rumah berbagi para pencari hikmah
[Catatan Ramadhan 1430H #12]
Ah, kita tentu tak melupakan cerita masyhur ini.
Tiga orang lelaki bepergian bersama. Ketika malam tiba, mereka terpaksa memasuki sebuah gua untuk menginap. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari gunung dan menutup pintu gua itu. Mereka pun terjebak, tak bisa keluar.
Salah seorang dari mereka berkata, bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari himpitan batu besar itu kecuali memanjat doa pada Tuhan Sang Maha Penolong dengan menyebutkan amal perbuatan mereka yang teramat istimewa.
Seorang kemudian ‘memamerkan’ amalnya kepada Allah, bahwa ia seorang yang sangat berbakti pada kedua orang tuanya. Bakti itu ia tunjukkan dengan tidak akan memberikan minum pada lainnya sebelum kepada kedua orang tuanya.
Pernah suatu kali, ia terlambat datang dari mencari kayu bakar di tempat yang jauh. Ketika kemudian ia memerah susu kambing, kedua orang tuanya sudah keburu tertidur. Ia enggan membangunkannya, hingga rela memegang gelas berisi susu itu sampai fajar menyingsing sekadar untuk menunggu mereka bangun. Bahkan meski anak-anaknya merengek dan menangis di bawah kakinya karena kelaparan, tak jua ia beringsut dari tempatnya. Begitulah, ketika akhirnya kedua orang tuanya bangun, ia berikan susu kambing itu untuk mereka minum.
Ia lalu berdoa, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau nilai hamba melakukan itu semata mengharap ridha-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang tengah kami hadapi ini.” Dan batu itu pun bergeser. Sedikit.
Lelaki kedua berkata, bahwa ia memiliki seorang keponakan, seorang gadis yang cantik, yang ia cinta kepadanya dan menginginkan dirinya. Gadis itu tentu saja menolak keinginannya.
Pada suatu kali, kesempatan itu tiba tanpa diminta. Gadis itu dalam kesulitan dan datang kepadanya untuk mencari bantuan. Ia memberikan 120 dinar kepada gadis itu dengan syarat ia mau tidur dengannya. Dan gadis itu rupanya tidak punya pilihan lain. Tetapi ketika persetubuhan terlarang itu akan terjadi, si gadis berkata, “Takutlah kepada Allah dan janganlah membuka cincin kecuali dengan haknya.” Maka lelaki itupun mengurungkan niatnya dan meninggalkannya. Padahal ia teramat cinta padanya dari sekalian manusia. Dan dinar itu pun tak dimintanya lagi dari gadis itu.
Lelaki itu pun lalu memanjat doa, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau nilai hamba melakukan itu semata mengharap ridha-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang tengah kami hadapi ini.” Dan batu itu pun bergeser sedikit lagi.
Lelaki ketiga menceritakan bahwa ia pernah memiliki buruh. Suatu kali, semua buruh sudah ia berikan upahnya, kecuali satu orang saja. Upah buruh itu lalu ia kembangkan dalam usaha sehingga menghasilkan banyak harta.
Sesudah berbilang tahun berselang, suatu hari sang buruh datang meminta upahnya yang dulu. Lelaki itu lalu berterus-terang bahwa semua yang terlihat: unta, lembu, kambing, dan hamba sahaya itu adalah hasil dari upahnya yang dulu. Lalu orang itu mengambil semuanya, semuanya, tanpa tersisa sedikitpun.
Lelaki itu pun lalu memanjat doa, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau nilai hamba melakukan itu semata mengharap ridha-Mu, maka lapangkanlah kesukaran yang tengah kami hadapi ini.” Dan batu itupun bergeser lagi.
Mereka kini bisa terbebas dari dalam gua. Berkat doa mereka. Berkat amal istimewa yang pernah terukir dalam kehidupan mereka.
***
Amal istimewa apa yang telah kita miliki, Kawan, yang bisa kita ‘pamerkan’ suatu saat di hadapan Tuhan? Bakti istimewa pada orang tua tidak, menjaga pandangan dari wanita kadang-kadang, dan menyerahkan harta yang menjadi hak orang lain dengan tulus ikhlas pun masih patut dipertanyakan.
Tetapi, apakah amal istimewa itu haruslah amal yang besar, yang wah, yang tak bisa orang lain lakukan? Mungkin cerita Anas bin Malik r.a. tentang pengalaman Abdullah bin Amr bin Ash r.a. ini patut kita renungkan.
