rumah berbagi para pencari hikmah
Surga itu bernuansa maskulin.
Sebagian orang berpendapat seperti itu, bahwa Al-Qur’an hanya menguraikan kenikmatan surgawi untuk kaum laki-laki saja. Salah satu buktinya adalah adanya iming-iming ganjaran untuk para lelaki surga berupa 70 isteri yang suci, perawan, dan berusia belia. Saya telah menuliskan tentang warisan 70 isteri ini pada posting sebelumnya. Dan posting kali ini adalah untuk menyambung pertanyaan Lukie, sahabat saya, melalui komentarnya tentang bagaimana halnya surga buat kaum hawa seperti dirinya?
Apa yang akan saya sampaikan ini adalah pemahaman saya terhadap bahasan tentang surga pada buku Perjalanan Menuju Keabadian karya Pak M. Quraish Shihab (Penerbit Lentera Hati, Oktober 2001), ditambah dengan diskusi dan bacaan lainnya. Karena itu, pemahaman saya insyaAllah benar, tetapi mungkin masih ada kelirunya. Saya berharap, Anda, para pembaca, bisa meluruskannya.
***
Dalam bukunya itu Pak Quraish menulis, kalaupun ada anggapan bahwa Al-Qur’an hanya berbicara tentang isteri-isteri yang disiapkan untuk kaum pria di dalam surga, ini tak lain bertujuan untuk memelihara rasa malu wanita yang pada dasarnya enggan dinilai berhasrat terhadap pria. Namun sebenarnya Al-Qur’an, juga As-Sunnah, menggunakan istilah-istilah gender yang sangat istimewa dan unik yang mencakup pria dan wanita.
Kata azwaj, misalnya, yang biasa diterjemahkan “isteri-isteri”. Terjemahan ini, menurut Pak Quraish, sungguh keliru. Mengapa? Karena azwaj adalah bentuk jamak dari kata zauj yang artinya “pasangan”; yang tak berkonotasi gender. Azwaj lebih tepat diartikan “pasangan-pasangan”. Dengan begitu, janji memperoleh ganjaran berupa azwaj muthahharah (QS. Al-Baqarah: 25, An-Nisa’: 57) mencakup laki-laki dan perempuan. Itu berarti, laki-laki mendapatkan “isteri-isteri” dan perempuan mendapatkan “suami-suami”. Sedangkan kata muthahharah, yang dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia diartikan “suci” (dari haid), sebenarnya bukan saja bermakna kesucian yang tak dialami laki-laki itu, melainkan mencakup juga makna suci dari noda dan dosa, suci hati dan pikiran, yang karenanya menghasilkan perhatian yang benar-benar tertuju hanya kepada pasangannya masing-masing.
Ada yang menyatakan bahwa istilah laki-laki dan perempuan itu hanyalah eksis dalam konteks dimensi fisik / jasad manusia. Secara fisik, manusia itu ada yang laki-laki dan perempuan. Pada level fisik, manusia berjenis kelamin. Namun, ketika jasad mati, ruh dicabut meninggalkan jasadnya dan kembali ke haribaan-Nya sebagaimana asalnya, maka sebenarnya pada dimensi ruh ini tak ada lagi laki-laki dan perempuan. Ruh tidak berjenis kelamin. Karenanya sungguh tepat jika Allah dalam firman-Nya terkait balasan di surga menyebut kata azwaj, sebuah kata yang merujuk pada “pasangan” yang netral terhadap jenis kelamin (yang bersifat fisik).
Itu berarti, kelak laki-laki dan wanita akan mendapatkan ganjaran yang sepadan di surga: pasangan-pasangan yang suci, yang disiapkan oleh Allah untuk mereka masing-masing.
Selain azwaj, di dalam Al-Qur’an juga kita temukan kata hur ‘in (QS. Ad-Dukhan: 54, Ath-Thur: 20, Ar-Rahman: 72, dan Al-Waqi’ah: 22). Kata itu biasa diterjemahkan “bidadari”. Kata tersebut, tulis Pak Quraish, berbentuk majemuk yang terdiri dari kata hur dan ‘in. Hur bentuk jamak dari haura dan ahwar. Uniknya, haura menunjuk jenis feminin, dan ahwar maskulin. Ini berarti kata hur yang merupakan jamak dari kedua kata itu berjenis kelamin netral. Bisa feminin, bisa maskulin. Bisa perempuan, bisa laki-laki. Dari sini saja, hur tidak tepat jika hanya diterjemahkan sebagai “bidadari” yang feminin.
