu berakhir hampir setahun kemudian, episode kembali ke titik awal: masa perpanjangan kontrak atau mencari kontrakan yang baru pun tiba.

“Kali ini kita beli rumah saja, Mas,” usul istri saya. “Nggak usah ngontrak lagi.”

“Ya, aku setuju. Kayaknya memang saatnya kita cari rumah,” jawab saya cepat. Isi otaknya persis seperti otak saya. “Capek pindahan terus-terusan.”

“Memang Mas punya uang?” tanyanya penuh keraguan diantara sungging senyumnya. Ia pasti paham apalah daya seorang karyawan swasta seperti suaminya ini.

“Sekarang belum punya.” Saya pun lalu tersenyum. Ia tahu isi dompet saya. Ia juga tahu isi rekening bank saya. Juga tunggakan hutang saya. “Nanti kita cari. Kalau kita punya kemauan, insyaAllah ada aja jalan.”

“Hutang lagi?” tanyanya telak.

“Asal kita bisa mengembalikan, kenapa tidak? InsyaAllah kalau dijalani akan lunas juga.”

Tetapi memang keputusan ini sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

“Memang sampean pengin rumah yang seperti apa, sih?” tanya saya ingin tahu.

Ia berpikir sejenak. Matanya lalu berbinar seperti matahari pagi bersinar kali pertama. “Aku ingin rumah yang di dalamnya ada kolam ikan di bawah lantai kaca. Seperti istana Nabi Sulaiman, hingga Ratu Balqis terpesona dibuatnya!”

“Ah, mana ada rumah kayak gitu?” tanya saya keheranan. Belum apa-apa keinginannya sudah tak terpikirkan.

“Ya kita buat sendirilah. Kita desain sendiri. Kita bangun sendiri,” katanya seperti seorang pemimpi yang naik ke atas langit.

“Berapa duit yang kita perlukan? Kita hanya punya waktu dua bulan untuk menemukannya,” jawab saya menghempaskannya lagi ke bumi.

Ia terdiam. Berpikir, lalu inilah ide berikutnya. “Gimana kalau kita cari rumah yang dekat kantor sampean saja? Supaya sampean bisa berangkat kerja mepet jam masuk kantor dan pulang lebih awal.”

“Berarti cari di Surabaya yang dekat-dekat sini saja, dong?”

“Ya. Memang kenapa, Mas?”

“Mana ada rumah yang murah dan terjangkau kantong kita di Surabaya sekarang ini? Teman-temanku banyak yang dapat rumah di luar kota. Pondok Jati, Pondok Wage Indah, Gedangan, Wisma Tropodo. Semuanya di Sidoarjo. Ada pula yang di Gresik. Atau setidaknya di Surabaya Barat seperti di …..”

“Kenapa tidak kita survey saja? Siapa tahu ada yang cocok?”

***

Perburuan rumah pun dimulai.

Di depan rumah kontrakan kami, di perumahan sebelah, sedang dibangun rumah-rumah baru. Perumahan Graha Amerta namanya. Kami tanyakan rumah type 45 dengan tanah sekitar 120 meter persegi, harganya sudah 250 juta. Kami mundur.

Di selatannya, dekat Medokan Ayu, sedang dibangun pula perumahan baru. Griya Kencana namanya. Kelihatannya rumah-rumah elit. Konsepnya memang regency dengan satu pintu keluar-masuk. Rumahnya nyaris seragam modelnya. Tetapi harganya juga lebih bagus. 350 juta per unitnya. Kami pun geleng kepala. Bukan tak suka dengan rumahnya, tetapi tak suka dengan uang mukanya.

Kami berpindah ke Wonorejo Indah. Sebuah perumahan baru juga, dibangun di pinggir Kali Surabaya, dekat rumah kontrakan kami. Kami kelilingi, daerahnya sepi. Rumahnya type-type lebih besar. “Kayaknya di sini bakal individualis. Nggak kenal dengan tetangga,” kata saya pada istri. Ketika ada satu rumah ditempel pengumuman “dijual”, saya hubungi nomor telepon yang tertera di sana. Seorang perempuan di seberang telepon bilang angka 440 juta. Mahal, seperti yang saya duga.

