rumah berbagi para pencari hikmah
[Catatan Ramadhan 1430H #10]
Rabu, 2 September 2009. Sebentar lagi jam pulang kantor tiba.
“Ada gempa di Jakarta!” tulis Ibu Ita Guntari, financial planner dan konsultan dari Padma Finance, melalui chatting mendadak di facebook saya. “Posisi di mana, Pak?”
“Di kantor Surabaya, Bu,” jawab saya via komunikasi maya itu. “Kapan gempanya, Bu?”
“Baru saja. Ini Jalan Sudirman kalang-kabut. Orang-orang pada turun dari gedung-gedung dan berlarian di jalan.”
Saya lalu membuka detik.com. Ya, memang telah terjadi gempa dengan pusatnya di dekat Tasikmalaya berkekuatan 7,3 skala Richter! Itu melebihi gempa yang akhirnya menimbulkan tsunami di Aceh dulu!
“Pusat gempa di Tasikmalaya, Bu,” tulis saya.
“Ya. Tapi Jakarta terasa sekali goncangannya, Pak! 7,3 Richter katanya!”
“Tapi gempa sedemikian besar kok Ibu masih sempat-sempatnya chatting?”
“He he he. Kalang-kabutnya di tempat saya sudah selesai, Pak. Ya saya kembali membuka komputer.”
Eh! Orang pada panik, si Ibu Ita malah asyik facebook-an.
***
Kring! Kring!
HP saya berdering. Panggilan dari rumah Ponorogo.
“Assalaamu’alaikum,” seru suara di seberang sana yang tak asing lagi di telinga saya. “Aku kok Mas Ta.”
“Wa’alaikum salaam,” jawab saya. “Wonten napa, Bu?” (Ada apa, Bu?)
“Ora. Awakmu sakiki nang endi?” (Nggak. Kamu sekarang dimana?)
“Surabaya. Wonten kantor, Bu.” (Surabaya. Di kantor, Bu.)
“Ora pas tugas nyang Jakarta, to Mas Ta?” (Tidak sedang bertugas ke Jakarta, ya Mas Ta?)
“Mboten, Bu. Sak niki kulo mboten asring dateng Jakarta.” (Nggak, Bu. Sekarang saya jarang ke Jakarta.)
“Ya wis nek ngono. Tegese awakmu rak ora papa, to? Jakarta kan jarene lagi ana lindu gede. Gempa. Akeh sing ambruk. Ora krasa ta lindune neng Surabaya?” (Ya udah. Artinya kamu gak papa, kan? Jakarta katanya sedang ada gempa besar. Banyak yang roboh. Gak terasa di Surabaya, ya?)
“Nggih, Bu. Mboten kraos wonten mriki.” (Ya, Bu. Nggak terasa di sini.)
“Ya wis. Sing penting awakmu selamet ae. Assalaamu’alaikum.” (Ya udah. Yang penting kamu selamat.)
“Wa’alaikum salaam warahmatullah!”
Klik!
Saya tercenung. Lalu menyadari bahwa telepon ini bukanlah teleponnya yang pertama. Ini teleponnya yang ke seribu satu kalinya. Ketika Jakarta banjir bandang beberapa tahun lalu, ia menelepon saya. Sekedar memastikan bahwa saya tidak sedang ke Jakarta. Ketika Jakarta dikabarkan diguyur hujan lebat suatu kali dan ia tahu saya sedang bertugas di ibukota negara itu, ia menelepon dan bertanya saya ada di mana. Apakah terjebak banjir atau tidak. Ketika gempa melanda Jogja, ia menelepon juga. Apakah gempanya sampai di Surabaya? Ia bertanya dengan penuh kekhawatiran. Ketika tsunami melanda Aceh, ia pun menelepon. Bu, Aceh sangat jauh dari Surabaya, kataku saat itu. Ketika adik saya memberi kabar bahwa saya sakit, ia menelepon. Menanyakan kesehatan saya, memberi saran jamu Jawa yang harus saya minum: parutan kunir, dicampur njet (larutan gamping putih), ditambah sedikit madu. Diminum pagi sore. Ia lalu akan menelepon lagi untuk memastikan saya sudah membuat dan meminum jamu itu.
Ia selalu menelepon, seperti tak pernah bosan, terutama jika ada ‘apa-apa’ dengan saya. Ia tetap selalu menelepon, meski anak saya sudah enam orang. Dia pulalah yang pertama kali menelepon ketika Ifa, anak keenam saya, lahir Agustus kemarin — bahkan ketika Ifa kecil masih tengkurap merayap mencari colostrum di dada ibunya. Ia menelepon untuk memastikan bahwa Ifa, ibunya, saya, dan anak-anak semua baik-baik saja.
