rumah berbagi para pencari hikmah
Death never takes the wise man by surprise; He is always ready to go.
~Jean de La Fontaine
Si Rambut Gimbal, Si “I Love You Full”, Si “Tak Gendong Ke Mana-mana”, Si “Bangun Tidur Tidur Lagi”, ya Mbah Surip itu kini sudah tiada. Meski namanya Urip Ahmad Riyanto (’urip’ dalam bahasa Jawa berarti ‘hidup’), tetapi jika ajal telah sampai, tak seorang pun kan bisa lari darinya. Kemarin, 4 Agustus 2009 sekitar jam 10.30, Mbah Surip telah tiada. Ia tak bisa bangun tidur dan tidur lagi, apalagi menggendong kemana-mana.
Kita melihat kematiannya begitu mendadak. Bahkan ketenaran 3-4 bulan terakhir sebelum meninggal mungkin belum sepenuhnya dirasakan artis asal Magersari Mojokerto itu. Bahkan mungkin royalti RBT ‘Tak Gendong Ke Mana-mana”-nya di sebuah operator seluler (4,5 milyar!) belum lagi dirasakannya. Tetapi bagaimanapun, ketika Izrail datang, suka tidak suka, siap tidak siap, seseorang tetap harus ‘berangkat’.
***
Apakah setiap orang tahu atau merasakan kapan kematiannya kan datang?
Barangkali. Sering kita dengar, seseorang sebelum meninggal memberikan wasiat, menyampaikan amanat, menuntaskan hutang, menunjukkan gelagat tertentu, bahkan bersiap penuh. Mungkin yang terakhir ini dirasakan oleh ‘para pengantin’ berbagai kasus bom bunuh diri di tanah air itu. Atau trio bomber sebelum mereka dieksekusi di Nusakambangan.
Bicara tentang hal ini, saya jadi teringat Chairil Anwar. Ia seorang sastrawan terkenal angkatan 45. Ia seorang revolusioner. Ia seorang pemberontak, dengan segala cap negatif yang dilekatkan padanya. Ketika mengomentari tentang kematiannya, Asrul Sani pernah menulis,
“… Ia pergi dengan meninggalkan bermacam-macam reputasi, mulai dari anak kurang ajar sampai pada pencuri. Ia adalah seorang bohemian. Banyak orang mengira bahwa ia adalah seorang petualang kumuh. Tidak. Chairil selalu berpakaian rapi. Kerah kemejanya selalu kaku karena dikanji, bajunya senantiasa diseterika licin. Ia bahkan boleh dikatakan dandy. Orang ingat pada matanya yang merah. Ia tidak mengerikan. Ia adalah seorang periang dan seorang sahabat yang baik. …” (Suatu Sore Gerimis di Bogor, 28 April 1949, Asrul Sani, dalam Derai-derai Cemara)
Yang kita tahu, Si Binatang Jalang itu mati muda. 26 tahun. Tetapi dari tak banyak puisi yang berhasil diciptakannya, ia mampu meneguhkan reputasi yang lintas jaman. Hingga kini, siapa yang tak kenal Chairil Anwar?
Menjadi menarik ketika Asrul Sani dalam tulisan yang sama mengatakan bahwa Tuhan memanggil pulang Chairil pada saat yang tepat. Ia meninggal di penghujung kepenyairannya. Sajak Chairil yang terakhir, yang ia anggap berhasil dan yang sering ia bacakan sambil berjalan, adalah Derai-derai Cemara. Dan tahukah Anda, penggalan puisi itu diantaranya seperti:
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
Bukankah ini isyarat sebuah kepergian? Apalagi beberapa tahun sebelumnya, ia juga menulis:
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru angin…
Ya. Bahkan ia sudah ‘meramalkan’ dimana ia akan disemayamkan. Di pekuburan Karet.
Mungkin benar kata Jean de La Fontaine (1621-1695), seorang penyair Perancis. Katanya, seperti saya kutip di awal posting ini:
Death never takes the wise man by surprise; He is always ready to go.