Saya juga tak melirik sama sekali Nirwana Eksekutif dan Pondok Nirwana — dimana kantor kami berada, jarak 5 menit dari rumah kontrakan saya. Sebagai rumah elit, harganya mungkin tak cukup kami cicil per bulannya dari dompet bahkan meski mengambil KPR selama 20 tahun!

Kami pun mendatangi Rumah Expo di WTC Surabaya yang kebetulan sedang berlangsung beberapa hari kemudian. Berbagai type rumah, lokasi, dan harga kami tanyakan, dari satu developer ke developer berikutnya. Tentunya sesuai dengan kemampuan. Rumah-rumah di Surabaya yang ditawarkan kelihatannya jauh dari jangkauan kantong kami. Pilihan kami pun jatuh ke beberapa perumahan di Sidoarjo. Meski luar kota, tetapi Sidoarjo ke Surabaya tidak terlampau jauh. Sidoarjo pun sudah berkembang pesat.

Tak kurang, kami datangi berbagai lokasi perumahan, seperti Bumi Citra Fajar, Pondok Jati, Gedangan, Pondok Wage Indah, dan Wisma Tropodo. Tak ada yang sreg di hati kami, kecuali Bumi Citra Fajar. Perumahannya sangat luas. Sudah dibangun beberapa tahap. Lokasi yang saya bidik ada di dekat masjid yang akan dibangun oleh perumahan. Luas tanah cukupan. Di belakangnya juga masih berupa persawahan menghijau. Semua rasanya sudah memenuhi keinginan kami, kecuali bahwa di sana masih berupa tanah kapling belum ada bangunannya. Minimal diperlukan pembangunan rumah 4 bulan sejak aplikasi disetujui untuk bisa diserahterimakan. Padahal kami akan habis kontrak dalam waktu kurang dari 2 bulan lagi.

***

“Gimana kalau kita cari rumah yang dekat dengan alam pedesaan atau pegunungan saja?” ide istri saya kemudian, ketika mendapati kenyataan bahwa di Surabaya dan Sidoarjo kami belum juga menemukan rumah idaman.

“Nah, itu jauh lebih realistis!” sambut saya. “Alamnya masih asri, udaranya bersih, dan bisa lihat gunung-gunung lewat jendela rumah kita. Wah, aku pasti betah berlama-lama menulis di tempat seperti itu!”

“Ya. Aku juga bisa menanam berbagai tanaman herba, memelihara ikan di kolam. Anak-anak dekat dengan ladang atau sawah, sungai, sapi, kerbau, ayam. Berarti kita harus beli rumah dengan tanah kosong yang luas di pinggir pegunungan.”

“Berarti kita harus cari di luar Surabaya, dong?”

“Ya. Kan bisa cari di Lawang, Singosari, Malang, Batu, Pujon, .… Harganya pasti lebih terjangkau.”

“Trus aku pulang ke rumah dua hari sekali seperti dulu?” kataku menghentikan liar bayangannya. Dua tahun pertama perkawinan kami, saya harus bolak-balik Malang-Surabaya dua hari hingga seminggu sekali. Capek. Tak terhitung saya harus tidur di tepi jalan tol Gempol-Surabaya karena ngantuk. Tapi itu tidak bisa saya hindari karena istri saya masih harus menyelesaikan kuliahnya di Malang. Sementara kerja saya di Surabaya. Nah, baru ketika ia selesai kuliah, kami lantas pindah ke Surabaya.

“Suruh kantor sampean buka cabang di Malang saja!” jawabnya singkat. Otak kanannya selama ini memang bisa diandalkan.

“Ye, enaknya!” saya colek pinggangnya. “Emang gampang perusahaan buka cabang?”

***

Informasi itu kami dapat dari teman kantor. Pak Hendri. “Aku punya tanah di daerah Wisma Gunung Anyar (Wiguna) paling timur. Masih banyak persawahan. Dan masih di dalam kota Surabaya. Cocok dengan keinginanmu. Kalau sampean mau, bisa aku jual.”

“Tapi kan harus membangun dulu?” tanya saya.

