Konter Check-In[Catatan Ramadhan 1430 H #5]

Ini kedua kalinya saya masuk ke Terminal 3 di Bandara Sukarno-Hatta yang baru dibangun sebagai prototipe bandara ramah lingkungan. Setelah diperiksa agak ketat (semua karena ulah si Noordin M. Top!) saya langsung menuju konter 17, tempat check-in Mandala Air.

Beberapa orang penumpang sedang antri. Sambil menunggu antrian, saya seperti biasa memperhatikan sekeliling. Ada yang menarik perhatian rupanya. Ya, tampilan monitor petunjuk check-in di masing-masing konter. Monitor 32 inch itu menampilkan informasi tentang maskapai penerbangan, nomor penerbangan, tujuan, jam berapa check-in dibuka, jam berapa check-in ditutup, dan jam berapa sekarang (current time).

Saya ambil buku kecil catatan saya. Dan inilah hasilnya. Monitor konter 20: hanya ada info jam sekarang, menunjuk angka 15:52:35 (jam 15 lewat 52 menit 35 detik). Lalu monitor konter 19: sama, hanya ada informasi jam sekarang, tetapi tertera 05:35:05. Di sebelahnya, konter 18, tempat antrian check-in, tampil lebih lengkap. Mandala air, flight no. RI0276, tujuan Surabaya, check-in buka: 13:50, dan tutup 15:35. Sedangkan jam sekarangnya menunjukkan pukul 09:00:09! Konter 15 dan 16 sama dengan konter 20. Jam menunjuk 14:55:20 pada konter 16 dan 14:52:33 pada konter 15.

Pada konter 17 sendiri, tempat saya antri check-in, monitor itu malah mati.

Saya melirik arloji yang saya kenakan. InsyaAllah jamnya valid. Saat itu menunjukkan pukul 14.40 WIB. Jadi, “jam sekarang” dari keenam monitor konter itu tak satupun sama dengan jam real sekarang seperti yang ditunjukkan arloji saya. Di samping itu, yang lebih parah, tak satupun dari “jam sekarang” pada keenam monitor itu yang sama satu dengan lainnya. Bahkan monitor yang sedang digunakan untuk check-in saja masih menunjuk pukul 09 pagi!

Andaikan nanti konter check-in benar-benar ditutup ontime pada waktunya, yakni jam 15.35, sementara masih ada penumpang yang belum terlayani, pertanyaan saya: jam mana yang akan menjadi dasar bagi petugas check-in? Jam di monitor konter (yang jelas-jelas salah)? Jam pada arloji atau HP yang ia punya? Jam pada arloji atau HP masing-masing penumpang? Atau jam siapa?

Andai itu benar-benar terjadi, saya yakin pasti akan terjadi keributan! Masing-masing orang akan mengklaim “jam sekarang” versinya sendiri-sendiri yang paling benar.

***

Saya rasa inilah potret bangsa kita saat ini. Ingin terkesan wah, canggih, mengikuti perkembangan teknologi masa depan, tetapi begitu tiba pada day-to-day operasional, segala kecanggihan itu tinggal asesoris belaka. Hiasan, yang sama sekali tak bermanfaat. Bahkan sangat mengganggu, terutama bagi orang-orang yang mengerti teknologi (halah!).

Saya yakin, pada saat diresmikan oleh Presiden SBY beberapa waktu yang lalu, sistem canggih tersebut berjalan dengan normal. Tetapi ya untuk hari itu saja. Setelah ceremonial itu rampung, sistem canggih itu pun lalu menjadi monumen. Ia tak lagi menjadi bagian dari solusi, tetapi bagian dari masalah.

Charles Percy Snow barangkali benar. “Technology,” katanya suatu kali di tahun 1971, “is a queer thing. It brings you great gifts with one hand, and it stabs you in the back with the other.” Teknologi itu sesuatu yang ganjil. Ia datang padamu dengan hadiah besar di satu tangan, dan dengan tangan yang lain menusukmu dari belakang. Dengan kata lain, jika kita tak bisa menggunakan teknologi dengan benar, maka bukanlah kemudahan yang kita dapatkan, melainkan bencana.

Monitor-monitor konter check-in yang saya lihat itu hanyalah bagian kecil dari implementasi teknologi yang hanya kepengin tampak canggih di negeri ini. Betapa banyak bisa disebut fakta-fakta lain yang kita jumpai sepanjang perjalanan harian kita. Counter-down traffic light yang justru berjalan maju, penunjuk polusi udara yang tak menyala lagi di sudut kota, papan besar jadwal pesawat yang tidak ter-update. Apakah Anda memanfaatkan fitur-fitur HP yang Anda miliki selain untuk menelepon dan mengirim SMS? Tetapi kenapa Anda sering gonta-ganti HP yang terbaru?

***

Ramadhan adalah ‘teknologi’ canggih yang didesain oleh Allah untuk kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika kita hanya menyambutnya dengan gembira dalam upacara ceremonial di awalnya, yang dengan segera terlupakan, maka nasibnya akan sama dengan konter-konter check-in di Terminal 3 di atas. Andai ini yang terjadi — dan bukankah ini yang sedang terjadi? — maka segala kecanggihan puasa (amal yang sunah dinilai wajib, yang wajib dilipat gandakan, setan dibelenggu, surga dibuka lebar) hanya akan tinggal dongeng kosong belaka.

Hey! Hey! Lihat shaf tarawih di masjidmu dari hari ke hari! Bertambah maju, bukan? Maju beneran dalam arti fisik. Pada hari pertama meluber hingga ke halaman, tetapi hari demi hari berikutnya berkurang satu shaf demi satu shaf. Yang sebelumnya 10 shaf, kini menjadi 9, 8, 5, 3 shaf. Shafnya bertambah ‘maju’, bukan?

Jika ini yang terjadi, maka sebenarnya ‘teknologi’ di atas meski mengerti kita, tetapi kiranya kitalah yang tidak mau mengerti.

Wallahu a’lam.

***

Keterangan
Sumber gambar: http://my.opera.com/greatstyo

Bookmark and Share