Hotel Ambacang Padang yang hancurAda 3 buah posisi jam-menit yang sedang dibicarakan orang hari-hari ini. 17:16, 17:58, dan 08:52. Ketiganya adalah jam-menit ketika gempa baru-baru ini meluluhlantakkan kota Padang dan Jambi. Gempa berkekuatan 7,6 Skala Richter itu menghancurkan kota Padang dan sekitarnya tanggal 30 September 2009 lalu pada pukul 17.16 WIB. Gempa susulan kemudian terjadi pada pukul 17.58 WIB. Keesokan harinya, tanggal 1 Oktober, gempa berkekuatan 7 Skala Richter kembali mengguncang Jambi dan sekitarnya tepat pada pukul 08.52 WIB.

Ada yang kemudian menyebar SMS untuk membuka Al-Qur’an dan menemukan ayat-ayat berdasarkan posisi jam itu. Maka, pada QS. Al-Israa’ [17] ayat 16 kita menemukan ayat dimana Allah berfirman:

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Dan pada QS. Al-Israa’ [17] ayat 58, Allah berfirman:

Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).

Sementara pada QS. Al-Anfaal [8] ayat 52, Allah berfirman:

(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.

Ketiga ayat tersebut berbicara tentang tiga hal:

  1. Bahwa ayat tersebut berbicara tentang kehancuran sebuah negeri, dibinasakannya sebuah negeri oleh Allah swt. sebelum Kiamat tiba.
  2. Bahwa penduduk negeri yang dibinasakan itu bermewah-mewah. Mereka melakukan kedurhakaan kepada Allah. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah. Bahkan dalam ayat ketiga, perilaku penduduk negeri itu diserupakan dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya.
  3. Bahwa penghancuran negeri itu dilakukan dengan azab yang sangat besar, sehancur-hancurnya.

Kita tentu tidak hendak memercayai tanpa reserve “othak-athik-gathuk” (otak-atik supaya sesuai [jawa]) seperti ini. Hanya berdasarkan sinyalemen jam dan menit sebuah kejadian yang coba kita cocok-cocokkan dengan surat dan ayat Al-Qur’an, kita lalu menyimpulkan bahwa gempa yang melanda Padang, Pariaman dan Jambi itu sebagai azab yang besar yang disebabkan para pemimpin kita serta penduduknya telah berlaku seperti Fir’aun dan pengikutnya, seringkali mengingkari ayat-ayat Allah, dan durhaka kepada-Nya. Meskipun pada kenyataannya fenomena dan kejadian itu barangkali saja — sekali lagi barangkali saja — sesuai dengan sinyalemen pada ayat-ayat tersebut. Apalagi ketika musibah itu terjadi, rasanya hampir tidak ada pemimpin negara kita ini yang lalu memberikan pernyataan yang menyejukkan kita sebagai hamba Allah swt., mengajak seluruh bangsa untuk introspeksi diri, melakukan taubat dengan sebenar-benarnya, seraya menyatakan bahwa boleh jadi musibah yang bertubi-tubi ini merupakan peringatan bagi kita akibat kelalaian kita sebagai sebuah bangsa.

Kita masih ingat ketika kejadian runtuhnya menara kembar WTC 9/11 beberapa tahun lalu ada yang berusaha mencocok-cocokkan antara tanggal, bulan, jumlah lantai gedung WTC dan nama jalan di depannya dengan nomor surat, juz, nomor ayat dan redaksional di dalam Al-Qur’an, yang pada kenyataannya tidak semuanya relevan untuk dihubungkan. Atau tidak perlu jauh-jauh, mengapa kita tidak mengotak-atik juga gempa yang melanda Tasikmalaya pada 2 September yang lalu? Gempa itu terjadi pada pukul 14:55 WIB. Kalau kita buka Al-Qur’an, niscaya tidak akan kita temukan QS. Ibrahim [14] ayat 55. Karena QS. Ibrahim hanya sampai ayat 52.

Ini menunjukkan bahwa pencocokan jam-menit dengan surat-ayat Al-Qur’an, meskipun cocok secara makna, tetapi itu semua lebih merupakan sebuah kebetulan saja. Dan tentunya, Al-Qur’an terlalu mulia jika hanya untuk diperlakukan seperti kitab primbon yang dibuka orang untuk mencocok-cocokkan sebuah fenomena yang terjadi seperti ini. Wallahu a’lam. Na’udzubillahi min dzalik!

Oleh karena itu, marilah kita pandang kalaupun ada cocoknya jam-menit kejadian gempa di Sumatera itu dengan surat dan ayat Al-Qur’an sebagai sekadar pengetahuan saja, mungkin juga untuk introspeksi diri, dan tidak menjadikannya sebagai sebuah hujjah dan keluarbiasaan yang perlu disebarluaskan. Jika itu dilakukan, kita akan terjebak seperti banyak orang yang latah, yang begitu mendapat SMS yang kontroversial, tanpa cek and ricek meneruskannya ke semua orang. Itulah yang terjadi di Jawa Timur hari-hari ini. Gara-gara menyebarnya SMS akan terjadinya gempa 8,8 Skala Richter tanggal 6-7 Oktober antara jam 13.00-15.00 WIB, entah siapa yang pertama kali menyebarkannya, telah membuat gempar dan heboh seluruh kota: para orang tua mengkhawatirkan anak-anaknya, sekolah-sekolah memulangkan siswanya, orang-orang berlarian keluar rumah, kantor, dan gedung-gedung bertingkat. Bahkan di Bojonegoro, penduduk tidak berani tidur di dalam rumahnya selama dua hari sejak menerima SMS itu. Ini tentu menggelikan, sementara BMKG merasa tidak pernah memberikan sinyalemen apapun terkait akan terjadinya gempa di Jawa Timur.

