Ada analogi yang saya tak tahu apakah itu hasil othak-athik-gathuk atau memang sebenar analogi. Ust. Ma’ruf Islamudin pada ceramah di sebuah radio swasta di Surabaya beberapa hari yang lalu pernah menyampaikan bahwa “syukur” itu artinya “terima kasih”. Terima. Kasih. Terima (ustadz Ma’ruf kedengarannya sedang mempraktekkan menerima sesuatu), lalu Kasih (diberikannya sesuatu pada orang lain). Terima. Kasih. Setelah menerima, lalu jangan lupa ngasih (ada nggak ya bahasa Indonesia untuk “mengasih”?) pada yang lain. Jadi, syukur itu tak sekedar menerima, tetapi juga mengimplementasikannya dengan berbagi pada orang lain.

Dengan kata lain, syukur kiranya sesuai dengan ucapan Andrea Hirata melalui mulut Ikranegara sebagai Pak Harfan dalam Laskar Pelangi:

“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.”

Ustadz Ma’ruf mengibaratkan syukur itu seperti sebuah gelas penuh minuman, lalu kita minum seteguk demi seteguk. Gelas itu kini isinya berkurang atau bertambah? Secara fisik, memang berkurang karena diminum sebagian. Tetapi secara hakikat, justru bertambah. Mengapa? Karena hanya gelas yang “berkurang” isinya sajalah yang kemudian akan diisi; akan ditambah. Semakin banyak “berkurang” — karena kita minum atau lainnya, maka semakin banyak pula bertambahnya — karena akan selalu diisi.

Demikianlah kita memahami, ketika seseorang diberikan nikmat oleh Allah swt. lalu mewujudkan rasa syukurnya dengan membagi nikmat itu kepada yang lain, maka Allah swt. akan menambah nikmat yang telah diberikan-Nya kepada orang itu. Ini seperti analogi gelas yang setelah penuh terisi lalu diminum atau diberikan pada orang lain, maka niscaya akan kembali penuh setelah diisi lagi. Kiranya demikian pula kita memahami firman Allah swt.,

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, …” ~QS. Ibrahim [14]: 7

Bersyukur yang dimaksud Allah dalam ayat itu pastilah tak sekedar syukur yang terucap di mulut, melainkan terejawantahkan ke sekelilingnya. Bukan sebuah syukur yang “sunyi”, melainkan syukur yang “ramai”, yang “bergerak” dan “menggerakkan”. Syukur yang bukan seperti gelas-penuh-jarang-tumpah, tetapi gelas yang selalu terbagi dan meluber kanan-kiri — bahkan tanpa hitungan, lalu terisi penuh kembali setiap kali.

Siapa yang banyak memberi, maka ia akan (lebih) banyak menerima, meski tak meminta. Tak akan jatuh miskin orang yang banyak memberi. Tak akan pernah kaya orang yang pelit berbagi. Kiranya kita selayaknya bercermin pada diri lelaki ini.

Pada suatu hari, kota Madinah seolah-olah bergetar ketika terdengar suara gemuruh dan hiruk pikuk. Ummul Mu’minin ‘Aisyah bertanya, “Suara apakah yang hiruk pikuk itu? Apa yang telah terjadi di kota Madinah?”

Orang-orang menjawab, “Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam, membawa barang-barang dagangannya, dengan iring-iringan tujuh ratus unta bermuatan penuh membawa sandang pangan dan keperluan-keperluan penduduk.”

Ummul Mu’minin berkata, “Semoga Allah melimpahkan keberkahan-Nya bagi Abdurrahman bin Auf dengan baktinya di dunia serta pahala yang besar di akhirat.” Selanjutnya, beliau berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.’”

Sebelum iring-iringan unta berhenti dan tali-temali perniagaan dilepaskan, berita dari Ummul Mu’minin itu telah sampai kepada Abdurrahman bin Auf. Secepat kilat, lelaki itu datang menemui ‘Aisyah dan berkata, “Anda telah mengingatkan aku dengan sebuah hadits yang tidak pernah kulupakan.” Dia lalu berkata, “Kini saksikanlah, bahwa kafilah ini dengan seluruh muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla.”

Maka, dibagikanlah muatan tujuh ratus unta itu kepada seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai suatu amal yang mulia di jalan Allah.

Ah, sebuah ungkapan syukur yang layak dicontoh, bukan?

***

Bookmark and Share