musafirPada kuliah Shubuh Ahad ini, 1 November 2009, Pak Muttaqin yang kena giliran kultum menguraikan tentang anjuran untuk bepergian dari Rasulullah saw. Mengutip dari Kitab Fiqhus Sunnah karya Sayyid Sabiq, Pak Muttaqin menyebutkan satu hadits pengantar yang sangat menarik.

عن ابي هريرة راضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال سَافِرُوا تَصِحُّوا وَاغْزُوا تَسْتَغْنُوا - رواه أحمد وصححه النواوى

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Bepergianlah engkau sekalian, maka engkau sekalian akan sehat. Dan berjihadlah engkau sekalian, maka engkau sekalian akan berkecukupan.” ~ HR. Ahmad, yang dishahihkan oleh Imam Nawawy.

Rupanya ada korelasi langsung antara bepergian dan kesehatan. Siapa yang suka bepergian, maka akan dilimpahkan kepadanya kesehatan. Tentu yang dimaksud adalah bepergian kemana saja untuk kebaikan. Mencari ilmu, menjalankan usaha atau bisnis, menyambung silaturahmi, berwisata melepaskan penat, dan lain-lain. Dalam istilah kita, bepergian ini keren disebut “traveling”.

Dalam bahasa Arab, sepanjang pengetahuan saya, setidaknya ada dua kata yang sama-sama berarti “pergi”, tetapi keduanya berbeda substansi. Kedua kata itu adalah dhahaba untuk menyebut pergi keluar rumah untuk keperluan rutin atau dekat. Dan shafara untuk pergi dalam arti bepergian jauh berbilang hari. Orangnya disebut “musafir”. Konteks hadits di atas tentu berkaitan dengan “pergi” yang kedua itu, yang selalu saya bayangkan sebagai mengendarai unta, menembus padang pasir dalam rombongan kafilah-kafilah, menjejaki oase demi oase untuk bertahan hidup hingga sampai di tujuan. Tetapi musafir tentu saja tidak harus demikian.

Nah, mengapa mereka yang musafir menjadi sehat? Rasul saw. tidak memberikan penjelasan tentang hal ini dalam hadits di atas. Karena itu, sehat yang dimaksud tentu dapat dimaknai secara sangat luas. Bepergian macam musafir itu, yang menggerakkan segala anggota tubuh, melibatkan tenaga, serta pikiran, akan membawa kita pada tempat-tempat baru dengan pemandangan yang mempesona, mempertemukan kita dengan peristiwa-peristiwa menakjubkan, bahkan bersejarah, dan membuat hidup kita lebih hidup. Traveling membuat kita bisa lepas dari kejenuhan, kebosanan, dan rutinitas hidup yang membosankan. Bukankah itu sangat “menyehatkan” — tidak saja jasmani melainkan pula ruhani?

Karena itu, bepergian, menjadi musafir dari satu tempat ke tempat lain, dipandang sangat penting oleh Islam. Bab bepergian pada Kitab Fiqhus Sunnah karya Sayid Sabiq tersebut bahkan memuat segala hal tentang bepergian; anjuran bepergian, anjuran membawa serta teman, adab ketika akan bepergian, aturan tentang rombongan bepergian berikut perlunya mengangkat amir ash-shafar (pemimpin rombongan bepergian), keutamaan bepergian minimal 3 orang, dan sebagainya.

Bahkan dalam beberapa syairnya, Imam Syafi’i, salah seorang tokoh madzhab yang terkenal dianut muslimin di Indonesia dan Malaysia menyatakan:

Merantaulah dengan penuh keyakinan, maka niscaya akan engkau temui lima kegunaan, yaitu ilmu pengetahuan, adab, pendapatan, menghilangkan kesedihan, mengagungkan jiwa dan persahabatan.

Sungguh aku melihat air yang tergenang membawa bau yang tidak sedap. Jika ia terus mengalir, maka air itu akan kelihatan bening dan sehat untuk diminum. Jika engkau biarkan air itu tergenang, maka ia akan membusuk.

