Tak and the Power of JujuInilah konsekuensi yang harus kami tanggung ketika memutuskan di rumah tidak perlu memutar siaran TV. Ketika lebaran kemarin di rumah mertua di Bangkalan, hampir seharian Ais dan kedua adiknya (yang pada masa kecil mereka sempat melihat TV sebelum kemudian kami buang antenanya, lalu kini saya singkirkan sama sekali dari rumah) duduk mematung di depan TV kakeknya. Tentu saja kakeknya dengan senang hati merelakan TV, tempat, dan waktunya untuk cucu-cucunya. Sementara saya dan ibunya anak-anak terbaring sakit, maka lengkaplah ‘kebahagiaan’ Ais dan adik-adiknya menghabiskan waktunya seharian di depan kotak opera sabun itu.

Ada yang kemudian menarik perhatian saya ketika mereka sedang menyaksikan film kartun. Sebenarnya film kartun anak-anak kita saat ini isinya apa sih? Pada saat itu, di saluran GlobalTV sedang diputar serial Tak and The Power of Juju. Sebuah kartun yang diangkat dari video game untuk Play Station. Cerita ini lalu diadaptasi ke dalam film animasi televisi oleh Nickelodeon dan Nicktoons Network pada 2007.

Film animasi televisi ini berseting sebuah tempat kuno fiktif bernama Pupanunu. Karakter utamanya adalah seorang anak lelaki bernama Tak yang memiliki kekuatan magis kuno yang disebut Juju.

Kali itu sedang diputar episode Break This yang telah didubing ke dalam bahasa Indonesia.

Diceritakan Tak sedang bermain dengan Jeera, seorang perempuan sebaya, teman bermain paling dekat dan disukai Tak. Jeera sedang bermain akrobatik yang kebablasan. Hingga suatu saat, ia jatuh ke dalam sebuah lubang yang dalam. Tak segera menghampirinya. Ia lalu berteriak, “Jeera! Apakah kamu baik-baik saja?”

Dari dalam lubang terdengar sahutan Jeera. “Ya, aku tidak apa-apa.”

Tak menyahut. “Syukurlah kalau begitu. Ada yang bisa aku bantu?”

Jeera menjawab, “Ya. Turunlah ke sini, Tak. Tolong carikan kakiku yang satu!”

Sampai di sini saya tertawa. Tetapi Ais dan adik-adiknya, tentu saja, diam mematung, berkonsentrasi ke layar TV, tetap serius melihat ‘kelucuan’ itu. Kelucuan tetapi menurut saya ‘mengerikan’! Saya jadi bertanya-tanya, serial film anak-anak semacam Tak and the Power of Juju ini sebenarnya untuk konsumsi siapa? Anak-anak? Dewasa?

Tidak puas memperhatikan satu film kartun, saya pun mencoba melihat satu episode film berikutnya yang diputar setelah Tak. Masih di saluran TV yang sama. Film itu adalah Spongebob SquarePants, si spons kotak kuning yang sangat terkenal itu. Saya mengenalnya pula dari cerita anak-anak saya, dulu, tetapi tak sekalipun pernah mengikuti ceritanya. Pada episode yang saya tonton itu diceritakan bagaimana Spongebob pengin menjadi orang yang normal. Berangkat ke restoran Krusty Krab sebagaimana layaknya orang kantoran, tepat waktu, mengerjakan pekerjaan di restoran yang terkenal dengan burger Krabby Patty itu dengan kerajinan seorang pekerja teladan. Mr. Krabs pun dibuat kaget karenanya. Juga Squidward, kasir Krusty Krab, yang juga tetangga Spongebob.

“Hey! Apa yang terjadi padamu, Spongebob?” tanya Squid keheranan sambil memperhatikan Spongebob mengetik dokumen ke dalam komputer. Sesuatu yang sepertinya tidak pernah dilakukan temannya itu.

“Aku ingin menjadi orang yang normal,” jawab si spons kuning tanpa menoleh. Jarinya masih sibuk mengetik di atas keyboard.

