rumah berbagi para pencari hikmah
Banyak omong belum tentu berilmu. Semakin banyak omong, semakin banyak bolong. Semakin banyak salah. Apalagi jika tak dilandasi ilmu.
Karena itu, jika tak bisa ngomong yang baik-baik, maka diam adalah emas. Diam pastilah lebih baik. Dan ingatlah masa lalu kita. Mas Ali Ridho Barakbah mengingatkan saya dan kita semua pada masa lalu itu, yakni ketika awal-awal kita belajar berbicara. Harusnya kita malu jika menyaksikan kembali rekamannya di bawah ini.
***
Lukie
November 10th, 2009 at 7:57 am
Waaa ada connections somehow dgn apa yg ada di kepalaku…, tetapi masih ada perdebatan di kepala sampai saat ini - tapi bisa jadi untuk didiskusikan…
Sering aku merasa disekitar kita orang memberikan opini disertai argumen argumen yang sounds so right…
Dengan azas berbaik sangka, pendengar bisa saja mendengar, defragmentasi dengan data data lain, menganalisa, dan menyimpulkan. Manusia belajar sepanjang hayatnya, dan tidak menutup kemungkinan apa yg ia simpulkan di masa lalunya berbeda dengan saat ini dengan simpangan yang cukup significant.
Lalu, dimanakah posisi “penyimpulan” sementara setiap orang akan suatu masalah ?
Pada kenyataannya sering seseorang terpengaruh/terhanyut atas pendapat orang lain. Jika ‘gelombang’ akan suatu pendapat ini kemudian diyakini kebenarannya oleh banyak orang, sementara cenderung orang berpikir bahwa kebenaran itu ada di pendapat banyak orang, maka menjadi sesuatu ‘kekuatan’ yang dasyat.
Jika memang benar, maka subhanallah inilah dakwah yang paling sukses, namun apa jadinya jika sebaliknya ?
Lebih baik diam jika tidak memahami.. Tapi, kapan kita tahu kita lebih paham dari orang lain ?
Apakah membiarkan hal yang berbeda dgn pikiran kita serta menyimpan argumentasi kita adalah lebih baik ?
Seorang teman pernah berkata : ‘paling tidak serukan ketidak setujuan mu jika kamu melihatnya’
Celakanya saya sering merasa, bahwa orang lebih mudah menyalahkan kasus yg sungguh jauh diluar jangkauan tangannya (tentusaja dengan data lebih sedikit dibandngkan kasus kasus disekitarnya), dan justru saat kasus itu ada di sekitar kita maka kita tak bisa menjadi tegas karena kita tahu lebih detail serta selalu menemukan justifikasi untuk tidak bisa bersikap tegas…. Astaghfirullah….
Sangat prihatin dengan begitu banyak pihak-pihak yang kurang berkompeten yang menyudutkan di banyak media Indonesia saat ini yang didengar dan mempengaruhi opini publik…
[Reply]
bahtiarhs Reply:
November 11th, 2009 at 5:39 am
Hey, sungguh menarik sudut pandangmu, teman. Satu hal yang sering kita alami, dan kita terombang-ambing di dalamnya.
Di dalam bahasa agama, ada persoalan yang sifatnya qath’iy (pasti) dan ada yang sifatnya zhonniy (sangkaan). Yang pasti, tentu tak ada penakwilan dan tak perlu ada tafsir lain; sehingga harusnya semua pendapat seperti anak sungai yang semuanya bermuara pada laut yang sama.
Tetapi untuk yang zhonniy, ada ruang penafsiran di sana. Itu berarti, ada ruang untuk berbeda. Memang ada yang berkeyakinan, meski multi-tafsir, kita harusnya ikut pendapat paling kuat. Tetapi, bukankah pendapat yang tidak kuat juga sebenarnya bukan pendapat yang salah? Jadi, tak mengapa, kata sebagian yang lain, ikut pendapat minoritas. Toh pendapat kuat-lemah itu juga relatif untuk tiap orang. Kita sudah menyaksikan pergumulan ini dalam masa yang sangat lama. Bahkan cenderung memperlemah ikatan persaudaraan diantara kita.
