rumah berbagi para pencari hikmah
Setidaknya ada 10 (sepuluh) hadits yang disampaikan Abina Ust. Ihya Ulumiddin pada taushiyah Ahad pagi kemarin (7/11). Kesepuluhnya menggunakan kata awalan laysa (ليس) yang berarti bukanlah. Laysa biasa digunakan untuk peniadaan. Saya memahaminya sebagai upaya untuk menjelaskan makna atau pengertian yang sebenarnya dibandingkan dengan pengertian yang dipahami orang pada umumnya.
Hadits-hadits dengan kata awalan laysa tersebut tidak lain merupakan salah satu metode Rasulullah saw. dalam tarbiyah untuk memberikan deskripsi nilai-nilai yang tinggi, yang esensial, di belakang atau di balik pemahaman-pemahaman — yang mungkin keliru atau kurang tepat — yang telah berkembang luas di masyarakat.
***
Ada satu dari sepuluh hadits yang buat saya menarik untuk dibincangkan di posting ini. Hadits itu berbunyi:
لَيْسَ البَيَانُ كَثْرَةُ الكَلاَمِ وَلَكِن فَصْلٌ فِيمَا يُحِبُّ اللهُ وَرَسُولُهُ وَلَيْسَ العَيُّ عَيَّ اللِّسَانِ وَلَكِن قِلَّةُ مَعْرِفَةٍ بِالحَقِّ – رواه الديلمي
Al-Bayan itu bukanlah banyaknya ucapan, melainkan ucapan yang lugas dalam hal yang disukai Allah dan Rasul-Nya. Dan gagap itu bukanlah gagapnya lisan, melainkan minimnya pengetahuan akan kebenaran. ~HR. ad-Daylami
Hadits ini begitu menikam. Menghunjam dalam. Terutama bagi mereka yang setiap saat berhubungan dengan pembicaraan maupun pemberitaan lewat media apapun — termasuk tulisan, macam penulis, juga blogger, seperti saya dan Anda semua. Jikalau demikian, yach, hadits ini pada hakikatnya menyangkut kita semua; karena kita semua berucap, menulis, dan berpengetahuan — banyak ataupun sedikit.
Rasulullah saw. menyangkal atau membantah pengertian orang pada umumnya, bahwa al-bayan (seorang yang ahli menyampaikan sesuatu, demikian kira-kira artinya; biasanya melalui ucapan lisan) itu adalah mereka yang banyak bicara. Karena esensi “ahli” itu bukan terletak pada “banyaknya ucapan”, tetapi pada “lugasnya hal yang ia sampaikan”. Cekak-aos. To the point. Bisa sedikit atau banyak, yang penting pas. Tidak kurang. Tidak lebih. KBBI sendiri mengartikan lugas sebagai “mengenai yang pokok-pokok (yang perlu-perlu) saja, tidak pernah menyimpang ke sana-sini, bersifat seperti apa adanya, lugu, serba bersahaja, serba sederhana, tidak mencolok, tidak berbelit-belit, tidak berbunga-bunga, tidak bersifat pribadi, atau obyektif.”
Itupun ternyata tak cukup. Nabi mengatakan, hal yang disampaikan itu selain lugas, juga harus yang “disukai Allah dan Rasul-Nya”. Barulah orang yang demikian layak disebut al-bayan. Dengan demikian, orang yang banyak omong tentang suatu hal yang kosong (tak ada juntrungan dan manfaatnya), tak layak disebut al-bayan.
Hadits itu lebih menarik lagi ketika pengertian al-bayan — yang disangka orang sebagai yang banyak bicara — itu dipersandingkan dengan al-’ay (gagap). Orang yang gagap itu, kata Nabi, bukanlah orang yang sulit ngomong, ga … ga … gagap bi … bi … bicara dalam arti fisik (cacat) sebagaimana dipahami orang, melainkan pada hakikatnya adalah mereka “yang minim pengetahuannya”. Al-Qur’an bahkan dengan tegas melarang kita mengikuti apa yang kita tidak punya ilmu atau pengetahuan tentangnya (QS. Al-Isra’ [17]: 36).
Implikasi dari hadits ini sangat luas.
Mungkin satu pepatah yang sangat kita kenal cukup mewakili fenomena di atas.
Padi itu semakin berisi semakin merunduk.
Apakah kita sudah seperti padi yang berisi? Saya jadi berpikir, jangan-jangan yang paling banyak masuk kategori keblinger sebagai banyak omong tak berisi sebagaimana sinyalemen hadits ini adalah para penulis dan blogger. Seperti Anda itu!! … Eh, saya juga ding! ** Jadi malu. **
Semoga kita terjaga dari memiliki lisan dan tulisan yang tak terjaga dan kosong dari ilmu pengetahuan akan kebenaran. Amin.
***
Keterangan.
Sumber gambar: http://www.mindfully.org/Reform/
Imam Suhadi
November 9th, 2009 at 12:21 pm
Teliti, hati-hati dan waspada dalam mengelola diri kita menjadi hal yang penting agar kita selamat.
[Reply]
Abi Sabila
November 9th, 2009 at 12:29 pm
“semakin banyak ngomongnya, semakin sedikit ilmunya”
jika ngomong=komentar, berarti saya banget tuh! hihi…jadi miris. Matur nuwun Pak, sudah diingatkan.
## Nggaklah Mas. Komentar sangat saya harapkan, setidaknya untuk menegaskan bahwa saya tidak selalu benar. Jadi, jangan bosan untuk berkomentar lho. - bahtiarhs
[Reply]
ummu najwa
November 10th, 2009 at 6:17 am
jadi ingat pesan Mario Teguh dl Golden Ways “diam tak selamanya emas”
# bicaralah untuk peningkatan nilai, jika tdk bisa diam lebih baik
# kita bernilai bagi orang lain jika bicara kita membawa penyelesaian masalah
# jika harus diam, maka diamlah dengan hormat
# diamlah untuk berpikir jangan bicara untuk berpikir
[Reply]