Ya. Ia tetap rajin menelepon, meski saya … saya jarang meneleponnya; sekadar menanyakan kabarnya di usia senja kini misalnya. Saya selama ini hanya meneleponnya jika sedang perlu rewang baru, karena yang lama pulang tak kembali. Atau saya sedang ada hajat, dimana saya minta doanya. Bahkan beberapa kali saya meneleponnya, memintanya datang ke Surabaya, (MasyaAllah Bahtiar!) hanya untuk membantu di rumah saya sementara belum mendapat rewang baru.
Saya meneleponnya karena perlu bantuan dirinya. Sementara beberapa kali saya pergoki, ia sebenarnya sedang menderita sakit, tetapi ia tak menelepon. Ia sedang perlu dibantu finansial, tetapi ia pun tak menelepon. “Engko gek ngrepoti awakmu, Mas Ta. Urusanmu kan wis akeh!” (Nanti malah merepotkan kamu, Mas Ta. Urusanmu kan sudah banyak!) Itulah jawaban yang kemudian sering ia kemukakan setiap kali saya tanya mengapa tidak menelepon saya.
Ia menelepon saya, tak lain, semata karena rasa cintanya pada saya. Kekhawatiran saya kiranya menjadi kekhawatirannya. Derita saya pun kiranya ia rasakan sebagai deritanya pula. Mungkin diri saya adalah bagian dari dirinya, yang tak bisa terpisahkan begitu saja. Maka teleponnya adalah telepon cinta, segenap cinta, cinta full, yang kiranya tak pernah putus di tengah jalan. Pada saya. Anaknya yang tak tahu berterima kasih.
Ibu! Ibu! Betapa cintamu tak bersambut dengan selayaknya. Aku berjanji pada diri sendiri, mulai hari ini, aku akan meneleponmu setiap Minggu pagi. Meski sekedar untuk bertanya apakah Ibu baik-baik saja. Meski sekedar mendengar suaramu tanpa bisa menatap keriput wajahmu kini. Meski aku tahu pasti, semua itu, bahkan jika bisa lebih dari itu sekalipun, tak bakal bisa menyamai telepon cintamu selama ini.
Maafkan aku, Ibu!
***
tontowi
September 12th, 2009 at 11:06 pm
loh, kirain cerita selanjutnya tentang si Dia yg selalu menelpon kita, tapi jarang kita ‘angkat’, dan kita juga jarang terus menerus menelponNya :)….. (biasa nya kan ceritanya begitu mas)…
Soal Ibu, bener, kita sering kalah dg kesibukan sendiri..
[Reply]
bahtiarhs Reply:
September 14th, 2009 at 10:29 am
Lagi teringat Ibu, Mas. Spontaneously.
[Reply]
zum
September 13th, 2009 at 9:30 pm
berbahagialah… yang masih punya ibu…. karena kita masih diberi kesempatan untuk birrul waalidain…. sebab, penyesalan selalu datang terlambat ( tentu Lek Darmi bangga punya anak yang dapat dibanggakan seperti sampeyan….)
[Reply]
bahtiarhs Reply:
September 14th, 2009 at 10:33 am
Alhamdulillah, mbak zum. Tetapi masih banyak, sangat banyak bahkan, sesuatu yang menjadi cita-cita saya untuk mereka, namun belum terlaksana. Pinta saya, moga Allah mengabulkan semua harapan saya itu.
Birrul walidain utamanya ketika mereka masih sugeng. Tetapi kalaupun toh sudah tidak ada, kita masih bisa mendoakannya, bukan? Mbak Zum pasti tak pernah lupa melakukannya untuk orang tua panjenengan.
[Reply]
Abi Sabila
September 30th, 2009 at 12:35 pm
Alahmdulillah, selama ini saya sering menelpon ataupun ditelpon oleh Ibu, bukan karena bapak tak ingin menelpon atau ditelpon, tapi karena pendengaran bapak yang sudah berkurang karena faktor usia, sehingga saya lebih sering berkomunikasi melalui telfon dengan ibu.
Dan selama Ramadhan, hampir setiap pagi sebelum sahur, hal pertama yang biasa saya lakukan adalah menelpon ibu, menanyakan apakah ibu dan bapak sudah sahur. dan meskipun jawabannya selalu “sudah, ibu dan bapak sudah sahur” namun beliau tak pernah merasa bosan, terbukti dengan mengalirnya obrolan yang menjadi ‘menu tambahan’ penyemangat sahurku.
Jika Pak Bahtiar berjanji akan menelpon ibu setiap minggu pagi, pastikan itu adalah paling minim diantara kesibukan yang dilakukan, dan ketika ada waktu tak usahlah harus menunggu minggu pagi, karena kapanpun saya yakin ibu akan selalu menjawabnya dengan segenap kasih dan sayangnya. ( jangan lupa pula, untuk membelikan pulsanya ya Pak. hehehehehe…….)
[Reply]