“Ya. Tapi kan cepat saja membangun rumah itu? Dibangun sendiri saja,” bujuknya. “Buat sampean aku kasih harga teman deh.”

Kami pun meluncur meninjau lokasi tanah milik teman itu. Tempatnya di deretan perumahan Wiguna paling timur. Tepatnya, timurnya perumahan paling timur. Masih di Surabaya. Tetapi sebelahnya berupa tanah rawa-rawa dan tambak tak terawat dengan rumput-rumput ilalang setinggi dada. Ada sungainya, tidak begitu lebar, tetapi airnya seperti tak mengalir dan sekeruh buangan pabrik sepanjang sungai Kalimas. Hitam, berlumpur, bau, penuh nyamuk. Mungkin juga ular. Sejauh mata memandang seperti berada di tengah padang ilalang, gung-liwang-liwung, tak ada rumah tetangga, tak ada teman. Mungkin berteriak sekuat tenaga sekalipun tak lantas membuat seorang pun bakal mendengarnya, kecuali cacing tanah, ular sawah, capung, nyamuk dan kawanan jengkerik. Belum ada listrik, air PDAM, saluran telepon. Apalagi mau internetan.

“Di sini seperti di pedesaan yang asri, bukan? Persis seperti impian sampean,” katanya penuh semangat.

Saya memandangi istri, yang tersenyum-senyum, untuk mencari jawab. Tanya istri saya pada Pak Hendri, “Rumahnya nanti pakai lampu petromax atau lilin, ya?”

“He he he,” Pak Hendri tertawa lepas. “Ya, tambah asyik kan? Tapi paling-paling sebentar lagi daerah ini akan berkembang. Surabaya kan akan berkembang ke arah timur, termasuk daerah ini?”

Jawaban kami tentu sudah bisa ditebak. TIDAK. Saya kira, hanya orang utan yang mau bertetangga dengan kegelapan dan kesunyian.

***

Kami putuskan untuk melongok perumahan di luar kota. Beberapa perumahan di Malang kami kunjungi. Kota Araya dekat terminal Arjosari. Megah. Elit. Kota Bernuansa Alami, begitu slogannya. Tetapi kami langsung merasa tidak nyaman sebelum menanyakan harga per unitnya. Lalu River Site di sekitar sungai sebelah patung Kendedes di pintu masuk kota Malang. Daerah elit juga. Agak menjorok ke dalam. Berada di kawasan bibir sungai. Tetapi entah mengapa, kami juga tidak begitu suka dengan kawasan elit itu.

Beberapa perumahan yang cukup asri, dekat pegunungan, ke arah Malang-Batu dan Malang-Gadang kami datangi juga. Tetapi, meski pas di hati, tetapi letaknya yang jauh dari Malang (dan karenanya semakin jauh dari Surabaya) membuat kami berpikir seribu kali. Cukuplah pengalaman saya dua tahun sering tidur di pinggir tol Gempol-Surabaya menjadi saksi untuk tidak lagi menambahnya menjadi berbilang tahun lagi.

“Tetapi siapa tahu tol Surabaya-Malang segera dibangun?” argumentasi istri saya, melihat kebimbangan di mata saya. Buat dia sih, hidup di alam pegunungan seperti ini pastilah sangat mengasyikkan.

“Ya, mesti nunggu sampai kapan? Ya kalau jadi dibangun, kalau tidak?” kejar saya.

Sasaran perburuan rumah kami pun bergeser ke daerah yang lebih dekat. Pandaan. Tidak jauh dari Surabaya. Tidak jauh dari Malang. Tidak jauh dari Prigen, kawasan wisata itu. Tidak jauh dari Pasuruan. Tidak jauh dari Tretes, “Puncak”-nya Jawa Timur. Daerahnya pun masih tergolong sejuk, cukup dekat dengan pegunungan. Walhasil, ideal dan cocok dengan kriteria kami.

Kami pun lalu menemukan perumahan Batu Mas Chandra Asri. Letaknya di dekat perempatan Pandaan, sehingga masih tergolong dekat keramaian. Perumahannya agak ke dalam, sekitar 100 meter dari jalan raya. Tidak bising. Tenang. Masih dekat persawahan di sebelah baratnya.

