Surga atau NerakaIni perbincangan dengan seorang teman, dalam sebuah taksi yang tengah melaju malam kemarin dari Soekarno-Hatta menuju kawasan Cempaka Emas. Kami berbincang tentang warisan. Ya, lebih tepatnya “al-waaritsun” (orang-orang yang akan mewarisi), yakni mewarisi syurga Firdaus, sebagaimana disinyalir Allah swt. dalam firman-Nya:

أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ـ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mu’minun: 10-11)

Mengapa Allah menggunakan kata “al-waaritsun” atau “yaritsuuna” yang maknanya berhubungan dengan “warisan”? Apakah mereka, orang-orang mukmin itu, memang sudah memiliki “sesuatu” di dalam syurga hingga berhak “mewarisinya”?

Ternyata memang ketika diciptakan dulu, masing-masing kita telah disiapkan dua rumah tempat tinggal oleh Allah swt. Satu di syurga. Satu di neraka. Nabi Muhammad saw. pernah bersabda dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra.,

“Sesungguhnya Allah swt. memberikan kepada setiap manusia sebuah tempat tinggal di surga dan sebuah tempat tinggal di neraka. Adapun orang-orang yang beriman selain mengambil tempat tinggal mereka sendiri, mereka juga mewarisi tempat tinggal orang-orang kafir. Allah memberikan kepada orang-orang kafir tempat tinggal mereka di neraka.”

Terlihat dari hadits ini bahwa ketika kelak orang-orang mukmin memasuki syurga, mereka tidak saja mendapatkan rumah tempat tinggal yang telah disiapkan untuknya di syurga itu, melainkan juga mendapatkan rumah yang tidak dihuni orang-orang kafir, karena orang-orang tersebut mengambil tempat tinggalnya di dalam neraka. Jadi orang-orang mukmin “mewarisi” tempat tinggal orang-orang kafir di dalam syurga yang mereka tinggalkan.

“Disiapkannya dua tempat tinggal ini bagi setiap orang, yakni di dalam syurga maupun neraka,” kata teman seperjalanan saya, “menunjukkan bahwa sejak awal Allah itu membebaskan kita untuk memilih tempat tinggal kita kelak: apakah yang berada di syurga ataukah di neraka.”

Ya, benar juga, pikir saya. Ini senada dengan firman Allah, bahwa Dia telah memberikan dua jalan kepada kita: al-fujur (kefasikan) dan at-taqwa (ketakwaan) (QS. Asy-Syams: 8). Terserah kita mau memilih yang mana. Tetapi indikatornya jelas: sungguh beruntung mereka yang memilih jalan takwa (man zakkaaha), dan sungguh celaka mereka yang memilih jalan kefasikan (man dassaaha).

Jadi sungguh aneh jika ada orang yang keliru memilih. Ibaratnya jalannya itu sudah jelas-jelas ditunjukkan, bahkan ditunjukkan pula akibat akhirnya nanti jika melewati setiap jalan itu. Kalau demikian, sebenarnya ya tidak ada pilihan lain; dan kalau ada yang memilih jalan yang salah, betapa bodohnya mereka? Mereka akan kehilangan rumah yang telah disiapkan di syurga, hingga diwariskan kepada orang-orang yang telah memilih jalan yang benar.

Di dalam hadits lain, riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra., Nabi saw. bersabda,

“Setiap orang dari kalian mempunyai dua tempat tinggal; satu tempat tinggal berada di surga, dan satu tempat tinggal lagi berada di neraka. Apabila ia meninggal dunia dan masuk neraka, ia mewariskan tempat tinggalnya di surga kepada penghuni surga.”

Apakah orang-orang yang masuk neraka “mewarisi” juga tempat tinggal penduduk syurga yang tidak diambilnya di neraka? Teman seperjalanan saya cuma tersenyum dan menggeleng mendengar pertanyaan ini.

Saya belum menemukan ayat atau keterangan tentang hal ini. Hanya saja, Mahir Ahmad Asy-Syufiy dalam bukunya Surga Kenikmatan yang Kekal (Tiga Serangkai, 2007), menulis bahwa dalam menafsirkan ayat QS. Al-Mu’minun: 10-11 itu, Ibnu Katsir menyitir sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim di bawah ini,

“Tak seorangpun dari manusia yang telah diciptakan Allah swt. melainkan ia telah disiapkan dua tempat atau dua posisi. Satu tempat berada di syurga, sedangkan yang lain berada di neraka. Orang-orang akan ditetapkan bangunan rumahnya di syurga, sedangkan bangunan rumahnya di neraka dirobohkan.”

Jika sinyalemen ini benar, maka orang-orang yang masuk neraka hanya akan mendapatkan tempat tinggal yang disiapkan untuknya, dan tidak mewarisi tempat tinggal yang tidak diambil orang-orang yang masuk syurga. Dalam hadits di atas disebutkan bahwa rumah-rumah itu dirobohkan.

“Itu berarti,” kata saya pada teman seperjalanan itu, “Allah begitu sayang kepada orang-orang mukmin dengan mewariskan kepada mereka rumah-rumah yang tidak diambil di syurga. Tetapi, kasih sayang Allah tidak lantas berkurang ketika di neraka, orang-orang yang masuk ke sana hanya akan diberikan rumah tempat tinggal mereka yang telah disiapkan sebelumnya dan tidak menerima warisan rumah-rumah yang ditinggalkan penduduk syurga, karena rumah-rumah itu dirobohkan.”

Teman saya tersenyum lebar. Tidak menggeleng, meski juga tidak mengangguk-angguk.

Lalu saya mencari tahu lebih banyak. Dan ternyata menurut Ibnu Katsir, orang-orang mukmin kelak tidak saja mewarisi rumah tempat tinggal orang-orang kafir yang masuk neraka, tetapi juga seluruh pasangan mereka!! Untuk ini, Ibnu Katsir menyitir sebuah hadits dari Abu Umamah riwayat Ibnu Majah, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,

“Tak seorangpun yang dimasukkan ke dalam syurga oleh Allah swt. kecuali akan diberi tujuh puluh dua isteri. Dua isteri dari golongan bidadari dan tujuh puluh isteri dari (pasangan) penghuni neraka. Tidak seorangpun dari para bidadari itu melainkan ia siap melayani mereka. Begitu juga suami mereka.”

Wah, warisan tujuh puluh isteri? Siapa (nggak) mau? Apalagi Hisyam bin Khalid mengatakan, “Termasuk Fira’un, isterinya juga termasuk akan diberikan kepada ahli syurga.”

Saya harus mengakhiri posting ini, sobat. Degup jantung saya mendadak meningkat berlipat-lipat!

***

Keterangan
Sumber tulisan:
- Mahir Ahmad Asy-Syufiy. Surga Kenikmatan yang Kekal. Tiga Serangkai, 2007
- http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&cat=2&id=12109
Sumber gambar: banyak saya temukan di internet. Saya mengambil salah satunya.

Bookmark and Share