rumah berbagi para pencari hikmah
[Catatan Ramadhan 1430H #9]
Jum’at, ramadhan hari ke-13.
Adzan Isya’ sudah menggema bersahutan dari beberapa masjid. Fia dan Maura masih tampak asyik dengan mainannya. Sementara Ais sudah siap dengan mukenanya.
“Mbak Ais ikut Ayah tarawih ke masjid?” tanya saya pada anak pertama saya itu.
“Ya, dong!” sahut Ais antusias. Ia lalu menenteng mukena bawahnya di tangan. Sementara mukena atas sudah dikenakannya dengan manis.
“Mbak Fia sama mbak Maura ikut shalat tarawih ke masjid yuk!” ajak saya pada kedua adik Ais itu. “Ayah jadi imam lho!”
“Aku shalat di rumah saja!” cetus Fia lantang.
“Aku juga!” sahut Maura sambil mengacungkan tangan.
“Kenapa kok shalat di rumah? Kan lebih baik di masjid?” tanya saya ingin tahu.
“Aku capek!” jawab Fia. Adiknya membebek dengan jawaban yang sama.
Tadi memang Ais, Fia, Maura, Azril, dan Afa saya ajak buka bersama di rumah teman. Ibunya tidak ikut karena mengurusi si kecil Ifa. Mungkin mereka makan dan minum kekenyangan hingga “kecapekan”.
“Tapi bener shalat lho di rumah, ya?” tanya saya.
“Ya!” jawab anak saya kelas 2 SD dan TK itu kompak.
“Berapa rakaat coba?” pancing saya.
“Delapan rakaat kan tarawihnya?” jawab Fia memastikan.
“Ya, trus?”
“Witirnya tiga rakaat.”
“Isya’-nya?”
“Empat rakaat.”
“Jadi semua berapa rakaat?”
Sejenak Fia berpikir. “Lima belas rakaat!”
“Sip. Lima belas rakaat. Jangan lupa, ya?”
“Ya, wis.”
Saya lalu berangkat ke masjid dengan Ais untuk tarawih. “Jangan lupa berjamaah dengan Maura, ya?”
***
“Maura!” panggil Fia pada adiknya. “Kamu pengin masuk syurga, nggak?”
“Ya!” sahut adik TK-nya itu. “Aku pengin masuk syurga.”
“Aku nggak mau masuk neraka,” lanjut Fia. “Nggak enak!”
“Ya!” sahut adiknya. “Panas!”
“Kalau gitu, ayo kita shalat!”
“Ayo!”
Lalu keduanya mengambil mukena dan memakainya, entah sudah wudhu atau belum. Lalu terdengar menggelar sajadah dan mulai shalat berjamaah. Fia menjadi imam dengan kecepatan yang luar biasa.
Ibunya hanya tersenyum di dalam kamar mendengarkan percakapan dan apa yang lalu dikerjakan kedua anak itu. Darinyalah saya mendapatkan cerita ini.
Semoga engkau semua benar-benar menjadi ahli syurga itu, Nak. Seperti juga pinta Ayah dan Ibu. Amin.
***
Mr.K
September 10th, 2009 at 10:42 am
wah lucunya ngebayangin anak2 yang masih kecil tp udah nurut sama orang tua, apalagi adiknya (yang TK) jadi follower sejati kakaknya ya..hehe..
jadi pengen…loh$#$%#
[Reply]
bahtiarhs Reply:
September 14th, 2009 at 10:49 am
Come on Mister K. Cepet nikah (kalau belum)
[Reply]
Abi Sabila
September 30th, 2009 at 11:53 am
Semoga percakapan ini bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang belum menyadari akan jadi ahli apa nantinya. amin.
[Reply]
oyong
November 30th, 2009 at 7:26 am
mas terimakasih cerita anda membuat saya menitikkan air mata, karena saya merasa jauh dari allah dan sebagai ayah yang baik. terimakasih. alhamdulilah tanpa sengaja pagi ini saya membuka situs yang insyaallah memberi pencerahan untuk saya. amin,
[Reply]
bahtiarhs Reply:
November 30th, 2009 at 11:36 am
mas oyong,
kita sama-sama pernah merasakan apa yang mas rasakan. tetapi mudah2an, justru krn pernah “merasa jauh” dengan-Nya, kita ada upaya “mendekat”. tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. sering motivasi itu datang dari anak-anak kita; krn mereka serupa “permukaan danau yang jernih” tempat kita bisa berkaca diri.
Terima kasih telah bersilaturahmi ke gubud ini. Semoga menginspirasi. Salam kenal.
[Reply]