Cukuplah kita memahami, bahwa tidaklah sehelai daun yang gugur dari dahannya atau sebutir debu yang terbang ditiup angin di padang gersang di permukaan bumi, melainkan semuanya itu diketahui dan hanya terjadi atas izin Allah swt. Apatah lagi kejadian sebesar gempa bumi. Bukankah Allah swt. telah berfirman,

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taghabun: 11)

***

Mengapa gempa itu terjadi di Padang, Pariaman, Jambi? Pertanyaan yang sama dulu juga sempat beredar ketika terjadi tsunami, mengapa mesti Aceh, Tasikmalaya, Jogjakarta yang diluluh-lantakkan Allah? Mengapa bukan Jakarta atau Surabaya, atau Singapura yang sedang membangun kasino besar-besaran, atau Cristmas Island pusat perjudian itu, yang mungkin tingkat kemaksiatannya jauh lebih besar?

Kiranya kita seharusnya lebih takut dengan fenomena ini. Bahwa musibah yang terjadi di negara kita justru menimpa tempat-tempat, yang dalam pandangan mata kita, sebagai pusat-pusat syiar Islam. Mengapa? Karena Allah swt. telah berfirman,

Dan takutlah (peliharalah) dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal: 25)

Dalam tafsirnya Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah swt. memperingatkan hamba-hamba-Nya yang mukmin tentang sebuah fitnah, yakni cobaan dan ujian berupa segala hal yang tidak menyenangkan (bencana, kecelakaan, kesialan, kemalangan, kesedihan, kesusahan, kejelekan, keburukan, kejahatan) yang menimpa secara merata pada semua orang tanpa terkecuali, tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim, pelaku-pelaku maksiat dan dosa saja diantara mereka. Lebih dari itu, keadaan fitnah itu sedemikian parahnya sehingga tidak dapat ditolak dan dihilangkan. Ibnu Katsir menyitir hadits Nabi saw. yang menjelaskan fenomena tersebut,

Dari Hudzaifah bin al-Yaman, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya, hendaklah kamu menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Jika tidak, maka Allah akan menimpakan azab kepada kamu semua. Lalu kamu berdoa, namun Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Dalam sebuah hadits lain dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Jika kemaksiatan merajalela pada umatku, maka Allah akan meratakan pada mereka dengan azab dari sisi-Nya.” Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah ada orang-orang saleh di tengah-tengah mereka ketika itu?” Beliau menjawab, “Ya, tentu saja.” Ummu Salamah bertanya (lagi), “Bagaimana Allah memperlakukan orang-orang saleh itu?” Beliau bersabda, “Mereka pun tertimpa musibah sama seperti yang menimpa manusia lainnya.” (HR. at-Tirmidzi). Dalam riwayat Ahmad ditambahkan, “kemudian orang-orang saleh kembali kepada ampunan dan keridhaan Allah”.

Zainab binti Jahsyi pernah bertanya kepada Nabi saw., “Wahai Rasulullah, apakah mungkin kita akan dihancurkan padahal diantara kita masih ada orang-orang yang shalih?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, jika kemaksiatan telah banyak terjadi.” (HR. Bukhari Muslim)

Kita lalu bertanya, bagaimana mungkin kemaksiatan banyak terjadi sementara masih ada orang-orang yang shaleh? Jawabnya mungkin bisa kita dasarkan pada hadits Rasulullah saw.,

“Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran tetapi tidak mengubahnya, maka sangat dekat Allah akan menimpakan siksa-Nya terhadap mereka secara merata.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda,

“Sesungguhnya manusia jika melihat kezaliman tetapi tidak mengubahnya dengan tangannya, maka ditakutkan sangat dekat Allah akan menimpakan siksa dari sisi-Nya terhadap mereka secara merata.” (HR. at-Tirmidzi)

Dari ayat-ayat dan hadits-hadits di atas, maka hendaknya kita takut menjadi bagian dari orang-orang shaleh, yang hanya diam berpangku tangan saja, tidak bergerak seinchi pun dengan tenaga, harta, dan kekuasaan kita, ketika menyaksikan kemungkaran, kemaksiatan, dan kezhaliman terjadi di sekitar kita. Takutlah kita menjadi bagian dari orang-orang yang shaleh, tetapi keshalehan itu hanya untuk dirinya sendiri. Na’udzubillahi min dzalik!

Wallahu a’lamu bish-shawab.

***

Keterangan.
Sumber gambar: www.mediaindonesia.com

Bookmark and Share