Saya kira titik simpul itu ada di sini. Ada yang tegas harus satu pendapat, krn memang tak mungkin ada kemungkinan berbilang. Tetapi dalam hal lain, yang porsinya jauh lebih banyak, kita bisa berbeda pegangan. Untuk yang kedua ini, saya sependapat dengan Kang Jalal, untuk “mendahulukan akhlaq di atas fiqih.” Kalau hanya persoalan pakai qunut atau tidak, kita tak perlu mengeluarkan pedang dari sarungnya. Ya nggak? Krn justru pertikaian itu (akhlaq) lebih dilarang daripada sekedar berbeda qunut (fikih).
Implementasi pada hal2 yang Lukie bidik di atas, maka diam itu menjadi “dosa” jika dilakukan terhadap adanya pendapat atau perbuatan yang keliru pada persoalan yang qoth’iy. Rasul menganjurkan “perang” terhadap kemungkaran, baik dgn tangan (kekuasaan), mulut (nasihat), atau setidaknya doa kita. Ketiganya adalah bentuk “ketidakdiaman” kita terhadap hal pokok yang dilanggar. Bahkan jika kita diam, keberimanan kita menjadi taruhan.
Yang terjadi sering kebalikannya. Kita selalu menemukan justifikasi untuk tidak bertindak, dalam bahasa Lukie, untuk sesuatu yang sebenarnya dalam jangkauan tangan kita, dan itu sebenarnya hal yang pokok, yang kita tak boleh mengambil sikap diam. Justru pada hal2 yang debatable, multi-tafsir, yang harusnya kita lebih banyak diam, eh, malah kita banyak omong. Ujung2nya sering hanya supaya eksistensi kita terlihat oleh banyak orang, agar periode mendatang terpilih lagi.
RDP Komisi III DPR dengan Kapolri soal rekaman kemarin bisa jadi contoh kasus, dimana yang terlihat benar di mata publik boleh jadi malah sebaliknya. Krn kebenaran itu sebenarnya simple, yakni “ma athma’anna bihi al-qalb”; apa2 yg hati itu tentram dengannya. Bukankah rekaman itu sudah “terang benderang”?
Ah, sudahlah. Kalau aku teruskan, takut jatuh pada tulisanku sendiri: banyak omong tapi kosong melompong. Ttp yang sedikit ini, meski tidak memadai, semoga bisa menjadi bahan berbagi sudut pandang.
Thanks sharingnya yang menginspirasi.
[Reply]
Reza
November 10th, 2009 at 4:09 pm
setuju mas…
kita dah digiring oleh orang2 yg sebenernya blm tentu kita tau kompetensi dan kapabilitasnya…
kita lebih baik diam dan jangan menghakimi org dulu…lebih baik berdoa aja gitu..hehehe
[Reply]
bahtiarhs Reply:
November 11th, 2009 at 5:44 am
Mas Reza, benar mas. Tapi kadang diam itu juga kurang tepat untuk persoalan tertentu. Dan berdoa saja tidak cukup, krn ia selemah2 iman. Jadi, harus pintar2 kita menempatkan diri dan mengambil sikap.
Thanks apresiasinya. Jangan bosan berada di gubug sederhana ini.
[Reply]
Yanwar Pro
November 13th, 2009 at 11:25 am
Kita tidak pernah akan tahu apa yang ditulis Tuhan di langit untuk kita. Kitalah yang akan menuliskannya sendiri, siapa diri ini. Lidah tak bertulang, setidaknya berbicara yang perlu untuk dikatakan. Karena lidah adalah harimaumu, sewaktu-waktu ia akan menerkammu dalam ketidaksadaranmu.
Alam semesta (Tuhan) hanya mengapresiasi apa yang ada dalam hati kita dan bukan omongan kita yang sering kali melencong dengan hati/pikiran kita. Thought becomes things itulah yang akan terjadi.
Bukankah cinta ketemunya hati dengan hati? Ketika hati sudah berbicara, omongan sebesar lautan tidak akan terasa. Ketika mulut sudah tidak mencapai esensinya dan fungsionalnya, tunggulah akibatnya.
Kita boleh saja berbicara ngalor-ngidul tentang bermacam-macam hal, tapi semua tidak berarti ketika realita sudah berbicara.
Berbicara harus sesuai fakta, karena 100 saksi tidak cukup untuk menjadi bukti! Seratus orang ngomong, tidak akan cukup untuk menjadi bukti seseorang melakukan kesalahan.
[Reply]