Kami pun mengitarinya, menghirupi udara segarnya, merasakan tarikan alamnya, dan menemukan sebuah tanah kapling kosong di sudut selatan-barat, dekat dengan fasum yang segera dibangun masjid. Luas tanah itu 10 x 20 meter. Cukup besar untuk dibangun sebuah rumah. Karena letaknya di sudut, maka pandangan dari rumah itu bisa bebas ke arah timur, selatan, dan barat sekaligus. Ke timur menghadap lapangan untuk fasum. Ke selatan menghadap ke arah pintu keluar perumahan yang terhubung ke pasar Pandaan. Dan ke barat terpampang pemandangan nan indah gunung Arjuna dan Welirang yang anggun.

Kami pun tersenyum seperti telah menemukan rumah impian yang kami cari.

“Tanahnya cukup luas. Cukup buat kita,” kata saya pada istri dengan mata berbinar. “Apalagi tempatnya strategis di sini. Bayangkan, setiap pagi ketika kita membuka jendela, maka pemandangan gunung di kejauhan sana itu yang akan terlihat. Asyik kan?”

Istri saya menggangguk-angguk. “Ya. Apalagi dekat masjid. Lokasi ini cocok deh. Apalagi Pandaan kan tidak jauh dari tol Gempol?”

Saya mengangguk. Tak perlu dua jam untuk tiba di kantor Surabaya. “Ayo kita cari kantor pengembangnya!”

Kami bergegas mendatangi kantor pengembang di barisan rumah paling depan, dekat pintu masuk perumahan. Setelah berbasa-basi, kami mendapat informasi bahwa rumah pada kapling tersebut dijual dengan harga 170 juta rupiah. Bisa dibeli lewat KPR yang diusahakan sendiri oleh calon pembeli.

Kami berpandangan. “Bisa!” kata saya pada istri. Dan istri saya tahu apa yang saya maksud.

“Berapa lama membangunnya, Mas?” tanya saya pada marketing itu.

“Empat bulan dari sejak tanda tangan kontrak, Pak, insyaAllah sudah bisa serah terima kunci rumah.”

“Empat bulan?”

“Ya. Empat bulan. Paling cepat.”

Saya beradu pandang lagi dengan istri. Dua bulan setelah kami keluar dari kontrakan harus kemana?

“Bagaimana Pak? Sayang kalau tidak segera diambil. Jangan sampai keduluan orang lain.”

Kami pun meminta waktu untuk menimbang-nimbang. Jika jadi mengambil kapling itu, kami harus mengantisipasi di mana kami tinggal sejak hengkang dari rumah kontrakan yang sekarang hingga rumah baru itu selesai. Tinggal di rumah mertua di Bangkalan? Proses pindahan rumah yang gegap-gempita langsung terbayang. Apalagi harus menyeberang laut. Ah, tidak! Memperpanjang kontrakan untuk 2 bulan? Ah, tidak mungkin. Jangankan mau memperpanjang, sedangkan belum habis kontrak saja kami sudah diberitahu oleh induk-semang bahwa harga sewa sudah naik dari 4 juta kala itu menjadi 6 juta rupiah.

“Lalu gimana enaknya, Mas?” tanya istri saya. “Aku capek kalau harus ngontrak lagi.”

“Jika kita tidak mau repot pindahan berkali-kali, kayaknya satu-satunya pilihan adalah membeli rumah yang sudah jadi,” kata saya. “Bagaimana, Yang?”

***

Dan kesimpulan kami itu ternyata bersambut esok harinya.

Ada informasi dari tetangga bahwa rumah Bu Darwoto, tiga rumah sebelah kanan rumah kontrakan kami, akan dijual.

“Rumah itu asri lho,” kata istri pada saya pagi itu. “Bu Darwoto rajin sekali bersih-bersih rumah, menata perabotnya sedemikian rupa. Aku pernah masuk ke rumahnya saat memeriksa Bu Darwoto pas sakit dulu. Kayaknya rumahnya terawat dengan baik.”

“Bagaimana kalau kita beli rumah Bu Darwoto?” kata saya. Meski rumah lama, tetapi kalau dirawat dengan baik tentu tak ada masalah.