Sementara ‘in merupakan bentuk jamak dari dua kata: ‘aina’ yakni yang menunjuk feminin dan ‘ain yang menunjuk maskulin. Keduanya berarti “mata yang besar dan indah”.
Jika hur terambil dari kata yang bermakna tampaknya sedikit keputihan pada mata di sela kehitamannya (yang putih sangat putih, yang hitam sangat hitam). Kata itu diartikan pula bulat atau sipit. Gabungan kedua kata itu, hur ‘in, yang keduanya bebas jenis kelamin, memberikan arti “seseorang (laki-laki maupun perempuan) yang bermata lebar dan sipit. Merekalah yang akan menjadi pasangan di surga kelak, baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Beragamnya makna kedua kata itu, tulis Pak Quraish, memberikan arti bahwa Al-Qur’an rupanya sengaja memilih kata majemuk bebas jenis kelamin itu untuk mengakomodasi segala selera keindahan, ghirah, dan kecemburuan, serta perhatian yang penuh. Bagi yang seleranya sipit, dia dapat menemukan pada kata itu. Demikian juga yang seleranya pada yang bermata lebar dan bulat. Di samping itu, siapa yang pencemburu dapat menemukan pasangannya yang sipit dalam arti majazi (tidak melihat kepada selain dirinya). Bagi yang pemanja dan menginginkan banyak perhatian, bisa mendapatkannya pasangannya yang bermata lebar dalam arti majazi (selalu terbuka dan penuh perhatian padanya).
Dari kedua penjelasan itu, maka sebagaimana laki-laki, perempuan pun akan mendapatkan pasangan yang didambakan di surga itu. Perempuan pun akan mendapatkan “bidadara” dengan sifat yang sama; suci, belia, dan perjaka.
Apakah para perempuan juga bisa mendapatkan 70 orang suami (dalam arti pasangan) sebagaimana laki-laki mendapatkan 70 isteri? Saya tak akan menjawab pertanyaan itu. Cukuplah kita percaya dan yakin pada firman Allah swt.,
“… di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS. Fushshilat: 31).
Itu berarti, para penghuni surga, termasuk para wanitanya bisa memperoleh apa yang mereka minta (eksplisit disampaikan), bahkan apa yang mereka inginkan (implisit, yang baru tercetus di dalam hati). Saya ingin pasangan sebanyak 70, ya Allah! Permintaan itu akan langsung diberi oleh Allah. Jangankan 70, bahkan 100 pun akan diberikan.
Pertanyaannya, apakah Anda, para wanita, akan meminta yang demikian ini di surga nanti?

Lukie
January 18th, 2010 at 11:40 am
bagaimana jika pintaku adalah “suamiku untukku seorang ?” apakah aku urung masuk surga ?
[Reply]
bahtiarhs Reply:
January 18th, 2010 at 12:01 pm
Kiranya ibu Lukie berkenan membaca buku Pengantin Dunia Akhirat (Ahmad Syarifuddin, Penerbit Tiga Satu Tiga, Agustus 2008). Resensinya ada di blog ini, klik tautan teratas Related Post pada posting ini. Dan Suami Masuk Surga “Bersama-sama” Isteri.
Semoga membantu.
[Reply]
bahtiarhs Reply:
January 18th, 2010 at 12:07 pm
Di dalam buku itu ada beberapa contoh dari sahabat dimana isteri mereka ingin berkumpul bersama suaminya di surga kelak. Suaminya lalu berpesan untuk tidak menikah lagi setelah ia berpulang.
Jadi, pinta seperti Bu Lukie itu wajar kok. InsyaAllah.
[Reply]
Abi Sabila
January 18th, 2010 at 12:55 pm
satu hal yang pasti bahwa kenikmatan di syurga tidaklah bisa disamakan dengan kenikmatan dunia. tak ada yang tak mungkin di sana. jadi mari kita targetkan untuk pasti memasukinya, setelah itu ‘apapun’ bisa kita dapatkan di sana.
[Reply]
ummu najwa
January 22nd, 2010 at 4:16 am
semoga Alloh melimpahkan rahmatNya sehingga saya dan suami saya beserta anak keturunan kami bisa merasakan nikmatnya surga bersama-sama. begitupun dengan saudara semua.
[Reply]