Kematian tidak akan pernah mengambil seorang bijak bestari secara tiba-tiba. (Karena) dia senantiasa dalam keadaan siap untuk berangkat kapan saja.
Apakah kita termasuk “the wise man” yang dimaksud La Fontaine?
***
Keterangan
Sumber gambar: http://bendeddy.wordpress.com
Nurdiana Atmanagara
August 7th, 2009 at 10:34 pm
Kematian pasti datang. Tidak pandang bulu apakah dia orang terkenal ataupun rakyat jelata.
So, kita harus menyiapkan semua itu.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
August 11th, 2009 at 11:25 am
kematian adalah kepastian. dan setiap kepastian adalah DEKAT. tapi tak banyak yang menyadarinya Mas. persiapan untuk yang paling dekat datang itu banyak yang “nanti saja”. smg bukan kita.
[Reply]
Abi Sabila
August 8th, 2009 at 10:14 am
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Kematian adalah hal yang pasti bagi makhluk hidup, hanya kapan, di mana dan bagiamana caranya itu yang berbeda-beda. Ada satu pertanyaan yang mestinya harus selalu kita ingat, apa yang sudah kita perbuat selama hidup, adakah itu bisa kita jadikan bekal di akhirat, dan bisa kita jadikan warisan kebajikan di dunia?
Selamat jalan Mbah Surip, istirahatlah dengan tenang, karena kini kau tak perlu lagi menggendong siapapun. tidurlah, tidur dan tak usah bangun lagi, sampai saatnya nanti, Allah ‘membangungkanmu’ lagi.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
August 11th, 2009 at 11:26 am
bekal dan warisan. Aha, dua konsep yang pas untuk orientasi hidup di dua tempat itu. akhirat dan dunia. makasih mas sudut pandangnya.
Ayo komentari posting saya yang baru he he he
[Reply]
setta
August 8th, 2009 at 9:22 pm
Apakah kita termasuk “the wise man” yang dimaksud La Fontaine?
—
sebuah pertanyaan yg tidak hanya sekadar butuh sebuah jawaban, tapi lebih pada sebuah ikhtiar nyata dan pembuktian … makasih, bang.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
August 11th, 2009 at 11:28 am
benar mas. pertanyaan retoris, yang tidak untuk dijawab, tapi dibuktikan. makasih komentarnya. ditunggu komentar yang lain ** maunya … **
[Reply]
zum
August 14th, 2009 at 9:09 am
kematian, adalah rahasia Allah yang kita tidak tahu kapan datangnya menjemput kita, dengan kematian akan mengingatkan kenangan2 yang telah terukir bersama… juga termasuk kesalahan2 yang pernah kita lakukan kepada orang yang telah meninggalkan kita….
beberapa minggu yang lalu, mertua tercinta telah tiada… tepatnya kamis, 6 Agustus 2009, ketika saya sedang residensi ke Thailand, betapa menyesalnya ketika itu sedang tidak ada di tempat, baru hari Senin berikutnya bisa berada di pusaranya… nyekar, lebih sedih lagi.. siapa yang akan meneruskan langgar yang telah dibina secara turun temurun… sedang kami berada di luar kota…
Semoga ayahanda tenang di alam sana,…
[Reply]
bahtiarhs Reply:
August 14th, 2009 at 1:02 pm
andai kematian bukan rahasia, ya, mbak zumrotul. setiap orang akan bersiap menjemputnya dengan husnul khatimah. mkn neraka akan nganggur, kecuali yang memang benar2 kebangeten.
bukannya adiknya Mas Mohan ada yang di rumah ponorogo? atau kalau tidak, pak pi’i depan rumah aja
[Reply]
zum
August 14th, 2009 at 11:13 pm
semua luar kota pak, kami di ungaran, yang no 2 dan 3 di Blitar, dapat orang sana semua, ya… pelan2 lah pak, nanti regenerasi… itu kan langgar keluarga… pasti tidak akan dibiarkan mandeg,
[Reply]