rumah berbagi para pencari hikmah
Sejak penampilannya di Pesta Blogger 2009 Oktober lalu, saya tak pernah mendengar berita lagi tentang Prita Mulyasari. Saya menduga kasusnya sudah selesai, begitu ia dibebaskan setelah mendekam 21 hari di tahanan. Karena toh kasus BLBI yang trilyunan rupiah pun, yang dulu sempat heboh, kini juga sudah tidak ada kabarnya lagi.
Tetapi rupanya saya salah sangka.
Kita kemudian tahu, pertengahan November lalu, Prita akhirnya dituntut 6 bulan penjara (dari tuntutan semula 6 tahun) oleh JPU. Tidak itu saja. RS Omni Internasional Tangerang Banten ternyata juga mengadukan Prita secara perdata ke pengadilan, yang lalu menjatuhkan vonis kepada ibu rumah tangga dengan dua anak balita itu untuk membayar ganti rugi 204 juta rupiah atas pencemaran nama baik yang dilakukannya kepada RS Omni. Ini namanya, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kian tak masuk akal ketika pada mulanya ternyata RS Omni meminta ganti rugi kepada ibu muda ini 300 milyar rupiah. MILYAR! Bukan juta rupiah!
Lalu timbullah aksi peduli ini. KOIN UNTUK PRITA; yang lalu tersebar cepat di media maya — dan juga di masyarakat luas seperti snow ball alias bola salju liar. Langkah gerakan sosial membantu Prita membayar ganti rugi itu dilakukan dengan mengumpulkan koin receh, yang untuk memenuhi ganti rugi Prita diperlukan koin receh tak kurang dari 2,5 ton! Uang itu rencananya akan diserahkan kepada Prita, yang lalu akan diserahkan kepada RS Omni apa adanya! Ya, apa adanya recehan begitu.
Anda bisa mengikuti perkembangan kegiatan penggalangan dana rakyat ini pada website Koin Keadilan. Anda juga bisa mencari tahu dimana saja Posko untuk ikut menyumbangkan receh Anda pada aksi sosial ini. Anda, bahkan anak-anak Anda semua bisa turut berpartisipasi dalam kegiatan amal ini. Catat batas waktunya: tanggal 14 Desember 2009.
***
Saya hanya membayangkan; bagaimana pihak RS Omni nanti menerima berkarung uang receh ini dari Prita. Bayangkan! 2,5 ton dalam bentuk koin recehan!
Tetapi bukan itu yang sebenarnya lebih menarik dalam kasus ini. Coba perhatikan! Koin-koin itu disumbangkan oleh segenap lapisan masyarakat; dari pejabat hingga rakyat kecil seperti pemulung yang bersimpati pada kasus yang menimpa Prita, dari anak-anak TK-SD hingga DPR, dari orang-orang jalanan hingga orang-orang kantoran. Siapa saja, yang sebagian besar dari mereka justru adalah orang-orang kecil, mereka yang kurang ‘beruntung’ di negeri ini.
Melihat fenomena ini, maka uang receh tersebut menjadi bermakna ganda. Selain memang untuk membayar kerugian material dan immaterial sebagaimana tuntutan RS Omni kepada Prita, juga sekaligus tamparan dan protes masyarakat secara simbolis kepada institusi publik itu atas apa yang telah dilakukannya terhadap rakyat kecil semacam Prita. Bahkan juga pukulan berat terhadap institusi pengadilan.
Namun alih-alih malu atau enggan menerima uang dalam bentuk itu, malam ini, diantara macetnya lalu lintas di jalan Sudirman menuju bundaran HI menjelang aksi Gerakan Indonesia Bersih esok hari, 9 Desember 2009, dari siaran radio mobil yang kami kendarai, kami mendengar kabar bahwa RS Omni memandang uang receh sekalipun yang sedang dikumpulkan para aktivis KOIN UNTUK PRITA itu sebagai “alat pembayaran yang sah” juga. Presenter radio itu bahkan sampai tertawa tertahan sembari bilang: “O o, no comment” terhadap pernyataan itu.
Bagaimana halnya tanggapan RS Omni terhadap aksi koin peduli Prita? “(Dukungan) itu hanyalah opini publik,” kata mereka. Olala! Saya tak mau banyak cakap lagi. Takuuuut menjadi Prita kedua!
***
Keterangan.
