Detik demi detik berlalu. Waktu seperti beringsut sedemikian pelahan. Bisa mematikan itu pun mengalir memasuki setiap lekuk tubuhnya yang bisa dijangkau. Sakit menggigit. Perih merambat hingga ke ulu hati. Kakinya pun kebas dan ngilu seperti kehabisan darah. Namun, lelaki itu tak bergerak sedikitpun demi melihat Rasulullah saw. tidur dengan nyenyak di pangkuannya. Tiba-tiba tanpa terasa air matanya mengembang karena tak kuat menahan sakit, luruh satu demi satu melewati pipinya, lalu menetes dan memercik pada raut muka Baginda Nabi di pangkuannya.

Lelaki kinasih itupun terkejut. Ia pun terbangun. Rintih lembut dan isak tertahan itu kini terdengar di telinganya. “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?” tanyanya penuh keheranan.

Abu Bakar menjawab dengan suara tertahan, “Aku… aku digigit ular, ya Rasulullah!”

“Oh, mengapa engkau tidak mengatakannya padaku?” tanya Rasulullah sungguh.

Lelaki itu sejenak terdiam. Ia lantas menjawab, “Aku takut membangunkan engkau.”

***

Inilah kisah paling menggetarkan, setidaknya buat saya, dalam episode hijrah Baginda Nabi saw. dari Makkah ke Madinah berabad yang lampau. Sebuah kisah cinta di sebalik gua, yakni gua Tsur; cinta tertinggi yang dipertunjukkan seorang lelaki pilihan Baginda Nabi saw. Sebuah cinta yang bahkan membuat seseorang sanggup mempertaruhkan nyawanya hanya demi “nyenyaknya tidur Nabi saw.” yang ia cintai melebihi apapun.

Ust. H. Muttaqin, yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah haji, menceritakan kembali kisah hijrah tersebut pada kuliah shubuh di masjid kampung hari Ahad ini. Penceritaan beliau yang diselingi dengan sesekali menyampaikan apa yang beliau saksikan pada tempat aslinya di Makkah dan Madinah, membuat kami tanpa sadar terisak bersama. Betapa kami merindukan bertemu dengan sosok junjungan itu, sebagaimana penduduk Madinah menunggu kedatangan beliau di tanah lapang batas kota kala itu, setiap hari, dengan sepenuh kerinduan seperti menantikan kekasih yang akan datang.

Tentu kini kita tak bisa bermimpi menyediakan pangkuan kita — sebagaimana Abu Bakar ra. itu — untuk tempat tidur beliau Rasulullah saw. demi menunjukkan rasa cinta kita. Kita tak bisa pula menyambut beliau datang di sebuah kota. Kita tak bisa menyimak beliau memberikan taushiyah, yang kata para sahabat, seolah surga dihamparkan di hadapan mereka ketika itu. Tak seorangpun kecuali ingin mendapatkannya lebih dari apa yang dimilikinya di dunia. Kita pun tak lagi bisa berharap bersandingan dengannya di dunia ini, yang fisiknya digambarkan Ali bin Abi Thalib ra.,

Warna kulit Rasulullah saw. putih kemerah-merahan; matanya sangat hitam; rambut dan jenggotnya sangat lebat; halus bulu dadanya; lehernya bagai teko dari perak; dari dada atas hingga pusarnya terdapat bulu yang memanjang seperti pedang, tidak terdapat bulu lain di perut dan dadanya selain itu; telapak tangan dan kakinya tebal; bila berjalan, melakukannya dengan cepat seakan-akan menuruni sebuah bukit; bila menoleh, menoleh dengan seluruh badannya; keringatnya bagai mutiara dan baunya lebih harum dari wangi minyak kasturi; tidak tinggi dan tidak pendek; tidak berkata buruk dan jahat; tak pernah aku menjumpai orang sepertinya.

Kita tak bisa menjumpainya di dunia ini seorang yang jika kita puji, maka pujian kita tak akan memadai sedikitpun, meski pujian itu setinggi langit sekalipun. Ibnul Faridl pernah ditanya tentang hal ini, dimana beliau menjawab melalui gubahan sebuah syair,

أَرَى كُلَّ مَدْحِ فِى النَّبِيِّ مَقْصَرَا # وَإِنْ بَلَغَ المُثْنِى عَلَيْهِ وَأَكْثَرَا
إِذَااللهُ أَثْنَى بِالَّذِى هُوَ أَهْلُهُ # عَلَيْهِ فَمَا مِقْدَارُ مَاتَمْدَحُ الوَرَى؟

Aku melihat segala pujian tentang Nabi saw. terbatas,
walaupun orang yang memujinya melampaui batas dalam memujinya dan memperbanyaknya.
Jika Allah telah memuji kepadanya dengan sesuatu yang pas baginya,
maka apa kapasitas pujian yang dilakukan manusia?

Lalu, apa yang tersisa buat kita untuk mencintai Baginda Nabi saw.? Banyak yang bisa kita lakukan. Mengikuti sunnahnya misalnya. Atau setidaknya tidak meninggalkan bershalawat kepadanya, karena Abu Hurairah ra. pernah menyampaikan sebuah hadits dari Rasulullah saw.,

“Jangan jadikan makamku sebagai hari raya, dan bershalawatlah kepadaku. Karena sesungguhnya shalawatmu akan sampai kepadaku di manapun kamu berada.” ~ HR. Abu Dawud.

Mari kita perbanyak bershalawat kepadanya, semata karena kita mendambakan cintanya, dan mencintanya lebih dari siapapun sebagaimana Abu Bakar ra., meski kita tak pernah dan tak layak menyediakan pangkuan kita untuk istirahat beliau.

Allaahumma shalli wasallim ‘alaa sayyidinaa muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Shalluu ‘alaih!

***

Keterangan.
Untuk keterangan lebih rinci tentang shalawat kepada Baginda Nabi saw. bisa dibaca pada buku “Bershalawat Niscaya Selamat”, Ust. Ahmad Syarifuddin. TigaSatuTiga Publishing: Solo, Pebruari 2008.

Bookmark and Share