“Menjadi orang yang normal?” ulang si tentakel dengan mata membelalak. “Sungguh aneh!”

Demikianlah kira-kira sebagian dialog Spongebob dengan Squidward. Dari sisi isi pembicaraan, saya tak bisa membayangkan anak-anak seusia Ais (SD kelas III), apalagi adik-adiknya, bisa memahami topik pembicaraan itu. Ketika saya tertawa mengikuti dialog itu, ketiga anak saya sama seperti melihat Jeera kehilangan salah satu kakinya di atas. Serius, tanpa ekspresi. Saya yakin mereka tak menganggap itu lucu. Saya juga merasakan bahwa dialog itu mungkin tambah lucu ketika dalam bahasa aslinya, dan disaksikan oleh orang dengan bahasa ibu yang sama (Inggris).

Saya kira, bagaimanapun, dialog itu tak bisa dilepaskan dari unsur budaya setempat, termasuk sense of humor, yang menggunakan bahasa untuk dialog itu. Ini sama halnya kasus orang-orang dengan bahasa ibu non Jawa ketika menonton Timbul Srimulat membuat humor dalam bahasa Jawa. Meski ia ikut tertawa, tetapi kadar tertawanya tidak setinggi orang lain yang benar-benar tertawa. Bahkan mungkin ia hanya ikut-ikutan tertawa saja tanpa tahu substansi penyebab tertawa itu.

Demikian juga dialog humoris dalam kartun seperti Spongebob. Apalagi jika itu hasil dubbing. Hasil translasi, intonasi, dan sebagainya tentu sangat berpengaruh. Saya bahkan mengatakan bahwa hasil dubbing berbagai kartun ke dalam bahasa Indonesia itu ‘kurang wajar’ jika didengarkan sungguh-sungguh. Entahlah.

Saya hanya berpikir tentang anak-anak yang menonton kartun-kartun di televisi. Tak dan Spongebob hanya salah satu contoh. Betapa mereka disuguhi dengan tontonan yang secara budaya tak sesuai, apalagi dari sisi konten atau isi. Mereka hanya menonton film animasi yang menarik minat keingintahuan kanak-kanan mereka tanpa tahu apa maksudnya. Apalagi yang cenderung merusak anak-anak seperti Bart Simpson atau Crayon Shinchan.

Tetapi sayangnya kita tidak memiliki alternatif film kartun yang bagus buatan dalam negeri, yang penuh unsur pendidikan anak-anak. Kita pernah punya Unyil, tetapi kini sudah tak tayang lagi. Ramadhan kemarin saya sempat melihat kartun Upin dan Ipin dari Malaysia yang diputar di TPI. Kelihatannya bagus. Tetapi itu masih sangat sedikit dibandingkan yang tak bagus lainnya.

Jadi gimana? Kalau saya dan istri, sementara menahan diri tidak menyetel TV di rumah hingga anak-anak cukup besar. TV pun sudah disingkarkan. Konsekuensinya memang anak-anak jadi melihat TV di rumah tetangga yang punya anak sebaya anak-anak saya. Sesekali, apa boleh buat. Mau memproduksi sendiri kartun Islami untuk anak-anak, baru sebatas ide dan obsesi saja sejak dulu.

Ini mendesak, menurut saya. Ketika di layar lebar sudah digebrak dengan AAC dan KCB, mengapa kita tidak segera mendobrak kartun anak-anak? Apalagi, Spongebob SquarePants dalam beberapa episode berbicara tentang topik dewasa; seperti Spongebob yang pengin punya anak. Juga disinyalir istilah yang dipakai agak sukar dipahami anak-anak. Apalagi, konon Spongebob bisa mempengaruhi anak-anak menjadi gay. Hah! Mengerikan, bukan?

Ayo! Siapa bantu saya membuat film animasi atau kartun Islami untuk anak-anak?

***

Keterangan
Sumber gambar: http://sharetv.org

Bookmark and Share