***
Pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah saw. Kemudian beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni syurga.”
Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.
Esok harinya, Rasulullah saw. mengatakan hal yang sama, “Akan datang seorang lelaki penghuni syurga.” Dan muncullah laki-laki yang sama dengan kemarin. Begitulah Nabi mengulangnya sampai tiga kali dalam tiga hari.
Adalah Abdullah bin Amr bin Ash r.a. mencoba mengikuti lelaki yang disebut Nabi sebagai penghuni syurga itu dengan penuh penasaran. Ia mengaku sedang bertengkar dengan ayahnya pada lelaki itu, meminta tumpangan menginap di rumahnya hingga tiga malam, lalu memperhatikan amal apa yang dilakukannya hingga Nabi menyebutnya ahli syurga.
Dan dalam tiga malam itu, Ibnu Amr tidak mendapati amalan istimewa apapun pada diri lelaki itu.
Akhirnya ia pun berterus-terang. Bahwa ia sebenarnya hanya ingin tahu amal ibadah lelaki itu hingga Nabi menyebutnya ahli syurga. Lelaki itu pun menjawab, “Demi Allah! Amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslimin, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.”
***
(Hanya dengan) bersih hati pada sesama muslim bisa mengantarkan lelaki itu pada wangi syurga. Satu amal yang tak kentara, dilakukan bukan oleh orang yang luar biasa, namun timbangannya sungguh berat nian terasa. Amal itu bisa diandalkan kelak pada Allah di akhirat, ketika kita menghadapi pengadilan-Nya. Boleh dibilang: amal pamungkas!
Lalu pertanyaan kita hari ini adalah: sudahkah saya, Anda juga, Kawan, memiliki amal pamungkas itu? Amal yang mampu suatu ketika menggeser batu besar yang menindih kehidupan kita? Amal yang bisa kita andalkan kelak di hadapan Allah, yang memungkinkan kita menginjak halaman syurga-Nya? Mungkin tidak perlu amal yang luar biasa, yang banyak, yang berbiaya mahal. Cukuplah amal yang sederhana, yang tak perlu diketahui orang sebagaimana bersedekah dengan tangan kanan tanpa diketahui tangan kiri. Amal yang kita lakukan diam-diam. Karena Rasulullah saw. pun pernah bersabda,
أَحَبُّ الاَعْمَالِ أَدْوَامُهَا وَاِنْ قَلَّ
“Amal (kebaikan) yang paling disukai Allah swt. adalah amal yang dilakukan secara berkesinambungan (langgeng) meskipun sedikit.” ~H.R. Bukhari-Muslim
Jadi, amal yang lebih baik bukanlah yang besar, banyak atau hebat, tapi dog-nyeng (sekali saja, setelah itu sepi, berhenti), melainkan yang lumintu, kontinyu, istiqamah, dan lestari meskipun sedikit.
Ada pedagang lombok yang selalu memberi imbuh (tambahan berat timbangan [jawa]) kepada pembelinya. Sederhana, hanya dua-tiga biji lombok. Tetapi selalu, dan pembelinya pun senang. Ada yang suka menata sandal di masjid, sekadar memudahkan jamaah ketika pulang. Ada yang selalu tersenyum setiap bertemu orang. Ada yang selalu memanjat doa buat saudaranya, tanpa mereka ketahui. Ada yang selalu mengulur tangan, berapa dan apa saja, setiap kali ada yang minta bantuan. Ada yang rutin mengasuh anak yatim. Ada yang ….
Saya sendiri akan berusaha menelepon ibu saya setiap hari Ahad sekadar menanyakan kabarnya — tapi yang ini Anda keburu tahu. Jadi, saya mesti cari yang lain.
Bagaimana dengan Anda, Kawan?
Wallahu a’lam.
***
Abi Sabila
September 30th, 2009 at 12:41 pm
mari sama-sama bertekad untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan yang telah biasa kita jalankan, dan akan melakukan kebaikan-kebaikan yang belum kita kerjakan agar bisa menjadi kebiasaan…….
[Reply]
Imam Suhadi
October 13th, 2009 at 12:27 pm
Sangat menyentuh hati saya Pak Bahtiar, bolehkah kiranya saya diskusikan dgn teman2 saya? Jazaakumullohu khoiron katsiir.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
October 13th, 2009 at 1:30 pm
Monggo Mas Imam. Semoga menginspirasi.
[Reply]