“Ayo kita lihat dulu!” ajak istri saya.

Kami pun bergegas menengok rumah di Jalan Wonorungkut Utara 2 nomor 14 Rungkut Jaya itu. Luasnya 8 x 15 meter. Satu setengah tingkat. Satu kamar mandi. Empat kamar cukup besar. Dapur, ruang keluarga, ruang tamu, garasi, teras. Ada telepon, PDAM. Ada gudang kecil di lantai 2. Bangunannya tidak bagus-bagus amat garapannya. Ada beberapa dinding yang tidak simetris. Beberapa dinding mengelupas catnya, seperti tidak ditembok dengan campuran bahan yang pas. Beberapa pintu tidak dipasang. Pintu yang terpasang pun sebagian ada yang tidak pas menempel pada kusennya.

Ada sebuah void dan jendela terbuka di lantai dua belakang, dekat dengan jemuran. Ini akses ke atas genteng jika ada masalah di sana.

“Mengapa dijual Bu Dar?” tanya saya pada wanita sudah cukup sepuh itu.

“Saya ingin pindah ke Malang, Pak Bahtiar,” jawab Bu Darwoto. “Pak Darwoto sudah tidak ada. Di Surabaya, saya juga tidak punya saudara lagi. Jadi, saya ingin dekat dengan kakak saya di Malang.”

Kami mengangguk-angguk. “Dijual berapa lho Bu?”

Bu Darwoto tampak tersenyum. “Seratus enam puluh juta, Pak.”

Seratus enam puluh juta. Sertifikat HGB mati 3 tahun lalu.

“Nggak bisa kurang, Bu?” goda saya.

“Gimana kalau seratus lima puluh juta, Bu?” serang istri saya.

Bu Darwoto tersenyum. Tapi tak lama kemudian ia berkata, “Ya, sudahlah. Buat Mbak Ida nggak papa.”

***

Begitulah. Rumah yang kami cari ke sana ke mari pada akhirnya kami temukan justru sangat dekat: tiga rumah dari rumah kontrakan kami sebelumnya. Bahkan dengan mudah sekali kami dapatkan. Kami beli 150 juta, via KPR BTN Syariah dengan cicilan 4 tahun. Uang muka dibantu dari perusahaan, potong gaji dan bonus. Dan tepat pada hari kami harus hengkang dari rumah kontrakan, proses jual beli dengan keluarga Bu Darwoto pun sudah selesai dilakukan. Kami cukup pindahan ke sebelah rumah tanpa perlu menyusun menara Pisa lagi.

Rumah itu kini menjadi rumah kami. Cicilan berdarah-darah kami lunas tepat pada bulan ini. Alhamdulillah.

Pada akhirnya kami menyadari, bahwa apa yang kita mimpikan tentang sebuah rumah idaman, seberapa pun baik dan asrinya, segar atau sejuknya, luas atau tingginya, namun akan kembali kepada kenyataan. Rumah yang kita dapatkan, secara fisik, mungkin akan jauh berbeda dengan rumah idaman yang pernah kita bayangkan sebelumnya.

Karena itu, kiranya yang jauh lebih penting buat kita bukanlah rumah idaman dalam bentuk kemegahan fisik atau keasrian lingkungannya. Rumah idaman yang lebih penting buat kita adalah rumah yang ketika masuk ke dalamnya kita merasa memang sedang berada di “rumah” dan membuat tenteram jiwa kita. Segala pedih terobati. Segala duka terlarai. Segala keluh terhiburi. Dan segala keruwetan hidup terurai.

Alhamdulillah. Dengan mendapatkan rumah di dekat rumah kontrakan sebelumnya, paling tidak kami tidak perlu berkenalan lagi ke sana ke mari, menjalin ketetanggaan dengan sekitar, silaturahmi, membangun hubungan dalam komunitas seperti karang taruna dan jamaah masjid. Karena kami sudah berbaur dengan mereka dua tahun sebelumnya ketika mengontrak, dan tahu karakter masyarakat, bagaimana gotong-royong dan semangat tolong-menolong mereka. Kini kami hanya perlu bergeser tiga rumah, tanpa perlu berubah tetangga dan lingkungan baru lagi.