Singa hutan dapat menerkam mangsanya, setelah ia meninggalkan sarangnya. Anak panah yang tajam tak akan mengenai sasarannya, jika ia tidak meninggalkan busurnya.

Emas bagaikan debu, sebelum ditambang. Pohon cendana yang tertancap di tempatnya, tak ubahnya seumpama kayu bakar.

Jika engkau tinggalkan tempat kelahiranmu, engkau akan menemui derajat yang mulia di tempat yang baru, dan engkau bagaikan emas yang sudah terangkat dari tempatnya.

Begitulah manfaat besar bepergian. Itulah yang mendorong betapa banyak ilmuwan dan tokoh-tokoh muslim dari zaman ke zaman berkelana semasa hidup mereka. Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, Shalahuddin Al-Ayyubi, Muhammad Al-Fatih, Thariq bin Ziyad, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan masih banyak lagi.

Saya sungguh beruntung mendapatkan sebuah buku langka dari perpustakaan kecil Uncle M sepeninggal beliau. Judulnya: Sejarah Pendidikan Islam karya Prof. Dr. Ahmad Syalaby dari Cairo University, Mesir (Pustaka Nasional Singapura, 1976); terjemahan dari judul asli: Tarikh at-Tarbiyyah al-Islamiyyah. Pada subbab Merantau Untuk Menuntut Ilmu, pada hal 283, beliau menceritakan tentang Imam Bukhari (265 H).

Ahli Hadits yang terkenal itu ingin mengumpulkan hadits-hadits shahih sebanyak mungkin. Maka dikumpulkannyalah semua hadits yang dapat diperolehnya di Bukhara. Kemudian ia pergi ke Balakh, dan dipelajarinya hadits dari ahli-ahli hadits yang ada di sana, serta diriwayatkannya hadits-hadits mereka. Sesudah itu ia mengembara ke Marw, Naisyabur ar-Ray, Baghdad, Basra, Kufah, Makkah, Madinah, Mesir, Damaskus, Qaisariyah, Asqalan, Hims. … Perjalanan itu dilakukannya selama 16 tahun, dimana ia mengalami penderitaan yang tidak sedikit, yang hanya dapat dipikul oleh pahlawan-pahlawan yang sabar dan tangguh.

Begitulah jiwa petualang, perantau, begitu melekat pada diri mereka yang haus untuk menggapai “kesehatan” dengan bepergian. Tak heran jika Ibnul Khatib at-Tabrizy, seorang ahli ilmu dari Tabriz di Persia, pernah bersyair:

فَمَنْ يَسْأَمْ مِنَ الاَسْفَارِ يَوْمًا # فَإِنِّي قَدْ سَئِمْتُ مِنَ المُقَامِ

Siapa yang merasa bosan untuk bepergian barang sehari, maka sebaliknya, aku ini telah bosan untuk menetap.

Maka saya pun teringat akan Makkah dan Madinah. Lalu Gibraltar, Andalusia, Cordoba, Sevilla, Toledo, Tolouse, Palermo, Konstantinopel atau Istanbul, Alexandria, Kairo, Damaskus, Isfahan, Qum, Tabriz, Qadisiyah, Kufah, Baghdad, Karbala, Naishabur, Bukhara, Samarkand, Islamabad, Kandahar, Punjab, Kashmir, Gujarat, Tripoli, Maroko, Tanger, Fes … Ya Allah! Betapa banyak kota dan tempat yang ingin saya kunjungi suatu saat – yang kini baru sebatas mimpi.

Ya Allah! Sehatkanlah aku, hingga aku bisa bepergian ke tempat-tempat itu sebelum pejam selamanya mataku. Dan musafirkanlah aku ke tempat-tempat itu hingga aku mendapatkan kesehatan dari-Mu sebagaimana sabda Rasul-Mu. Amin.

***

Keterangan.
Gambar diambil dari http://indropranoto.files.wordpress.com/2008/06/wallpaper_camel_desert.jpg (koleksi harunyahya.com)
Sumber bacaan:
- http://irdy74.multiply.com/journal/item/136
- http://cahayapena.wordpress.com/2009/07/23/saatnya-melakukan-perjalanan/

Bookmark and Share