Sumber gambar: koinkeadilan.com
aansetia
December 9th, 2009 at 8:23 am
wah-wah pihak2 tersebut pasti juga malu pak.. secara tidak langsung malah membuat RS Omni dan institusi pengadilan malah tambah jelek namanya. Emang sanggup nuntun jutaan orang!!!
Mudah2an para elit politik tidak hanya menyumbangkan koin saja, tapi juga melawan ketidakadilan lewat jalur politik juga.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
December 10th, 2009 at 5:04 am
memang ruwet mas kayaknya persoalan prita ini. masing-masing blm kata sepakat. kiranya ujung masalahnya, menurut saya, adalah kurangnya informasi yang disampaikan pihak RS (dlm hal ini dokter yang merawat prita) ketika pasien ini mengalami hal2 yang menurut dia mengkhawatirkan. jika ini pada awalnya clear, saya kira tak akan ada masalah spt ini.
intinya: pelayanan, pelayanan, pelayanan.
[Reply]
Abi Sabila
December 11th, 2009 at 12:56 pm
terkadang para medis lupa bahwa bahasa medis mereka tak bisa ( tidak mudah ) dipahami para pasien yang awam. semestinya para dokter atau pihak rumah sakit memberikan informasi dengan bahasa dan penjelasan yang bisa diterima oleh pihak pasien, sehingga tidak terjadi mis komunikasi.
satu lagi, sepertinya peradilan di negara kita sedang ‘ditampakan’ ketidak adilannya, wallohu alam yang jelas ini bisa jadi sebuah pertanda bahwa negara kita harus segera berbenah
[Reply]
bahtiarhs Reply:
December 16th, 2009 at 2:29 am
lebih dari itu, mas. harusnya terjadi perubahan paradigma, bahwa paramedis itu pada hakekatnya adalah pekerjaan yang lebih banyak porsi “pengabdian”-nya ketimbang komersilnya. bahwa mereka adalah “kepanjangan tangan” Tuhan sebagai Sang Penyembuh di muka bumi untuk membuat pasiennya lepas dari derita sakit.
dengan paradigma ini, maka (1) paramedis harus mengutamakan kepentingan pasien sbg manifestasi pengabdiannya. bukankah dlm sumpah dokter terkandung amanah itu, bahwa seorang paramedis hrs siap jika diperlukan pasien — kaya atau miskin, jam berapapun itu? (2) tidak layak paramedis menarget ongkos atas pelayanannya; krn penyembuh yang sesungguhnya bukanlah dirinya, melainkan Tuhan. enak benar mereka, yang tak sebenar-benar menyembuhkan tetapi menerima upah dari pasiennya? bahkan upah itu mereka “tentukan” besarnya.
tetapi pada jaman edan kayak begini, sangat sedikit paramedis berparadigma spt itu. sekolahnya aja mahal. ketika jadi PNS, di bbrp tempat, bayar “uang keterima”-nya juga paling mahal. 100 juta mas! lha dapat dari mana uang segitu banyak? ya dari pasiennya. na’udzubillahi min dzalik!
[Reply]
Nurhadi
December 11th, 2009 at 2:20 pm
Hmm…pancet ruwet ini pak. Sy juga sempet kaget, tak kira sudah selesai..lho kok sekarang makin rame.
Tapi yang jelas, kuncinya sebenarnya di OMNI…bagaimanapun juga mereka itu perusahaan service….pelayanan tetap harus dinomersatukan. Jika bisa diselesaikan dengan cara simple…kenapa mesti yang lama dan berlarut…bahkan sekarang OMNI sudah kehilangan “muka”.
OMNI terkenal…tapi kok yakin, pelanggannya akan berkurang. Tunggu saja (Ngancam mode!)
[Reply]
bahtiarhs Reply:
December 16th, 2009 at 2:45 am
ya, benar mas. saya kira, mereka akan akan ambruk krn kesombongannya. cepat atau lambat. saya juga terhenyak ketika mereka ditanya bgmn reaksinya atas gerakan koin untuk prita mereka menjawab bahwa itu sangat baik, dan bukankah uang receh juga uang yang sah sebagai alat pembayaran di Indonesia. ha? sebegitu “rakusnya”-kah? apa nurani mereka tidak menangkap sedikitpun “aura” gerakan itu sebagai gerakan masyarakat melawan kesewenang2an sebuah institusi yang harusnya memberikan pelayanan kepada masyarakat?
terus terang, saya tak habis mengerti.
[Reply]