Alhamdulillah.

***

Dua bulan setelah kami tinggal di rumah baru (tapi lama) itu, musim penghujan datang. Ketika air semakin meninggi dan melewati batas teras depan, kami segera membuat barikade berupa tumpukan batu-bata dua meter sebelum pintu. Tetapi luapan air itu ternyata menerobos melewati celah pertahanan yang tidak kami duga sama sekali: saluran air di kamar mandi belakang! Air pun tumpah ruah bercampur segala kotoran yang ada, membasahi seluruh ruangan lantai bawah. Jadilah kami semalaman ngepel lantai yang berubah menjadi sungai kotor.

WC pun kemudian bermasalah. Diguyur dengan air bukannya tambah turun, malah semakin naik. Dengan segala yang terkandung di dalamnya! Selidik punya selidik, persoalan leher angsa yang terlalu rendah itu ternyata sudah berlangsung lama, tetapi kami tidak tahu. Hampir 3 bulan kami mengalami hal itu sampai kemudian kami putuskan membangun kamar mandi dengan WC baru. Persoalan itu kini sudah selesai.

Belum genap setahun, pencuri menyatroni rumah kami. Ia melewati celah void terbuka di lantai dua. Void yang dimaksudkan agar kami mudah keluar dari rumah ke genteng atas, kini digunakan pencuri itu untuk arah sebaliknya. Ia lalu turun ke lantai bawah dengan leluasa dan menyikat HP, uang, kamera dan beberapa perhiasan di laci istri (Herannya, tak ada kerusakan apa-apa, seakan-akan dia tahu tempat itu sebelumnya. Saksi mata satpam mengatakan sempat melihat seorang dengan belitan sarung saja dan bertelanjang dada melintas pada shubuh saya kemalingan. Dengan cara itu, konon kata orang-orang, dia bisa masuk ke dalam rumah tanpa ketahuan orang. Wallahu a’lam).

Mertua pun lalu turun tangan, membawa teralis besi dari Bangkalan untuk dipasang menutup void itu. Beliau pun membawa pagar kawat berduri yang dipasang di atap genting dengan tulisan pada tembok atas besar-besar: “AWAS SETROOM!”

Beberapa persoalan rumah lain pun juga muncul: tikus, semut, nyamuk, kecoak, kelabang, celah ubin mengeluarkan air tanah, talang bocor, sambungan listrik yang semrawut, genteng teras rusak. Pfuihh! Mungkin benar kata Ralph Waldo Emerson (1803-1882), seorang penyair dan esais dari Amerika. Katanya,

“A man builds a fine house; and now he has a master, and a task for life: he is to furnish, watch, show it, and keep it in repair, the rest of his days.”

He he he. Saya tertawa saja. Tetapi memang begitulah, rumah yang kita idamkan, ternyata bukanlah yang tak pernah ada masalah. Karenanya kami berkesimpulan, bahwa yang lebih penting bukanlah rumah yang tak pernah ada masalah, melainkan rumah yang memang “rumah”, tempat kita berlindung dan jiwa kita nyaman — bagaimanapun rupa dan keadaannya — yang dibangun dengan cinta, mimpi, dan kasih sayang. Itulah sebenar-benar rumah (home) dan bukan sekedar “rumah” (house).

“A house is a home when it shelters the body and comforts the soul.”
~Phillip Moffitt.

“A house is made of walls and beams; a home is built with love and dreams.”
~Noname

Inilah beberapa sudut rumah idaman saya kini.

Rumah idaman dari luar pada waktu malam. Lihatlah tulisan “AWAS SETROOM” di dinding atas!
Perpustakaan keluarga yang sering dibongkar anak-anak
Pintu akses pencuri kala itu…

Bagaimana rumah idaman Anda?

***

Keterangan.
Entah mengapa, album saya tentang foto-foto perburuan itu tak sempat saya dapatkan kembali. Akhirnya saya potretkan saja rumah idaman kami (saat ini) dalam pelukan malam. Semoga mewakili.
Tulisan ini diposting untuk mengikuti lomba menulis Propertykita.com.

Bookmark and Share