rumah berbagi para pencari hikmah
Sebuah lukisan kaligrafi menghiasi dinding ruang kelas Madrasah ‘Aliyah Negeri (MAN). Adakah yang aneh? Tak ada, bukan? Itulah yang saya perhatikan pagi hari kemarin di MAN Bangkalan yang terletak persis di depan Kantor Departemen Agama Bangkalan itu. Saya sedang mengantar istri, ibunya anak-anak, untuk sebuah urusan di sekolah ini. Dan di kelas XI IPS 2 itulah, di dekat gudang bertuliskan “Drum band”, saya temukan lukisan kaligrafi itu — saya kira hasil prakarya siswa kelas itu sendiri — dipasang menyolok di dinding paling belakang.
Hanya saja, ketika membaca penggalan ayat yang dikaligrafikan itu, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa mereka memilih ayat itu?
Kaligrafi itu menuliskan secara indah sebuah penggalan ayat Q.S. An-Nisaa’: 19,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“… dan bergaullah dengan mereka (isteri-isterimu) secara patut (ma’ruf) …”
Tentu saja menarik — buat saya setidaknya — mengetahui latar belakang mengapa mereka memilih ayat bagaimana memperlakukan isteri (-isteri) secara ma’ruf? Sementara mereka adalah anak-anak yang sedang duduk di kelas XI, setingkat anak-anak SMA. Sayangnya hari Sabtu itu mereka diliburkan, karena sekolah mereka sedang dipakai untuk keperluan ujian oleh pemkot setempat, sehingga tak seorangpun dapat saya mintai keterangan.
Saya tidak yakin ayat itu mereka ambil begitu saja hanya karena sering mereka dengar pada taushiyah dalam acara perkawinan. Saya yakin, ayat itu dipilih mereka dengan sadar sesadar-sadarnya. Apakah telah berkembang di sekolah (MAN) itu sebuah kurikulum yang memberikan bekal kepada para siswa untuk masa ketika mereka kelak memasuki pintu gerbang rumah tangga? Apakah karena angka pernikahan dini yang memang tinggi di Pulau Garam itu (60 persen?), sehingga mereka perlu dibekali sejak dini pula (ketika mereka masih SMA tingkat pertama)? Atau justru karena kasus KDRT sangat tinggi di sana, sehingga dunia pendidikan mereka merasa perlu memberikan “peringatan dini” terutama kepada para calon suami — senyampang kini masih SMA — untuk bergaul dengan isteri mereka kelak dengan baik?
Apapunlah. Tetapi saya sangat setuju apabila di SMA diberikan semacam bekal memasuki rumah tangga; tidak hanya soal pendidikan tentang seks — yang sering dibicarakan orang sebagai hal yang sangat perlu — tetapi juga soal bagaimana berumah tangga yang baik supaya bisa membentuk keluarga yang sakinah. Bukankah belum pernah kita temukan sebuah sekolah atau kursus bagaimana menjadi suami, isteri, ataupun menjadi orang tua yang baik? Bukankah kita menjadi suami atau isteri “begitu saja” seperti takdir yang runtuh dari langit. Bukankah persiapan sebagian besar kita memasuki gerbang suci itu kebanyakan dari sudut materi saja? Sudah bekerja, mapan, punya rumah, punya warisan, punya dana untuk pesta pernikahan, …. Bukankah kita belajar menjadi suami atau isteri atau orang tua ya ketika kita “sudah kadung menjadi” suami, isteri atau orang tua itu? Belajar secara autodidak bahasa kerennya, yang padahal artinya “trial and error” — coba-coba dan sekian kali salah melulu. Ketika kita kemudian mahir urusan itu — karena pengalaman hidup, umur kita sudah kepalang tinggal menghitung hari.
Karena itu, kaligrafi bersahaja itu mengingatkan saya betapa pentingnya membekali anak-anak pranikah dengan bekal sebaik-baiknya. Tak bisa trial and error seperti apa yang sudah kita — saya dan Anda yang sudah menikah dan punya anak — lakukan. ‘Buat anak’ jangan coba-coba, ya nggak? Bagaimanapun keluarga adalah pilar utama tegaknya sebuah umat, sebuah bangsa, sebuah negara. Keluarga yang harmonis adalah penopang terwujudnya negara yang harmonis. Negara yang korup berangkat dari keluarga-keluarga yang amburadul juga.
Nah, bagaimana jika kita buat sebuah komunitas untuk turut serta membangun bangsa ini ke depan agar menjadi lebih baik dimulai dengan bagaimana membangun keluarga, yakni dengan memperlakukan suami atau isteri dan anggota keluarga lainnya dengan ma’ruf, sebagaimana semangat ayat itu? Bentuknya mungkin bisa sharing pengalaman, contoh, ataupun taushiyah-taushiyah dari beliau-beliau yang mumpuni di bidang pembangunan keluarga asmara (as-Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Semacam e-Learning khusus persoalan berumah tangga, mulai pranikah hingga bagaimana membina anak-anak.
Ayo, ada yang mau menyambutnya? Daftar di komentar posting ini dan/atau ikuti polling pendapat di sidebar blog ini (atau sekarang saya cantumkan di bawah ini pula). Kalau banyak yang menyambut, katakanlah 100 dari Anda setuju, saya bersedia membuatkan website khusus untuk itu. Anda juga boleh menyampaikan jika barangkali komunitas maya semacam itu sudah ada di internet, sehingga kita tak perlu susah-susah membuatnya. Cukup kita bergabung yang sudah ada saja.
Saya tunggu hingga akhir tahun ini, ya? Hasil polling sementaranya, klik di halaman Polling ini.
Wallahu a’lam.
***
Abi Sabila
November 24th, 2009 at 12:26 pm
Saya ikut pak, saya dukung!
[Reply]
ummu najwa
November 25th, 2009 at 8:06 pm
setuju! 100%… tapi alangkah baiknya ada yang berkaitan dengan mempersiapkan anak menuju baligh. sepertinya banyak orangtua yang sadar terlambat dan terkejut ketika ternyata anaknya sudah masuk usia baligh. tanpa persiapan….
[Reply]